Mohon tunggu...
Christopher Reinhart
Christopher Reinhart Mohon Tunggu... Asisten Peneliti pada Departemen Sejarah, Universitas Indonesia

C. Reinhart adalah seorang asisten peneliti pada Departemen Sejarah, Universitas Indonesia. Tulisannya berfokus pada bidang sejarah kuno Asia Tenggara dan Indonesia, sejarah kolonial, dan sejarah perkembangan Buddhisme.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Wahyu Ibu Negara di Asia Tenggara

7 Juni 2019   14:08 Diperbarui: 8 Juni 2019   14:49 0 2 0 Mohon Tunggu...
Wahyu Ibu Negara di Asia Tenggara
Ani Yudhoyono melakukan sungkeman di Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H di Istana Negara, Jakarta (Widodo S. Jusuf - Antara Foto, 2011)

Indonesia menerima kabar kemangkatan Ani Yudhoyono pada 1 Juni 2019. Wafatnya ibu negara tersebut kemudian memicu gelombang kedukaan yang diekspresikan lewat media daring dan karangan bunga. Ungkapan ini ditujukan kepada keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hampir setiap laman daring pribadi para politisi, seperti Twitter, Facebook, Instagram, hingga laman-laman resminya mengungkapkan kedukaan atas berpulangnya Ani Yudhoyono. Hal ini mengingatkan kita pada halaman-halaman muka koran pada April 1996 yang menampilkan luapan ucapan duka atas berpulangnya Siti Hartinah Soeharto. Tidak pula dapat dilupakan mengenai gelombang kesedihan pada tahun 2010, saat Hasri Ainun Besari Habibie mangkat.

Melalui tiga episode sejarah tadi, telah terbukti bahwa ibu negara di Indonesia menempati posisi yang sangat penting. Sekalipun demikian, arti penting ibu negara di Asia Tenggara sangat berbeda dengan dunia Eropa. Ketika Putri Diana dari Inggris mangkat pada akhir dekade 1990, kedukaan terasa di seluruh dunia. Namun, kedukaan ini tumbuh menyoal posisinya sebagai lambang wanita dan rakyat yang masuk dalam keluarga kerajaan Inggris. Berbeda dengan itu, posisi ibu negara di Asia Tenggara menjadi penting bukan oleh sebab dirinya mewujudkan representasi wanita, namun oleh sebab wahyu yang mewujud dalam dirinya.

Untuk melihat pentingnya posisi wanita dan konsep wahyu yang disematkan padanya, kita perlu untuk melihat gambaran masyarakat Asia Tenggara. Sebelum masuknya kebudayaan India ke Asia Tenggara, wilayah ini dihuni oleh kelompok manusia bersahaja yang disebut Australoid. Kelompok ini mulanya tinggal di wilayah yang kini menjadi Thailand dan mengamalkan kebudayaan bercocok tanam. Kelompok manusia inilah yang sesungguhnya pantas disebut sebagai kaum bumiputra asli Asia Tenggara. Kehidupan sederhana mereka kemudian mulai berubah ketika imigran Mongoloid mulai datang dari arah utara yang kemudian menjadi awal mula orang-orang Proto Melayu. Orang-orang Melayu datang dari Cina bagian selatan dengan membawa pengetahuan untuk membuat kain, gerabah, dan kerajinan kayu. Pada gelombang berikutnya, orang-orang Melayu kembali datang dari Cina membawa pengetahuan untuk membuat kerajinan logam, kelompok ini dinamakan Deutro Melayu.

Kebudayaan Melayu sesungguhnya berasal dari Asia Tengah. Kebudayaan ini meletakkan penghormatan yang tinggi kepada wanita. Selanjutnya, datang orang Mon yang juga berasal dari Asia Tengah sehingga turut membawa budaya yang menaruh arti penting kepada wanita. Selain Mon, terdapat pula kelompok pendatang lain yang mendiami delta Sungai Irrawaddy, yaitu Khmer. Keseluruhan budaya ini kemudian bergabung dengan kelompok masyarakat lain yang datang kemudian, seperti Thai, Viet, dan Burman. Jelasnya, mereka kemudian terpengaruh kebudayaan sebelumnya yang meletakkan wanita sebagai figur penting dan penuh penghormatan terhadapnya.

