Mohon tunggu...
Reni Soengkunie
Reni Soengkunie Mohon Tunggu... Freelancer - Tukang baca buku. Tukang nonton film. Tukang review

Instagram/Twitter @Renisoengkunie Email: reni.soengkunie@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Tamasya Ilmu di TMII dan Pulau Reklamasi

10 Agustus 2019   05:58 Diperbarui: 12 Agustus 2019   14:45 89
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ini kali pertama saya mengikuti acara yang berbau Kompasiana, sebenarnya malu juga sih. Soalnya saya jarang nulis di Kompasiana, jadi sebelum mendaftar kemarin lumayan saya mengebut membuat dua atau tiga artikel untuk diunggah di akun Kompasiana saya. Biar gak terlalu malu-maluin bangetlah ya.

Saya masih ingat pesan guru saya, "Saat kamu akan melakukan sebuah perjalanan menuntut ilmu paling tidak kamu harus menyiapkan bahan atau bekalnya terlebih dahulu. Jangan pernah berjalan tanpa tujuan dan persiapan."

Sesi pertama dalam kegiatan tersebut diisi oleh Ibu Fanny Jonathan Poyk yang merupakan putri  dari sastrawan kondang asal NTT yang bernama Gerson Poyk.

Jujur saja saya baru kali ini mendengar nama beliau dalam dunia sastra. Maklumlah ya, saya pembaca angkatan tahun 90-an, jadi penulis senior yang saya tahu hanya sebatas Pramudya Ananta Tour, Ahmad Tohari, NH Dini, dll. Sembari Bu Fanny memperkenalkan diri, saya buru-buru searching di internet tentang sosok beliau dan ayahnya.

Dari situ saya baru sadar, pengetahuan saya tentang sastra Indonesia sendiri saja belum ada apa-apanya, hingga sosok seperti Gerson Poyk saja saya tak tahu. Tapi tak apa, dengan ini saya jadi tahu dan menjadi penasaran ingin membaca karya beliau.

Pada materi ini Bu Fanny membawakan materi tentang dunia sastra. Apa sih sastra itu dan buku seperti apa saja sih yang bisa dianggap sebagai buku sastra? Pada kenyataannya  masih banyak orang yang bingung untuk membedakan genre sebuah buku.

Dengan gaya bicaranya yang santai, Bu Fanny mencoba menjelaskan satu persatu kebingungan yang masih dirasakan oleh para peserta pada siang hari itu. Beliau juga memberikan amunisi atau rumus untuk membuat sebuah cerpen ataupun novel. Semua itu bukan perkara yang sulit tapi bukan berarti semua itu mudah. Semua butuh pemikiran, keinginan yang kuat, dan keseriusan.

Satu hal terpenting untuk menjadi seorang penulis yang hebat. Hobi membaca buku dan membaca keadaan. Mengamati hal-hal di sekitar kita itu juga termasuk kegiatan membaca. Ingat ya, menjadi seorang penulis tanpa mau membaca itu hanya omong kosong!

Berhubung Bu Fanny ini merupakan seorang penulis senior dan juga sangat hobi menulis cerpen di Koran, saya lantas menanyakan sebuah pertanyaan yang kini sedang dipergunjingkan di beberapa komunitas membaca dan menulis. Saya ingin tahu pendapat beliau tentang rencana penghapusan cerpen di koran Minggu Pagi.

Menurut beberapa orang, mereka menganggap bahwa cerpen di koran sudah tidak lagi relevan di zaman ini. Banyak para penulis senior yang tak mau turun tahta, sehingga cerpen di Kompas itu hanya akan memuat nama-nama yang itu-itu saja. Seolah tak ada regenerasi baru dalam dunia kesusastraan di negeri ini.

Nah, saya ingin tahu pandangan beliau dari sudut penulis senior yang bahkan cerpennya menjadi cerpen pilihan Kompas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun