Mohon tunggu...
Priyandono Hanyokrokusumo
Priyandono Hanyokrokusumo Mohon Tunggu...

Guru di SMAN 1 Gresik. Nyambi sebagai penulis lepas

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Belajar Menulis Sejarah dengan Puzzle

21 Oktober 2014   18:05 Diperbarui: 17 Juni 2015   20:15 0 0 0 Mohon Tunggu...

Sejarah memiliki kontribusi yang besar dalam mengarahkan peserta didik menjadi warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggungjawab serta warga dunia yang cinta damai. Dimensi ruang dan waktu dalam sejarah menghantarkan peserta didik lebih bijaksana dalam menentukan langkah-langkah hidup di masa yang akan datang.

Pemahaman yang baik atas sejarah akan memberikan penyadaran manusia tentang konsep diri, penghargaan nilai-nilai lokal, semangat kebangsaan, dan pemahaman atas peristiwa berskala global. Pengetahuan sejarah dan budaya akan membentuk manusia-manusia yang visioner dengan perspektif penalaran luas atas segala problematika kehidupan.

Namun,realitas obyektif menunjukkan sejarah acapkali dianggap sebagai mata pelajaran "nomor dua". Pasalnya, ia bukan pelajaran yang termasuk diujikan dalam Ujian Nasional (UN). Sehingga, guru tidak lagi serius menanganinya. Mereka hanya sibuk pada mata pelajaran UN-kan

Pengabaian tersebut mengakibatkan terbentuknya mindset pada diri peserta didik bahwa mata pelajaran sejarah tidak menentukan kelulusan. Mata pelajaran tersebut tidak lebih dari sekedar dongeng atau identik dengan cerita masa lalu. Mereka menganggapnya sebagai sebuah ilmu yang hanya cukup untuk dihafal. Konsep dan nilai yang terkandung didalamnya dipandang sebagai sesuatu yang tidak perlu diaplikasikan dalam kontek sosiologis yang sebenamya.

Akibatnya, yang terjadi hanyalah pembelajaran tekstual, bukan kontekstual. Yang ditemukan hanya komunikasi satu arah, bukan dialogis. Peserta didik menjadi obyek, bukan subyek belajar. Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAKEM), yang diharapkan tenrwujud, hanya terlihat rapi di kertas. Pembelajaran dan pengajaran kontekstual atau Contextual Teaching.and Learning (CTL) yang didambakan, hanya terdengar nyaring di telinga.

Oleh karena itu, revolusi pembelajaran sejarah merupakan sebuah keniscayaan. Pendekatan (approach) yang dilakukan harus tepat. Mengemas isi pembelajaran sejarah dengan memilih metode mengajar yang tepat merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi. Guru sudah sepantasnya menyibukkan diri meracik strategi pembelajaran yang jitu agar pembelajaran sejarah menjadi bermakna dan berdaya guna.

Pembelajaran Sejarah

Pembelajaran sejarah yang baik tidak sekedar transfer ilmu ke peserta didik melalui ceramah yang akhirnya terjadi verbalisme dan pembelajaran monoton seperti yang dilakukan guru sejarah pada umumnya. Akan tetapi dapat dipadukan dengan pembelajaran yang memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk melakukan sesuatu dalam menemukan jawaban dari permasalahan tema pembelajaran dan memperoleh pengetahuan secara maksimal.

Oleh karena itu proses pembelajaran sejarah yang dilakukan antara peserta didik dengan pendidik seharusnya meninggalkan cara-cara dan model yang konvensional sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

Proses pembelajaran sejarah yang baik merupakan kegiatan yang menjadikan peserta dapat memahami materi yang disampaikan. Filsosof Cina Confucius mangatakan,”Aku mendengar-aku lupa, aku melihat-aku ingat, aku melakukan aku paham. Sementara Gagne mengatakan materi pembelajaran yang disampaikan melalui ceramah hanya bisa diserap 15 persen, sedangkan 65 persen materi bisa diserap melaluinpenggunaan media, sementara 90 persen materi diserap melalui pengalaman langsung (Burhanuddin,2005:2)

Langkah tersebut di atas akan mudah terwujud apabila metode yang digunakan tepat dan efektif. Metode yang tepat dapat membantu penyampaian pesan dan mengeksplorasi pikiran sehingga peserta didik memahami pesan dalam pembelajaran. Diantara metode yang patut dipertimbangkanadalahpuzzle. Puzzle merupakan metode pembelajaran yang mutlak menuntut peserta didik melakukan tindakan nyata dan langsung terlibat.

