Edukasi

Dasar Pemikiran Bung Hatta

7 Desember 2018   16:30 Diperbarui: 7 Desember 2018   17:14 45 0 0

Jika kita membahas sosok yang satu ini tentu tidak aka nada habis-habis nya,mulai dari gaya hidup hingga dasar pemikirannya yang hingga sekarang masih sering menjadi tanda tanya besar!.

Bung hatta lahir di Bukit Tinggi Agustus 1902, dengan nama Muhammad Hatta. Proklamator sekaligus bapak Koperasi Indonesia inipun, adalah seorang muslim yang taat, ia lahir dari perpaduan darah ulama dan saudagar di kampungnya,Batu Hampar. Pada masa kecilnya ia menghabiskan waktu dengan belajar mengaji Bersama dua syaikh ternama, yaitu Syaikh Mohammad Djamil Djambek di bukit tinggi dan Syaikh Abdullah Ahmad di Padang.

Melihat latar belakang keluarga, agama, dan Pendidikan yang ada pada bung hatta, tentu kita akan menebak ia adalah seorang yang memiliki paham ideologi atau pemikiran yang islamis. Namun semua anggapan itu salah. Bung hatta memiliki latar Pendidikan ala barat yang kuat, Hatta berkembang menjadi seorang pemuda yang modern sekaligus dekat dengan perilaku keagamaan yang saleh. Sehabis belajar di europeesche lagere shool (ELS) ia selalu tidak pernah alpa dari surau untuk memperdalam alquran.

Pendidikan nya pun dilanjutkan di padang, ia belajar di Meer Uitgebried Lagereondermijsc (MULO). Dan di kota itulah kesadaran politik sebagai anak bangsa tumbuh dan berkembang, terutama dalam kedudukannya sebagai pelajar di sumatranen bond. Yang menjadi awal dari pemikiran dan ideologi Hatta selanjutnya.

Pendidikan barat yang ia dapat, membuat ia dapat menerima berbagai paham dan ideologi yang ada saat itu. Luasnya bacaan dan mintanya pada sastra, membuat ia banyak bersinggungan dengan berbagai ideologi seperti contoh: Marxisme, Sosialisme, Liberalisme, Islamis, dan masih banyak lagi pemikiran yang dikenal oleh seorang Hatta.

Dalam catatan beberapa pengamat politik Hatta semenjak berada di negeri Belanda, ia termasuk seorang penganut sosialis, dasar dasar pemikirannya dibentuk di kalangan sosialis. Beliau banyak menulis di buletin milik kalangan sosialis seperti De Socialist, De Vlam, dan Recht In Vrijheind. Tapi hal yang paling mencolok dari Hatta adalah sikap politiknya tersebut tumbuh menjadi seorang sosialis yang rasional.

Artinya Hatta tidak terseret pada suatu pemelukan paham yang anarkis atau sebagai sosialis yang melankolis dan romantik terhadap gelora perjuangan. Prilaku rasional nya ini "secara tidak langsung" memberikan sumbangan pada pembentukan awal republic ini.

Hal paling mendasar dan khas dari Hatta adalah, ia bisa menjadi seorang rasional tanpa kebarat-baratan. Banyak orang yang mengenalnya berkali-kali berkisah bagaimana tokoh bangsa yang taat menjalankan perintah agama ini menjuhi dansa dan berbagai kehidupan pergaulan barat. Yang ia ambil dari barat hanya visi dan sikap disiplinnya serta keterampilan mengelola organisasi.

Ketika datang pertama kali ke Belanda seorang Hatta datang untuk menjadi seorang komunis. Pemikiran haluan Leftist (kiri) adalah sesuatu yang melahirkan pesona, merangsang pemikiran. Komunisme merupakan sebuah panggilan jiwa bagi pemuda di dunia ketiga, seolah olah ia menjadi satu astunya alat untuk  menggulingkan  imprealisme.

Seorang Hatta kemudian cepat berjarak. Ia mengerti bahwa ada semacam takhayul ilmiah dalam pesona komunisme. Lalu karakter Komunisme yang memang tidak cocok dengan kepribadian Hatta yang tahan menyendiri. Dikarenakan Komunisme cenderung merayakan pengerahan fisik ramai.

Hatta juga pernah mengkritik sekaligus menulis risalah tentang teori Marx pada tahun 1962 di banda. Bunyi kritiknya terhadap Marx: Marx tidak memperhatikan munculnya banyak faktor irasionalitas dalam masyarakat. Buruh yang dibelanya dalam kasus jerman, malah mendukung fasisisme dan menindas kelas mereka sendiri. Irasionalitas memang ada di mana-mana

Meski mengecam dan menolak paham komunis/Marxisme, seorang Hatta ternyata lebih terpukau dengan ekonomi politik dan aliran historis daripada ekonomi klasik. Hatta dengan tegas membedakan teori ekonomi, politik ekonomi ,dan orde ekonomi. Gagasan ekonominya lebih banyak mengacu kepada Gustav Schmoller, werner Sombart, dan Karl Marx sendiri daripada ekonom macam Adam Smith. Ilmu ekonomi dalam pandangannya bukanlah ilmu yang ahistoris seperti matematika, melainkan ekonomi merupakan ilmu social yang hidup menurut perkembangan zaman.

Dasar pemikiran hatta seungguhnya adalah kepercayaan pada kemungkinan kehidupan politik yang demokratis dalam situasi colonial.

Sudah tidak terhitung lagi betapa banyak karya dan kontribusi besar Bung Hatta untuk negeri ini, mulai dari saat ia menjadi pejabat tinggi negara maupun saat telah pensuin dari lingkup pemerintahan. Sebagai generasi muda sudah sepatutnya kita menjaga dan menjalankan apa yang menjadi cita-cita dari Bung Hatta sendiri.