Mohon tunggu...
R Hady Syahputra Tambunan
R Hady Syahputra Tambunan Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Pemerhati Politik Sosial Budaya. Pengikut Gerakan Akal Sehat. WA: 081271510000 Ex.relawan BaraJP / KAWAL PEMILU / JASMEV

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Donor Darah, Sedekah Jariyah Sekaligus Menyehatkan

12 Juni 2019   22:49 Diperbarui: 12 Juni 2019   23:14 0 5 2 Mohon Tunggu...
Donor Darah, Sedekah Jariyah Sekaligus Menyehatkan
Dokpri: Penulis Sedang Donor Darah

Tahukah pembaca, ada 3 perkara yang tidak akan putus walaupun telah wafat? Menurut Rasulullah SAW, "Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang selalu didoakan orang tuanya." (HR. Muslim)

Ilmu yang bermanfaat, selagi ilmu yang anda ajarkan diamalkan oleh penerima, maka anda akan mendapat pahala atas ilmu tersebut.

Apalagi bila ilmu itu oleh si penerima tadi diajarkan kembali kepada orang lain, lalu orang lain tadi mengajarkan kepada orang lain pula dst dst maka dapatkah anda bayangkan pahala yang menanti?

Begitu pula anak shalih, doa dan kelakuan baiknya akan selalu memberi pahala kepada orang tuanya. Bila, ingat ya.. bila orang tuanya mengajarkan kebajikan kepada anaknya.

Poin pertama yang akan kita bahas tuntas. Di redaksi hadist tadi tertulis "shadaqah jariyah". Apa maksudnya?

Menurut Imam Nawawi dalam Syarakh (penjelas-pen) HR Muslim: bahwa shadaqah jariyah itu adalah waqaf.

Ditambahkan pula oleh Syaikh Shalih Al-Munajjid, bahwa Shadaqah jariyah adalah: 

shadaqah yang pahalanya terus mengalir setelah kematian seseorang (si pemberi shadaqah, Ini karena manfaat yang berketerusan-pen)

Adapun shadaqah yang pahalanya tidak terus mengalir, seperti memberi makan kepada orang fakir,  memberi makan kepada orang yang berpuasa, dan menjamin kebutuhan anak yatim, maka ini bukanlah shadaqah jariyah, tapi shadaqah saja.

Baru disebut shadaqah jariyah bila seseorang ikut berkontribusi dalam membangun rumah atau asrama untuk anak yatim. Seseorang akan terus mendapat pahala selama bangunan tersebut dipakai.

Contoh lain dari shaqaah jariyah adalah membangun masjid, menanam pohon, menggali sumur, mencetak mushaf dan membagikannya, menyebarkan ilmu yang bermanfat dengan mencetak buku dan menyebarkannya.

Kembali pada pembahasan judul. Mengapa penulis mempunyai pandangan yang mungkin sedikit berbeda dengan penjelasan Syaikh Shalih?

Menurut Syaikh Shalih, contoh shadaqah biasa (yang pahalanya tidak terus mengalir) adalah memberi makan anak yatim. Bila menggunakan analogi tersebut, maka mendonorkan darah kepada yang membutuhkan termasuk kategori itu.

Penulis akan coba berikan kepada pembaca alasan yang masuk akal. Penulis ketika mendengar ada anak umur 5 tahun yang menderita thalasemia, maka hati ini seketika tergerak. Sempat terpikir betapa anak sekecil itu namun sudah menderita seumur hidupnya.

Mengapa bisa terjadi? Karena menurut penuturan ayah penderita, penyakit anaknya tidak ada obatnya. Yang dapat dilakukan adalah, anaknya mesti menerima donor tiap 1 kali /bulan. Kadang 1 kantong, kadang butuh 2 kantong.

Menurut: https://www.alodokter.com/thalassemia, dan https://www.google.com/amp/s/journal.sociolla.com/lifestyle/penyakit-thalasemia/amp/ -"penderita thalasemia akan selalu membutuhkan transfusi darah. Ini terjadi akibat kadar homoglobin (Hb) nya akan selalu turun. Bila turun dan lambat diantisipasi dapat menyebabkan tubuh penderita lemah, pingsan, berat badan turun dastris dan sesak nafas".

Untuk itu masuk akal bukan ketika penulis menganggap memberikan darah kepada mereka berarti kita membantu sekaligus mendapatkan pahala yang besar?

Bila anda mendonorkan darah kepada orang yang sangat membutuhkan semisal kecelakaan parah atau terkhusus thalasemia yang tadi penulis uraikan maka dengan darah itu mereka dapat kembali beraktifitas normal.

Dengan aktifitasnya, pasti dari mereka akan banyak melakukan hal-hal positif dan kebajikan. Anda turut berpartisipasi atas kebajikan yang mereka kerjakan di kemudian hari.

Inilah pemaparan sederhana dari penulis. Tidak bermaksud riya (pamer-pen) apalagi mengungkit kebaikan yang tidak seberapa ini. Penulis yang baru 3 kali dalam seumur hidup, mungkin belum seberapa dibandingkan pendonor2 rutin di lembaga2 pemerintah ataupun swasta.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2