Metode Puzzle

Menurut Patmonodewo (Misbach, Muzamil, 2010) kata puzzle berasal dari bahasa Inggris yang berarti teka-teki atau bongkar pasang, metode puzzle merupakan strategi sederhana yang dilakukan dengan bongkar pasang. Metode puzzle merupakan alat permainan edukatif yang dapat merangsang kemampuan matematika anak, yang dimainkan dengan cara membongkar pasang kepingan puzzle berdasarkan pasangannya.

Puzzle dalam kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai tebakan. Tebakan adalah sebuah masalah atau "enigma" yang diberikan sebagai hiburan; yang biasanya ditulis, atau dilakukan. Banyak tebakan berakar dari masalah matematika.

Pada awalnya, media puzzle digunakan membantu peserta didik dalam pembelajaran matematika. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan, metode ini diimplementasikan dalam pembelajaran sejarah. Ada beberapa alasan mengapa metode puzzle layak diimplementasikan.

Pertama, Puzzle merupakan bentuk permainan yang menantang daya kreatifitas dan ingatan siswa lebih mendalam dikarenakan munculnya motivasi untuk senantiasa mencoba memecahkan masalah, namun tetap menyenangkan sebab bisa di ulang-ulang. Tantangan dalam permainan ini akan selalu memberikan efek ketagihan untuk selalu mencoba, mencoba dan terus mencoba hingga berhasil.

Kedua, dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk berfikir dan bertindak imajinatif serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreatifitas anak.Proses kemerdekaan anak akan memberi kemampuan lebih pada anak untuk mengembangkan fikirannya mendapatkan kesenangan dan kemenangan dari bentuk permainan tersebut. Ambisi untuk memenangkan permainan tersebut akan memberikan nilai optimalisasi gerak dan usaha anak, sehingga akan terjadi kompetisi yang fair dan beragam dari anak.

Hal tersebut selaras dengan pendapat Adenan (1989:9). Menurutnya puzzle adalah media untuk memotivasi diri secara nyata dan merupakan daya penarik yang kuat. Puzzle sebagai media pembelajaran dapat memotivasi diri karena hal itu menawarkan sebuah tantangan yang dapat secara umum dilaksanakan dengan berhasil”.

Penulisan Sejarah (Historiografi)

Pembelajaran sejarah di Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/MA) sepatutnya dikemas secara apik dengan pendekatan kritis. Artinya penyajian materi sejarah mengacu pada persoalan kritis yang menyangkut pertanyaan mengapa peristiwa itu terjadi dan ke mana arah kejadian itu. Dengan pendekatan ini peserta didik diharapkan dapat memprediksi kemungkinan-kemungkinan peristiwa yang akan datang (future history) serta dapat memosisikan diri untuk ikut mewarnai sejarah, bukan hanya larut dalam sejarah. Secara implisit pendekatan tersebut menuntut peserta didik tidak hanya sekedar memahami, tetapi juga mengaharapkan peserta didik melakukan penulisan sejarah (historiografi).

Sebelum sampai pada tahap historiografi, terlebih dahulu dilakukan upaya mencari dan menemukan sumber-sumber sejarah, mengkaji secara kritis sumber-sumber tersebut, mengungkapkan fakta-fakta dari sumber sejarah yang telah disaring dengan kritis, dan merekonstruksi ke dalam cerita sejarah yang utuh. Ini merupakan langkah metodis yang hanya dapat dilakukan dengan kerangka sejarah sebagai ilmu.

Metode sejarah adalah seperangkat prinsip dan aturan yang sistematis, didesain untuk memberikan bantuan secara efektif dalam mengumpulkan sumber bahan bagi sejarah, menilainya secara kritis, dan menyajikan secara sintesa yang biasanya dalam bentuk tertulis dari hasil yang ditetapkan.

Menurut Nugroho Notosusanto (1964:22-30) penulisan sejarah mengikuti empat tahapan, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Heuristik adalah proses mencari dan menemukan sumber sejarah. Langkah berikutnya adalah kritik, yakni menilai keabsahan sumber sejarah tersebut. Kritik meliputi kritik intern dan kritik ekstern. Tahap selanjutnya interpretasi, yaitu menafsirkan serta merangkai fakta-fakta sejarah sehingga menjadi satu kesatuan yang rasional dan sistemik. Setelah itu baru dilakukan historiografi, penulisan atau penyajian cerita sejarah.

Menulis sejarah (Historiografi) dengan metode puzzle

Puzzle merupakan salah satu metode pembelajaran yang mutlak menuntut peserta didik melakukan atau terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Metode puzzle yang dimaksud dalam tulisan ini bukan puzzle potongan gambar, stik, angka-angka seperti gamepuzzle pada umumnya. Akan tetapi puzzle yang berupa potongan-potongan kalimat. Atau dengan kata lain kalimat yang masih berantakan, meloncat-loncat ide dan gagasannya, dan belum terstruktur.

