Rivando Siahaan
Rivando Siahaan karyawan swasta

Tampil sederhana dengan ketulusan,\r\nada untuk sebuah perubahan yang lebih baik dari hari ini.

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Drama Politik dan Integritas KPU

5 Maret 2017   17:20 Diperbarui: 5 Maret 2017   17:32 81 0 0

Layaknya sebuah drama yang sedang dimainkan di sebuah teater. Peran antagonis dan protagonis sedang diperlihatkan oleh kedua kubu. Petahana (ahok-djarot) layaknya seorang protagonis tokoh yang memiliki peranan penting dalam pementasan teater. Untuk menjadi tokoh utama diperlukan ketekunan dan pengalaman yang memadai. Di samping itu, tokoh protagonis merupakan pusat perhatian para penonton dan memiliki peran sentral dalam teater. Oleh sebab itu, pemeran utama dituntut untuk bermain semaksimal mungkin. Kadang-kadang, tokoh ini menuntut syarat harus pemain yang berwajah sempurna seperti berwajah tampan dan cantik. Namun, hal tersebut tidaklah mutlak, bergantung tuntutan cerita dan skenario. Tokoh protagonis biasanya memerankan watak baik, ksatria, dan pahlawan. sebagai petahana paslon 2 menjadi bahan incaran-incaran baik dari kubu lawan atau orang yang sengaja memutar-bailikkan fakta yang ada. Tetapi pasangan ini mempunyai sikap tegas yang senantiasa ditunjukkan dan layar dipertahankan.

Sedangkan paslon nomor 3 adalah tokoh antagonis yang selalu bersebrangan dengan tokoh protagonis. Tokoh yang sering menyusahkan tokoh protagonis. Tokoh ini juga bisa saja menghalangi perjuangan tokoh protagonis.
Hal ini terlihat ketika rapat pleno kemarin. Sengaja atau tidak sengaja mereka datang terlambat tanpa konfirmasi ke pihak penyelenggara pilkada. Seharusnya jika jadi pihak yang ditunggu harus melakukan klarifikasi bukan menyelonong begitu saja menganggap hal ini biasa saja. Paslon 3 yang notabene pengajar dan pengusaha harusnya bisa menerapkan ilmunya di semua hal termasuk managemen waktu. Pak anies yang seorang dosen seharusnya malu ketika datang terlambat. Jangan dosen jadi meniru mahasiswa yang selalu ditunggu dosennya di ruangan kuliah. Pak sandi seorang bisnisman yg tersohor biasa berlabel "Time is money". Telat sedikit klien hilang. Ternyata semua hanya jargon dan teori.

Terakhir pihak KPU adalah tokoh tritagonis. Tokoh ini adalah peran yang menjadi penengah dan pendamai antara peran protagonis dan antagonis. Peran ini biasanya berwatak kalem, sederhana, berwibawa, bijaksana, dan memiliki wawasan yang luas. Tetapi kenyataannya jauh dari jangkauan memiliki sikap acuh tak acuh, berusaha membalikkan fakta yang ada tanpa mau bertanya dahulu. Hal ini tampak saat pilkada DKI jakarta putaran 1. Ada wilayah yang mengadakan pemilihan ulang karena mengganggap pihak KPPS tidak kompeten menyelenggarakan pemilihan. Padahal kan informasi berasal dari KPU. Hal kedua terjadi di malam rapat pleno kemaren menyalahkan pihak ahok-djarot yang tidak konsisten berada di ruangannya sehingga terjadi miss komunikasi. Alasan klasik semuanya kan bisa dipantau dari CCTV dan pihak djarot juga lewat dari lobi utama bukan lewat jalan belakang.

Ketua KPU harus segera di evaluasi agar demokrasi dapat berjalan dengan jujur, adil, bebas dan rahasia. Integritasnya harus dipertanyakan. Ini untuk masa depan masyarakat orang banyak.