Setelah budaya India masuk ke Asia Tenggara, konsep arti penting wanita perlu mengalami penyesuaian. Kebudayaan India tidak menjelaskan secara eksplisit mengenai kedudukan wanita, namun terdapat beberapa praktik agama India yang cenderung meletakkan wanita sebagai pelengkap pria semata. Salah satu yang paling tersohor adalah praktik Sati. Dalam praktik ini, seorang wanita yang suaminya meninggal akan dengan sukarela ataupun dipaksa untuk turut serta membakar diri dalam api pengabuan suaminya. Sekalipun menerima kebudayaan ini, Asia Tenggara tidak menghilangkan unsur kebudayaan lamanya. Wanita tetap mendapat posisi yang sangat penting dalam legitimasi kekuasaan seorang penguasa.

Dalam kebudayaan India, kekuasaan selalu diidentikkan dengan regalia atau pusaka. Pusaka menjadi alat legitimasi kekuasaan raja atau pejabat-pejabat negara. Dengan demikian, pusaka adalah bentuk materiel dari wahyu atau mandat langit. Seorang raja adalah manusia yang memiliki pusaka sakti dan dengan demikian dapat "mengalahkan" musuh-musuhnya. Kemampuan raja untuk menciptakan ketenteraman itulah yang menjadi tolak ukur apakah wahyu raja masih ada atau sudah hilang. Dengan demikian, pusaka adalah aspek paling vital untuk mempertahankan kekuasaan. Kebudayaan lama Asia Tenggara memainkan peranan penting dalam aspek ini. Bentuk pusaka seorang penguasa di Asia Tenggara tidak saja terbatas pada senjata sakti, namun juga pada wanita pendampingnya.

Staatsbezoek. De koninklijke familie prins Willem-Alexander, prins Claus, koningin Beatrix, en de president van Indonesi Soeharto en zijn vrouw, op het bordes van het Merdeka paleis (Nationaal Archief, 1995)
Staatsbezoek. De koninklijke familie prins Willem-Alexander, prins Claus, koningin Beatrix, en de president van Indonesi Soeharto en zijn vrouw, op het bordes van het Merdeka paleis (Nationaal Archief, 1995)

Episode sejarah yang sangat terkenal mengenai wanita sebagai pusaka dan wahyu seorang raja terjadi pada masa pendirian Singhasari. Pada masa itu, Ken Arok dapat menjadi raja karena merebut Ken Dedes yang dipercaya memiliki wahyu untuk menurunkan raja-raja di Jawa. Konsep ini tentu mengalami penyesuaian kembali pada masa kini. Pada kasus Indonesia, konsep kerajaan telah berganti menjadi republik. Dengan demikian, konsep raja telah berganti menjadi presiden. Namun, posisi wanita sebagai pusaka dan perwujudan wahyu tetap tidak meninggalkan alam pikiran kita. 

Pada kasus Ani Yudhoyono dan Ainun Habibie, hal ini memang tidak kentara karena kedua ibu negara wafat setelah suaminya tidak lagi menjabat. Dengan demikian, kematian mereka tidak mengindikasikan bahwa S. B. Yudhoyono atau B. J. Habibie telah kehilangan "mandat" untuk memerintah. Namun demikian, hal ini sangat kentara pada kasus Siti Hartinah Soeharto. Kegoncangan ekonomi tahun 1997 dan jatuhnya Soeharto pada 1998 terjadi setelah kematian ibu negaranya itu. Secara tradisional, Soeharto telah kehilangan wahyu pemerintahan. Namun demikian, secara rasional Soeharto telah kehilangan aspek pendukung emosional yang sangat penting.

Selain pada kasus Indonesia, kita tentu dapat melihat pentingnya peran wanita Asia Tenggara pada kasus Corazon Aquino yang merupakan istri senator Benigno Aquino. Pada akhirnya, Corazon Aquino dapat menduduki posisi presiden. Tidak pula dapat dilupakan betapa pentingnya posisi istri dari lawan politik Aquino, yaitu Imelda Marcoz. Dalam pemilihan umum tahun 2019, Imelda Marcoz bahkan diisukan akan mencalonkan diri.

Secara sekilas, kita dapat memandang bahwa arti penting ibu negara di Asia Tenggara relevan untuk melihat isu masa kini. Secara implisit, kebudayaan Asia Tenggara memberikan posisi yang vital bagi wanita, tidak saja pada urusan-urusan rumah tangga. Perwujudan wanita sebagai wahyu kekuasaan memiliki arti bahwa tanpa wanita sebuah pemerintahan tidak akan dapat berjalan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN