Mohon tunggu...
Rd.
Rd. Mohon Tunggu... Lainnya - .

tentang buku, sepeda, debian, motor tua, musik, makanan, bubin LantanG dan bang Rhoma

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Lalu ke Mana Harus Lari?

6 November 2022   19:01 Diperbarui: 6 November 2022   19:51 124
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

kaki yang terendam buih yang mengejar jejak dan membilas pasir adakah ingin menjadi saksi di 3.40 sore, atau menggerus jingga yang menggamit helai-helai rambut di keningmu?

mungkin kau masih saja sesekali berlari-lari, terbang di mimpi dan diam-diam mengunjungiku lagi tanpa pernah siapapun pernah ingin mengingatnya.

atau kau yang tersenyum di gerbang beton tua yang jalannya tak kalah lusuh di pagi-pagi saat tak mau berjalan lalu memanggil kereta berkuda, dirimu tak pernah memaksa tapi tak juga ingin menjauh

sampai akhirnya waktu, ruang tunggu bis, pohon-pohon yang kau ejakan nama latinnya, gumpalan awan, makanan yang selalu tak pernah bersisa, jus melon, sepasang helm tua, lagu yang itu-itu saja, pintu kayu yang selalu terbuka, ruang hening, catatan-catatan bersambung, terompet yang berisik,  aksen asing, tato yang tersembunyi..

entah kemana lagi harus berlari, semenjak mimpi bagiku adalah nyata hidupmu..

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun