Mohon tunggu...
Rahman Wahid
Rahman Wahid Mohon Tunggu... Menggapai cita dan melampauinya

Menggapai cita dan melampauinya

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi | Ketenggangan

13 April 2020   16:28 Diperbarui: 13 April 2020   16:30 13 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi | Ketenggangan
Dok. Pribadi

Tapal jarak merentang menjeda derap temu dikala rindu. Memberi jangka pada asa tuk bersua. Mentitahkan kuasa diri memikul beban, menahan ihwal yang sulit ditahan. Segala itu berkaitan tujuan, keinginan, kesungguhan. Terbendung dinding kenyataan.

Berkaca akan keberadaan. Menahan yang tertahan amat memberatkan. Tanpa canggung memangkas daya capaian. Bisukan kata ucapan, benamkan kalimat dan setiap untaian. Memutus mata rantai perencanaan. Tanggalkan niat itikad yang membuncah.

Kelokan, liukan, perputaran arah biaskan arah langkah. Butakan sang indra guna meragap hari depan. Coba mencerabut ingatan jarak dalam benak. Hendak merusak dengan sebuah kerenggangan, menyodorkan rentang agar koyak dimakan kesepian, keterasingan, kesunyian.

Sesat pikir jikalau jarak mudah ditaklukan. Ia laksana nuklir termutakhir. Sedikit saja dapat menggoyahkan, ia kuat, terlalu perkasa pula. Menentangnya jadi lelucon monumental sepanjang sejarah. Alam, jagad raya amat kecil dari kuasa jarak. Tak bisa dibendung, biar setinggi apapun benteng, jarak akan selalu menemukan celah untuk meloloskan diri lalu menampakan kedigdayaannya pada semesta.

Maka, betapa nahasnya mereka yang mencoba mengelabui jarak. Sepatutnya ia membiarkannya mengalir saja. Mengingkarinya sama saja menyakiti hati. Karena jarak sepenuhnya befundamen kejujuran, lepaskan, dan bebaskan ia dengan kuasanya. Jangan mendustakan jarak, ialah keniscayaan. Berbanggalah. Tegaskan, aku berjarak!.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x