Mohon tunggu...
Pujakusuma
Pujakusuma Mohon Tunggu... Mari Berbagi

Ojo Dumeh, Tansah Eling Lan Waspodho...

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kata Teman Saya, SMS Tagihan Bank Lebih Menakutkan daripada Tugu Peti Mati...

4 September 2020   10:50 Diperbarui: 4 September 2020   10:48 38 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kata Teman Saya, SMS Tagihan Bank Lebih Menakutkan daripada Tugu Peti Mati...
Sumber Kompas.com

Ada-ada saja ulah yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Belum rampung geger genjik soal idenya membuka jalan tol untuk pesepeda, kini muncul kekonyolan baru yang tak kalah menggegerkan, yakni membuat Tugu Peti Mati.

Katanya sih, tujuannya untuk mengingatkan masyarakat tetap waspada terhadap covid-19. Setiap warga yang melintas di depan tugu itu, ekspektasinya mereka langsung ketakutan dan otomatis taat pada protokol kesehatan.

Sontak saja, langkah Anies itu mendapat cibiran publik. Tak hanya netijen +62 yang begitu pedas mencibir melalui medsos, sejumlah politisi juga ikut-ikutan nimbrung.

Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Sigit Widodo bahkan memberikan kalimat satire yang menohok. Katanya, Nies, becanda terus nih kamu. Sekali-kali, kerja napa! Begitu kira-kira.

Pernyataan tak kalah menohok dilontarkan politisi Demokrat, Ferdinand. Menurut dia, strategi Anies membuat Tugu Peti Mati merupakan strategi komunikasi yang konyol dan tidak bermanfaat. Dikira dengan menakut-nakuti publik, maka mereka akan sadar dan taat protokol kesehatan? Sudah pasti tidak.

Belum lagi, masih kata Ferdinand, langkah Anies untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 tidak jelas. Di satu sisi ia menakut-nakuti warga dengan membuat Tugu Peti Mati, di sisi lain ia mengizinkan demo, kerumunan diizinkan, ganjil genap dilakukan dan lainnya.

"Sial betul nasib Jakarta punya Gubernur seperti ini. Saya kalau melihat foto ini rasanya ingin memaki," cuit Ferdinand.

Memang keputusan Anies membuat Tugu Peti Mati patut dipertanyakan. Sebagai seorang yang berpendidikan tinggi dan sudah banyak makan asam garam, tentu ia memiliki strategi komunikasi lebih efektif untuk menyadarkan masyarakat, dibanding membuat Tugu Peti Mati.

Selain menelan biaya yang tentunya tidak sedikit, Tugu Peti Mati hanyalah benda mati. Paling-paling saat orang melintas di depannya, orang hanya melihat sepintas untuk memenuhi rasa penasaran.

Seorang kawan pernah bercerita, saat dia melintas di depan Tugu Peti Mati, tak ada rasa takut sama sekali. Ia hanya mengatakan, oh ini to Tugu Peti Mati yang sempat viral. Ambil handphone, foto, update status dan terus berlalu. Padahal, ia tak pakai masker.

Tapi, seketika dia pucat. Takut dan kebingungan. Ternyata di handphonenya, muncul notifikasi SMS dari bank, yang mengingatkan bahwa tagihan harus segera dibayarkan. Ternyata, SMS dari bank lebih menakutkan daripada Tugu Peti Mati, katanya...Hahahaha...

Kalau memang mau menyadarkan masyarakat, kayaknya Anies harus belajar banyak pada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Setiap hari sejak pandemi melanda, Ganjar rutin gowes keliling kampung, masuk pasar, tempat kerumunan untuk sosialisasi. Sambil 'bengak-bengok' di atas sepeda ketika melihat ada kerumunan dan orang tak pakai masker, Ganjar tanpa lelah mengedukasi masyarakat biar taat.

Ganjar juga tak mengambil kebijakan mendenda masyarakat yang abai terhadap protokol kesehatan. Selain karena efek kemanusiaan, Ganjar meyakini bahwa menakut-nakuti masyarakat justru berdampak buruk pada upaya pencegahan penyebaran covid-19. Logika sederhana, kalau masyarakat takut, jadi was-was, imun turun dan gampang tertular penyakit.

Lagian, kalau ingin menyadarkan masyarakat dengan cara menakut-nakuti, kurang banyak apa coba rumah sakit di Jakarta. Belum lagi wisma Atlet yang menampung ribuan pasien covid-19. Belum lagi hilir mudik ambulans yang membawa jenazah covid-19 ke pemakaman. Kalau tujuannya untuk menakut-nakuti, gambaran-gambaran itu sebenarnya lebih menakutkan. Toh sampai saat ini, banyak orang di Jakarta tetap biasa saja. Banyak yang tidak takut dan cuek dengan kondisi itu.

Daripada membuat Tugu Peti Mati, Anies sebenarnya bisa menggerakkan kearifan lokal lain untuk mengedukasi. Pendekatan-pendekatan buttom up seperti Jogo Tonggo ala Ganjar sebenarnya bisa dicontoh. Menggerakkan komunitas terkecil di masyarakat, untuk bersama-sama menyadarkan pentingnya protokol kesehatan.

Atau kalau memang harus membuat tugu, Anies sebenarnya bisa membuat Tugu Stetoskop atau simbol lain sebagai bentuk penghormatan kepada tenaga medis yang gugur akibat berjuang melawan covid-19. Selain bisa mengedukasi, langkah itu pasti diapresiasi banyak pihak, mengingat belum ada yang melakukan.

Sebenarnya banyak program yang bisa membuat Anies moncer saat pandemi. Sebagai gubernur Ibu Kota yang selalu disorot media, ia bisa melakukan banyak hal untuk melakukan program yang membumi. Bukan justru selalu menimbulkan kontroversi.

Apa Anies tidak bisa? Tentu saja bisa. Tapi, kita tidak tahu, ada strategi apa dibalik kekonyolan-kekonyolan yang ia buat selama ini.

VIDEO PILIHAN