Mohon tunggu...
Ns.Rahayu Setiawati Damanik, S.Kep, M.S.M
Ns.Rahayu Setiawati Damanik, S.Kep, M.S.M Mohon Tunggu... Penulis buku & Wirausaha -

1. Do your best and God will do the rest (Lakukan yang terbaik apa yang menjadi bagianmu dan biarkan Tuhan menentukan hasilnya) 2. Penulis lahir di Kabanjahe Sumatera Utara pada tanggal 15 Juni 1983. Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Keperawatan di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan Pasca Sarjana Manajemen Keuangan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Penulis buku “Sakitnya Membuka Usaha Penitipan Anak” dan “Lepas dari Krisis Asisten Rumah Tangga”. Sejak Tahun 2013 hingga kini mengelola usaha day care (penitipan anak) “Happy Day Care”. Sering menulis artikel mengenai keluarga, pernikahan, perempuan, dan anak-anak. 3. Kini mengelola usaha Daycare dan Homeschooling DeanMores di Jatibening Bekasi 4. Percaya bahwa keluarga adalah kekuatan suatu bangsa. Keluarga yang teguh akan membangun bangsa yang kokoh. 5. Best in Specific Interest Kompasianival 2016 6. Tulisan lainnya bisa dibuka di www.rahayudamanik.com, www.rahayudamanik-inlove.com, dan www.rahayudamanik-children.com

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Artikel Utama

Suami KDRT Lalu Meminta Maaf, Istri Harus Bagaimana?

22 September 2016   08:38 Diperbarui: 29 September 2022   23:33 2737 11 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi ini menggambarkan kekerasan dalam rumah tangga (DKRT). (sumber: Dok BBC via kompas.com)

Pernikahan seharusnya membawa kondisi dan suasana yang menenangkan dan penuh kedamaian. Namun terkadang justru memberikan teror yang membahayakan jiwa pasangan. 

Istri yang seharusnya dicintai dan disayangi suami namun terkadang malah mendapat perlakuan yang sangat menyiksa dari seorang yang seharusnya memberikan perlindungan. 

Istri dipukul sampai lebam, ditonjok, ditendang, dihina, dan dibentak suami hanya karena masalah sepele. Anehnya setelah menyiksa istri, sang suami tampaknya menyesal, meminta maaf, dan memperlakukan istri dengan sangat manis.

Menghadapi masalah seperti ini sering yang terpikirkan hanya perceraian. Apalagi ada yang mengatakan kalau suami yang demikian sangat kecil kemungkinannya untuk berubah sehingga daripada menerima kekerasan terus-menerus lebih baik cepat-cepat ditinggalkan demi keselamatan jiwa dan kesehatan mental istri serta anak-anak. 

Selain perceraian sering juga istri dihadapkan pada pilihan melaporkan perlakuan suami kepada polisi. Demi mendapat perlindungan hukum, istri pun terlebih dahulu membuat catatan KDRT, dokumentasi foto akibat kekerasan fisik, dan meminta visum ke rumah sakit. 

Alih-alih bercerai dan melaporkan suami, lebih bermanfaat bila istri mengupayakan berbagai cara yang meskipun sulit namun lebih berpotensi menyelamatkan keluarga.

Sefatal apa pun kesalahan istri, tidak seharusnya seorang suami menggunakan pukulan. Suami yang memukul istri tentu tidak layak disebut sebagai pria sejati. 

Meskipun demikian, masalah KDRT tetaplah masalah bersama dalam keluarga sehingga tiada salahnya istri mencoba mengoreksi diri siapa tahu penyebab kekerasan suami karena perilaku istri. 

KDRT pastilah ada pemicunya. Mungkin saja ada sikap dan perkataan istri yang memancing kemarahan suami misalkan perkataan istri yang terlalu tajam sehingga membuat suami tidak mampu menahan emosi dan mengambil jalan singkat dengan pemukulan. 

Bila saja istri tidak melakukan kesalahan apa-apa namun suami tetap KDRT, istri bisa mencari momen yang tepat untuk mengajak suami berbicara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan