Humaniora

Menjadi Perempuan Penangkal Hoaks dan Radikalisme

23 Maret 2019   19:14 Diperbarui: 24 Maret 2019   05:27 46 2 2
Menjadi Perempuan Penangkal Hoaks dan Radikalisme
Waspada Radikalisme - jalandamai.org

Belakangan, publik dikejutkan dengan munculnya jaringan teroris di Sibolga, Sumatera Utara. Jaringan ini nampaknya telah merencanakan akan melakukan serangkaian aksi teror. Untuk kesekian kalinya, ditemukan adanya keterlibatan perempuan di dalam kelompok teroris ini. Bahkan, istri Abu Hamzah, pimpinan jaringan teroris Sibolga ini memilih meledakkan diri, dari pada ditangkap oleh Densus 88. Sebelumnya, jaringan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) yang meledakkan gereja di Subaraya, juga melibatkan perempuan, bahkan anak-anak juga dilibatkan dalam serangkaian aksi terorisme. Sunggguh sangat memprihatinkan.

Di era milenial seperti sekarang ini, apakah meledakkan diri dengan alasan apapun masih relevan? Ditinjau dari sisi apapun, meledakkan diri dengan alasan apapun sebenarnya tidak diperbolehkan. Dalam Islam pun bunuh diri dengan cara apapun tidak pernah dibenarkan. Namun, bagi yang sudah terpapar radikalisme, meledakkan diri dianggap bagian dari perjuangan menegakkan agama. Anggapan ini tentu salah. Karena masifnya hoax di era digital sekarang ini, membuat pemahaman agama yang salah justru disebarkan. Bahkan informasi bohong pun juga sengaja disebarkan, untuk membuat kondisi masyarakat tidak kondusif.

Radikalisme telah melahirkan banyak perilaku intoleran. Persekusi sering terjadi. Bahkan radikalisme juga bisa melahirkan serangkaian aksi teror. Sementara hoax atau berita bohong telah melahirkan berbagai macam kekacauan. Potensi konflik bisa sewaktu-waktu muncul jika masyarakat terprovokasi oleh hoax dan radikalisme. Dalam koteks sekarang ini, menangkap radikalisme dan hoax merupakan bentuk perjuangan menegakkan kebenaran. Dan salah satu pihak yang mempunyai posisi penting untuk menangkal radikalisme dan hoax adalah perempuan. Karena perempuan mempunyai posisi yang strategis di dalam keluarga. Bayangkan jika semua perempuan mampu menangkal radikalisme dan hoax, agar tak masuk dalam keluarganya, tentu generasi yang lahir adalah generasi yang toleran. Apalagi jumlah penduduk bumi ini, separuh lebih adalah perempuan.

Perempuan bisa mengajarkan kedamaian pada anak-anaknya. Perempuan bisa mengajarkan pentingnya sinergi antara nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Meski Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia bukanlah negara Islam. Indonesia adalah negara beragama, yang mengakui banyak agama. Karena itulah, selain muslim, penduduk Indonesia juga ada yang memeluk Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu. Bahkan di sebagaian pedalaman Indonesia masih ada yang menganut aliran kepercayaan. Pemahaman ini hanya bisa diajarkan kepada anak-anak, jika seluruh perempuan di Indonesia melakukannya.

Begitu juga di era masifnya hoax seperti sekarang ini. Seorang ibu bisa jadi penangkal yang efektif, jika selalu mengingatkan kepada anak-anaknya, agar terus menguatkan literasi dan tidak mudah percaya dengan setiap informasi yang berkembang. Ketika anak diingatkan dan dianjurkan oleh sang ibu, semestinya sang anak akan mematuhinya. Karena surga berada dibawah telapak kaki ibu. Itulah sebabnya perempuan bisa menjadi media yang efektif untuk menangkal radikalisme dan hoax, yang saat ini menjadi musuh bersama semua penduduk bumi.