Mohon tunggu...
Rahman Wahid
Rahman Wahid Mohon Tunggu... Menggapai cita dan melampauinya

Menggapai cita dan melampauinya

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Babad Ikhwan Mistis: Susah Senang Tetap Goyang

9 September 2019   20:18 Diperbarui: 9 September 2019   20:30 0 1 0 Mohon Tunggu...
Babad Ikhwan Mistis: Susah Senang Tetap Goyang
Sumber foto: Pixabay/DawnyellReese

Masih dalam suasana yang kurang begitu mengenakan. Para dedengkot kaum proletar tetap dihinggapi perasaan nestapa. Kegagalan mereka dalam memanfaatkan momentum KKN guna merengkuh dambaan hati nampaknya membawa dampak besar bagi mereka. Salah satu yang paling kentara adalah dengan membuat mereka murung.

Nada tawa dan canda seolah lenyap dari pribadi mereka. Ical yang semula selalu tampak ceria kini menjadi lebih sering pulang dan mengurung diri di kosan. Biasanya setelah lepas jam kuliah, ia bertengger paling awal di kantin belakang kampus, tentunya sambil ngopi dan memandang asrama. Tak jauh berbeda pula dengan Dede, ia pun lebih sering cepat pulang, berbeda saat sebelum KKN, yang kala itu ia dikenal sebagai satpam saking betahnya di kampus. Sama dengan Ical Dede kini lebih memilih langsung tancap gas dibanding nongkrong.

Dan Wahyu, ya, ia sama juga seperti Ical dan Dede. Wajahnya muram murung masam. Saat ini tertawa seolah menjadi hal yang mahal baginya. Padahal sudah jamak dikenal bahwa Wahyu orang yang gemar tertawa. Namun lagi-lagi, KKN sepertinya besar atau kecil membawa nurturant effects sehingga mampu merubah psikologi mereka.

Lama kelamaan tentu imbas dari perubahan perilaku mereka mengundang teman-temannya yang lain untuk mulai bertanya. Misalnya saja Bale, sudah cukup lama agaknya ia tidak mengobrol dengan Ical dan Dede. Mungkin dua minggu setelah KKN, bahkan lebih, ia pun tak begitu ingat tepatnya. Klimaksnya pertanyaan dari kader KIMBERLI akhirnya dibahas saat mereka kebetulan tengah berkumpul di selasar masjid.

"Pada kemana ya kamerad Ical, Dede sama Wahyu? Ko sekarang jadi jarang keliatan di kampus?" Tanya Roy membuka topik pembahasan

"Gak tau nih, udah lama gua juga nggak ngopi bareng mereka" Ivan menambahkan

"Tapi emang sih kayanya ada yang beda sama mereka, dari tingkah dan sikap pun ko nggak biasanya" Ujar Izal

Bursh berada juga dalam perkumpulan itu. Sebagai Komodor KIMBERLI tentu ia sadar bahwa memang ada yang tidak beres dengan Ical, Dede, dan Wahyu. Ia pun mafhum bahwa dengan tidak adanya kehadiran mereka membuat kesimbangan dan kesetimbangan dalam struktur KIMBERLI menjadi agak terganggu. Bagaimanapun kehadiran mereka, sebagai fraksi dari kaum proletar tidak boleh dinafikan keberadaannya dalam forum dan organisasi.

Setelah mengehela nafas panjang Bursh pun kemudian berkata

"Oke, para kamerad yang saya hormati, memang saya patut akui dan pahami, bahwa ada dari beberapa kader kita yang kelihatannya cukup berbeda dari biasanya, baik itu secara estetis maupun etis. Tentu sebagai organisasi yang berdaulat yang berasas kekeluargaan, hal yang terjadi pada kader kita itu tidak boleh sama sekali kita abaikan, dekati, ayomi, itu tugas kita, sebagai kader KIMBERLI yang humanis"

Mendengar sabda yang dikatakan oleh pimpinannya secara tegas dan gamblang tentu membuat naluri solidaritas dari para kader menjadi muncul dan menggebu. Mereka pun paham bahwa tatkala permasalahan mendera teman, sudah sepatutnya dan seyogiayanya mereka bergerak dan menunjukan empatinya lewat aksi nyata, yaitu berinteraksi dan melakukan langkah-langkah persuasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
9 September 2019