Mohon tunggu...
Rangga Hilmawan
Rangga Hilmawan Mohon Tunggu... Pemikiran adalah senjata Mematikan. Tulisan adalah peluru paling tajam

Seorang Pemuda Betawi - Sunda

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

[254] Cerita "Temanku"

16 November 2020   18:16 Diperbarui: 16 November 2020   18:34 71 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
[254] Cerita "Temanku"
perjalanan | pikist.com

Seseorang bercerita padaku, bagaimana dia benar-benar menghargai hidup dan kehidupan kesemestaan yang mendukungnya hingga sampai saat ini. 

Dia berbicara dengan penuh keyakinan dan tanggung jawab tentang sesuatu yang terucap dari bibirnya, mungkin juga kata hati yang tersalurkan melalui pita suara. "Membiasakan diri membuat kebajikan dan membiasakan diri membuat kesejahteraan yang sejati". Kalimat yang secara spontan keluar dari mulutnya, terdengar sederhana memang, namun sulit diaplikasikan terutama pada jaman sekarang.

Kalimat tersebut dia dapatkan ketika tersesat disebuah hutan seorang diri, hutan yang menurutnya atau mungkin menurut semua orang adalah hutan angker, dari jauh nampak keindahan, namun ketika kita masuk isinya berbagai macam flora dan fauna yang setiap saat bisa saja memakannya, tidak memakan secara langsung, mereka akan memakannya dengan memberikan keindahan yang terdapat dihutan tersebut. 

Untuk bebersapa saat ia terlena, tersadar setelah bola matanya hampir saja terjun bebas dari tempat yang semestinya tanpa sebab. Temanku memutuskan untuk segera keluar dari hutan tersebut. 

Tanpa perbekalan yang cukup, dan peralatan seadanya, tidak, peralatannya bisa dibilang kurang dari seadanya, karena ia hanya membawa sebuah kertas bertuliskan "keyakinan". 

Ada tiga pilihan, dia pergi ke arah barat menuju lembah yang indah, dibalik lembah itu dipercaya ada pintu dimensi yang dapat mengeluarkannya dari hutan, namun diperjalanan ada sekelompok macan hitam yang setiap saat akan menerkamnya, atau menuju timur yang tidak memiliki rintangan, namun perjalanan mungkin memerlukan waktu lebih dari satu bulan untuk keluar dari hutan tersebut, terakhir adalah, menikmati dirinya ditengah hutan angker itu, dengan cara membiasakan dengan kehidupan sekitar, yang dalam fikirnya dapat hidup seperti Tarzan yang bergelantung dari satu pohon ke pohon lain sambil berteriak aauuooo uoooo.

Dengan modal sebatang kayu besar di tangannya, dia memilih jalan kearah barat, yakni menuju lembah, namun baru beberapa menit dia berjalan, bertemulah dengan satu macan hitam yang dapat berbicara, macan itu berkata, "jika engkau ingin melewati jalan ini, silahkan, kawananku tidak akan menerkammu, tetapi kamu harus memberikan jantungmu sekarang juga kepadaku", dengan sedikit ragu dia bertanya "apa bisa ditukar dengan bagian tubuhku yang lain? Kaki atau tangan misalnya?"

Sambil tertawa macan hitam menjawab "hahaha, silahkan kau menuju timur jika tidak sampai hati memberikan jantungmu". Untunglah temanku masih bisa menggunakan fikirannya dengan baik, dia bergegas meninggalkan macan hitam itu yang sedari tadi akan mengambil jantungnya.

Dia berjalan menuju timur, balok kayu yang dia pegang dibuangnya ke sebuah sungai yang mengalir dengan jernih. Ditengah perjalanan menuju timur harapannya, dia bertemu dengan seekor kellinci yang bijak, tidak seperti kelinci yang digambarkan dalam cerita akan yang jahil kepada kura-kura. Kelinci ini menemani temanku berjalan, sesekali dia memberitahukan tempat buah-buahan yang bisa dia makan. Atau pohon aman yang dapat dia jadikan tempat beristirahat pada malam hari. 

Yang membuat aneh, kelinci ini berjalan begitu lambat bagai kura-kura, pernah sekali dia melihat kura-kura yang berjalan dan melompat begitu cepat bagai kelinci, namun tempurungnya berduri, matanya merah menyala, dan giginya bergerigi sesekali mengeluarkan liur berwarna merah darah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x