Mohon tunggu...
Reidnash Heesa
Reidnash Heesa Mohon Tunggu... Insinyur - Mohon Tunggu....

Penjelajah | Penikmat Sajak | Pecinta Rembulan | Pejalan Kaki

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

FPI vs Ahok: Sakit-nya Tuh di Sini !

13 November 2014   22:01 Diperbarui: 17 Juni 2015   17:52 288 15 17
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
14177494781240722392

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyatakan permohonan maaf atas sikapnya yang terlalu kasar di hadapan para anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta pada saat membuka rapat kerja daerah di Balaikota hari ini. Di balik pernyataan seorang Ahok dengan ucapannya yang kontroversial selama ini, wajar banyak yang sudah terlanjur sakit hati. FPI adalah salah satu kelompok yang sudah terang-terangan menyatakan sikap bencinya, menolak Ahok sebagai gubernur Jakarta dan menempuh jalur hukum untuk menyelesaikan persoalan yang sudah ber-'kecamuk' di dalam hati.

Perseteruan FPI dan Ahok bukanlah suatu cerita baru lagi. Barang bukti sudah dikumpulkan pada saat FPI melapor ke polisi. Bukan senapan, bukan pula senjata tajam melainkan dokumentasi berupa kumpulan berita baik di media cetak dan elektronik yang berisikan ucapan-ucapan Ahok yang telah melukai hati FPI. Jelas, ini perkara soal perasaan !

Ahok sendiri juga tidak tinggal diam. Langkah yang diambil untuk melawan FPI adalah mengirimkan surat permohonan pembubaran ormas tersebut ke Kemenkumham. Pak menteri, Yasonna Laoly berupaya memberikan solusi supaya kedua belah pihak duduk bersama di satu meja dengan dimediasi oleh MUI karena muatan perselisihan lebih cenderung bersifat pribadi, lagi-lagi urusan soal sakit hati.

Terlanjur sakit hati, akhirnya upaya kedua belah pihak mencari-cari kesalahan terus dilakukan. Apabila dipandang perlu, kesalahan yang pernah dilakukan di masa lampau dikait-kaitkan dengan pelanggaran hukum pidana, misalnya pencemaran nama baik atau perbuatan yang tidak menyenangkan. Yang sakit hati FPI? Ahok justru meminta maaf di hadapan MUI? Mungkinkah yang dimaksudkan Ahok, MUI dengan peran sebagai seorang ‘bapak’ berhak menasehati, membina dan mengarahkan sang ‘anak’ (FPI) supaya kembali kepada jalan yang benar? Bagi sebagian orang yang mencoba berpikir ulang, analogi bapak dan anak rasanya kurang tepat. Oke-lah, apapun itu, yang pasti upaya dan solusi dari pihak-pihak yang merasa perseteruan FPI - Ahok bukan sesuatu yang perlu dilanjutkan harus menyadarkan kedua belah pihak itu sendiri. Pintu hati harus terbuka agar aliran komunikasi dan dialog dapat dilanjutkan.

Siapa yang akan memulai ? Pastinya, Ahok sudah mengirimkan sinyal ‘maaf’nya. Ini, sinyal yang baik untuk siapa saja yang merindukan terciptanya kedamaian tapi sinyal ini tentunya tidak mudah ditangkap oleh pintu-pintu hati yang masih tertutup. Tertutup karena terkunci ? yuk, kita doakan. Tertutup karena enggan dibuka, mari kita juga doakan.

Berseteru itu adalah sesuatu hal yang biasa di tengah-tengah kemajemukan negeri ini. Sebagai bangsa yang kuat dan besar, sudah sepatutnya keramahan dan senyum manis anak bangsa melengkapi nurani yang terus menerus merangkai hati suci memancarkan cahaya kedamaian batin. Hati suci yang senantiasa memaafkan bukan saja saat-saat momen perayaan di Hari Suci, melainkan sekarang juga. Ya, tepatnya di Hari Ini !

Salam Damai buat FPI dan Ahok.  Salam Kompasiana.


sumber ilustrasi : disini

Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan