Mohon tunggu...
riap windhu
riap windhu Mohon Tunggu... Sales - Perempuan yang suka membaca dan menulis

Menulis untuk kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Perempuan dan BBM, Dua Sisi yang Selalu Bertemu

2 September 2017   23:00 Diperbarui: 7 November 2017   15:17 1143
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Saat pertama kali konversi minyak tanah ke BBM banyak yang kaget, terutama ibu-ibu. Saat ini, bahkan penjual gerobak pun terbiasa memakai tabung gas melon (dokpri)

"On my own I will just create, and if it works, it works, and if it doesn't, I'll create something else.

 I don't have any limitations on what I think I could do or be."

 -- Oprah Winfrey--


Keren ! Biasanya itu yang langsung terlintas dalam pikiran saya saat membaca artikel atau menonton tayangan televisi, yang mengupas kemampuan perempuan  menembus batas. Mencapai suatu posisi karir yang seringkali dianggap orang suatu yang tidak mungkin atau belum pernah dicapai oleh perempuan manapun. Menjadi pendobrak. Menjadi yang mengawali.

Dari para perempuan hebat, saya akan memperoleh inspirasi. Kekaguman muncul. Membangkitkan semangat untuk terus memperjuangkan yang diinginkan hingga berhasil. Menjadi yakin tidak akan ada yang bisa membatasi kecuali diri sendiri.

Itu pula yang saya rasakan saat membaca artikel yang banyak ditulis di berbagai media tentang adanya seorang perempuan muda Kapten Agustin Fitriyah (35), nakhoda wanita pertama Indonesia kapal tanker Pertamina.

Wah, hebatnya. Bekerja di sebuah bidang yang dianggap maskulin bagi masyarakat Indonesia.  Tidak mainstream, kalau mau disebut begitu, seperti yang teman-teman saya bilang. Kapten Agustin menjadi perempuan yang mampu berkiprah dan menjelajah samudera, di saat perempuan lain bisa jadi tak sempat berpikir atau berkeinginan ke arah sana.

Perempuan ini menahkodai kapal yang memiliki anak buah kapal mayoritas para laki-laki. Sudah pasti, tak hanya sekedar kecerdasan dan kemampuan mengerjakan tugas. Kemampuan memimpin pun pasti dimilikinya.

Kapten Agustin Fitriyah, perempuan nahkoda kapal tanker pertama di Pertamina (www.kompasiana.com/nurhasanah2003)
Kapten Agustin Fitriyah, perempuan nahkoda kapal tanker pertama di Pertamina (www.kompasiana.com/nurhasanah2003)
Berdasarkan data Pertamina tahun 2017, jumlah perwira kapal  dalam distribusi energi adalah 1067 (pria) dan 42 (wanita). Kru kapal selain perwira sebanyak 1637 pria dan tidak ada perempuannya. Jadi, nggak salah kan kalau saya bilang wow banget, untuk kiprah perempuan penjelajah samudera ini.

Kapten Agustin menjadi nakhoda kapal tanker menjawab tantangan Karen Agustiawan, perempuan yang menjadi Dirut Pertamina saat itu. Satu-satunya dirut perempuan yang pernah menjabat di BUMN energi Pertamina.

Namun, satu hal yang membuat saya lebih kagum lagi adalah tugas yang harus dilakukan Kapten Agustin. Dengan kapal tanker MT Merbau yang dinakhodainya, Agustin yang bekerja di Pertamina sejak tahun 2007, membawa 3.500 ton DWT (Deadweight Tonnage) alias total total bobot yang dapat ditampung kapal untuk membuat kapal terbenam sampai batas yang diizinkan. Muatannya mencapai 4.000 kiloliter.

Agustin mengangkut ribuan liter bahan bakar minyak (BBM) untuk didistribusikan hingga ke sudut-sudut pulau di wilayah Indonesia.  BBM memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, tak terkecuali hingga daerah yang ada di seluruh Indonesia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun