Mohon tunggu...
Rahman Wahid
Rahman Wahid Mohon Tunggu... Menggapai cita dan melampauinya

Menggapai cita dan melampauinya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Integralistik Rasa

20 November 2019   18:55 Diperbarui: 20 November 2019   19:11 0 1 0 Mohon Tunggu...
Integralistik Rasa
Sumber foto: Pixabay/pixel2013

Pernahkah kita berpikir bagaimana sebuah rasa bisa muncul, bertahan, dan hilang? Sebuah pertanyaan yang mudah sekaligus sukar untuk difinalisasi jawabannya. Mengapa mudah? Tentu karena setiap orang punya penafsiran yang berbeda tentang rasa atau cinta tergantung dari pengalaman empiris yang dilaluinya, sehingga justifikasi soal rasa menjadi mudah untuk didefinisikan, tetapi ini siaftnya jelas subjektif.

Menjadi sulit untuk dijawab karena perihal rasa sifatnya metafisik dan abstrak sehingga tidak ada standar baku yang mampu menjadi acuan bagaimana persoalan rasa dapat dipecahkan secara logis dan objektif. Tapi tentu hal ini bukan menjadi masalah. Oleh sebab itu, bicara tentang rasa, maka kita bicara tentang ketidakpastian, karena rasa kerap bisa berubah makna tergantung kondisi jiwa si pemilik rasa.

Walau bisa berubah, bukan berarti rasa tidak serta merta bisa kita labeli labil, tetapi sejatinya ia stabil, karena labil adalah milik ego, sedang rasa adalah milik jiwa. Sudah cukup kita membahas teorema soal rasa, kembali ke pertanyaan awal, bagaimana rasa bisa tumbuh, bertahan, dan hilang?

Untuk membedah persoalan ini, tentu cukup sulit dan berbelit, maka penafsirannya pun cenderung menjadi subjektif, namun tidak ada salahnya untuk coba diuraikan. Pertama, mengapa rasa bisa muncul? Karena rasa adalah milik jiwa, maka rasa adalah manifestasi dari kobaran batin yang menyala. Tentang bagaimana munculnya tentu banyak cara, ia bisa hadir dari sorotan mata, dari pendengaran telinga, dari endusan hidung, dan yang paling tinggi dari sentuhan jiwa. Selain beberapa hal yang saya sebutkan, tentu banyak proses lain dari kemunculan sebuah rasa.    

Kedua, bagaimana rasa bisa bertahan? Resistansi sebuah rasa terkadang bisa fluktuatif karena sesekali tertutupi ego. Kekuatan rasa terletak pada unsur-unsur batin lain yang melingkupinya seperti kesungguhan, kejujuran, dan kesetiaan. Pertahanan sebuah rasa biasanya akan menjadi kuat manakala unsur-unsur lainnya berada pada posisi yang ajeg dan kokoh.

Pondasi dari unsur pendukung secara nyata membantu resistansi sebuah rasa menjadi stabil. Kerposonya pertahanan sebuah rasa tak lain disebabkan karena pondasinya yang lemah, maka tak heran dengan begitu saat ego datang, apalagi disertai dengan amarah yang bergejolak, pertahanan rasa akan hancur dan terombang ambing dalam ketidakpastian.

Maka menjadi penting setelah sebuah rasa muncul, kita mulai bergegas mempersiapkan dan mengokohkan pondasi rasa agar di tengah jalan ketika bertemu badai kehidupan, ia tak tergerus dan terhempas sampai sirna dan tidak punya pijakan berpikir serta bertahan lagi.

Ketiga, tentang hilangnya sebuah rasa, ini cukup pelik. Orang-orang dilandasi beragam perspektif sebab untuk pelenyapannya. Ada perspektif sebab moderat, sebab emosional, dan juga sebab kritis. 

Dalam perspektif sebab moderat, penghilangan rasa lebih dititikberatkan pada perhitungan rasional, jika tidak menghasilkan, tidak manfaat, tidak menyenangkan, perspektif ini akhirnya menyebabkan hilangnya rasa, alasan utamanya ada pada rasionalitas.

Sebab emosional, jelas ini berkaitan dengan ego, jika tidak nyaman, tidak bahagia, banyak curiga, banyak prasangka, banyak konflik, pada akhirnya membuat rasa menjadi hilang karena termakan oleh ego. Landasannya tentu dilatarbelakangi pondasi unsur pendukung rasa yang lemah dan struktur psikis yang lesu.

Lalu pada sebab kritis, hilangnya rasa merupakan hasil dialektika antara nalar dan jiwa secara komprehensif, bukan sekedar pada hitungan rasio ataupun letupan ego, sebab ini didasarkan pada upaya pencarian kebahagiaan yang sebenarnya dengan berdasar pada hakikat kesejatian cinta dan rasa. Untuk sebab kritis, terkadang sukar dipahami, sering dipandang aneh dan tidak jelas. Padahal sebab ini merupakan sebab yang melewati batas rasio dan ego, serta lebih mengutamakan pada hakikat juga kebijaksanaan.  

VIDEO PILIHAN