Mohon tunggu...
Rian Andini
Rian Andini Mohon Tunggu... Emak Blogger

rianandini999.blogspot.com resensiriri.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Harlequin yang Lestari sampai Nanti

20 April 2020   10:02 Diperbarui: 20 April 2020   10:24 22 1 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Harlequin yang Lestari sampai Nanti
pixabay.com

Novel terbitan Harlequin memang selalu mengundang cibiran karena punya plot cerita yang murahan. Saya juga termasuk orang yang dulunya sering mencibir, walau akhirnya setelah coba-coba malah jadi ketagihan. Memang kok, cinta dan benci itu bedanya tipis. 

Buat yang belum tahu, novel Harlequin adalah novel cinta yang isinya rata-rata serupa, yakni tentang tokoh utama yang kuat namun cacat akhlak, lalu dipertemukan dengan tokoh perempuan yang lemah namun memiliki akhlakul karimah. Meski awalnya saling membenci, namun seiring berjalannya waktu, mereka akhirnya saling mencintai dan memiliki akhir cerita yang bahagia sehidup semati.

Kalau dicermati, pola cerita begini juga memiliki kemiripan dengan beberapa cerita di drama Korea. Lihat saja Meteor Garden yang bahkan sudah di-remake sampai tiga kali karena selalu sukses mendapatkan tempat di hati para wanita. Padahal, cerita Meteor Garden ya begitu-begitu saja, tidak ada yang berubah. 

Secara singkat, inti ceritanya adalah tentang seorang lelaki kaya raya yang punya kehidupan menyedihkan karena tak pernah mendapat perhatian keluarganya. Si tokoh utama ini tumbuh dengan bertingkah laku seenaknya dan punya kelakuan macam telek pitik. Lalu ketika takdir akhirnya membuat ia jatuh cinta, kok ya sukanya malahan sama gadis antah berantah yang misquen, sehingga kisah cintanya akan terbentur konflik perbedaan kasta.

Seiring berjalannya waktu, si tokoh laki-laki akan ditempa seribu penderitaan cinta, sehingga dirinya berubah menjadi baik hati karena pengaruh tokoh wanita yang memiliki akhlakul karimah namun misquen itu. Akhirnya, mereka menikah dan hidup bahagia. Bagian di masa mereka punya anak dan bertengkar karena hutang KPR disensor sutradara, tak ditunjukkan kepada masyarakat.

Dengan plot yang sebegitu sederhananya, sudah wajar bahwa banyak  sering mendiskreditkan perempuan yang menikmati cerita cinta semacam ini. Padahal ya, kaum lelaki itu belum tahu saja bahwa kisah cinta seperti ini punya banyak manfaat. 

Buat kebanyakan perempuan, kisah cinta yang dibuat para kapitalis itu semacam oase di tengah kegersangan realitas, ibarat game PES buat para cowok, dan ibarat es Viennetta di masa-masa lockdown. Keberadaanya adalah sebuah penyegaran dari segala kejenuhan. 

Para perempuan juga pastinya sadar kok bahwa tidak ada sosok laki-laki dalam kehidupan nyata yang bisa punya tampang ganteng, kaya, dan baik hati, yang bisa mencintai satu orang sampai mati. 

Saya sebagai perempuan pun sebenarnya juga nggak nyaman jika dicintai, digombalin, dan dikuntit berlebihan. Apalagi, sampai mengalami ciuman secara diam-diam, mendadak, atau yang paling parah secara memaksa yang sering ada di dalam kisah-kisah roman. Percayalah, itu adalah bagian dari pelecehan yang akan segera laporkan ke pihak yang berwajib.

Para perempuan itu sejatinya sederhana, hanya butuh dipuji setiap hari. Dipuji masakannya meski keasinan; dipuji kecantikannya meski pas-pasan; dipuji langsing meski itu bohong. Satu-satunya kebohongan yang disukai wanita adalah pujian-pujian palsu nan sederhana seperti ini. 

Nah, untuk melengkapi kehidupan yang sederhana, novel Harlequin hadir sebagai bumbu dengan membawa kisah cinta panas yang penuh lika-liku. Sesederhana itu peran Harlequin di dalam kehidupan para perempuan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x