Peserta didik belajar merangkai kalimat-kalimat tersebut menjadi sebuah kalimat runtut terstruktur, kalimat yang satu dengan lain memiliki relasi ide pokok.

Historiografi atau penulisan sejarah merupakan kompetensi tertinggi yang didapat dari proses pembelajaran sejarah. Namun demikian bukan berarti tidak bisa direngkuh. Di sinilah peran dan fungsi guru sejarah diuji. Guru yang mengampu pelajaran sejarah harus betul-betul bekerja ekstra keras agar pembelajaran yang dikelola menjadi lebih berwarna dan bermakna. Dia harus piawai memilih metode yang tepat.

Metode puzzle dapat menuntun peserta didik melakukan historiografi. Contohnya pada tema penyebaran Islam di Jawa. Dari kegiatan mengamati, peserta didik berhasil menuliskan kalimat seperti ini :Penyebaran Islam di Jawa tidak lepas dari peran walisongo/Islam disebarluaskan dengan perdagangan/Islam lebih cepat berkembang di wilayah pesisi/ Gresik merupakan kota pertama penyebaran Islam di Jawa.

Dari pengamatan tersebut peserta didik ada yang belum paham. Mereka kemudian bertanya. Dari penjelasan guru, peserta didik menambahkan pundi-pundi kalimat seperti ini : Makam Fatimah binti Maemun/Islam disebarluaskan dengan cara perkawinan/Pedagang Islam tinggal di daerah pesisir/Walisongo berperan sebagai penasehat raja/Istilah walisongo hanya ada di Jawa

Saat mencari referensi lain dan melakukan wawancara dengan nara sumber -- tahap mengumpulkan informasi/eksperimen—didapat informasi yang kemudian ditulis : Batu nisan Fatimah binti Maemun berangka tahun 1082 M/Sunan Giri menyebarkan Islam di Gresik/ Sunan Giri anak dari Maulana Iskak dengan Dewi Sekardadu/Sunan Kalijaga menyebarkan Islam dengan media seni/Di Gresik terdapat makam Maulana malik Ibrahim

Informasi yang berupa kalimat-kalimat yang masih tidak beraturan itu diolah – tahap mengolah informasi/mengasosiasikan—ditambahkan dengan beberapa informasi agar tulisan yang dihasilkan menjadi lebih luas dan dalam.

Kalimat yang telah ada itu kalau gabungkan tanpa menggunakan metode puzzle maka hasilnya sebagai berikut Penyebaran Islam di Jawa tidak lepas dari peran walisongo/Islam disebarluaskan dengan perdagangan/Islam lebih cepat berkembang di wilayah pesisir/ Gresik merupakan kota pertama penyebaran Islam di Jawa. Makam Fatimah binti Maemun/Islam disebarluaskan dengan cara perkawinan/Pedagang Islam tinggal di daerah pesisir/Walisongo berperan sebagai penasehat raja/Istilah walisongo hanya ada di Jawa. Batu nisan Fatimah binti Maemun berangka tahun 1082 M/Sunan Giri menyebarkan Islam di Gresik/ Sunan Giri anak dari Maulana Iskak dengan Dewi Sekardadu/Sunan Kalijaga menyebarkan Islam dengan media seni/Di Gresik terdapat makam Maulana malik Ibrahim

Tahap terakhir adalah tahap mengkomunikasikan. Pada tahap ini metode puzzle digunakan. Tugas peserta didik mengidentifikasi potongan-potongan kalimat yang memiliki kesamaan gagasan. Kemudian dikumpulkan sehingga menjadi sebuah paragraf yang runtut dan apik serta kronologis. Tentu ini perlu kata bantu untuk menghubungkan antara kalimat satu dengan kalimat lainnya. Pada tahap ini guru harus bekerja keras membimbing serta mengarahkan peserta didik.

Setelah mendapatkan bimbingan guru dengan metode puzzle peserta dapat menulis sejarah seperti ini :

Penyebaran Islam di Jawa tidak lepas dari peran walisongo. Istilah walisongo hanya ada di Jawa. Selain menyebarkan agama Islam, Walisongo juga berperan sebagai penasehat raja.

Agama Islam disebarluaskan dengan perdagangan. Agama Islam lebih cepat berkembang di wilayah pesisir. Karena Pedagang Islam tinggal di daerah pesisir. Gresik merupakan kota pesisir pertama penyebaran Islam di Jawa. Buktinya adalah makam Fatimah binti Maemun. Batu nisan Fatimah binti Maemun berangka tahun 1082 M. Bukti lainya adalah makam Maulana malik Ibrahim

Selain melalui perdagangan saluran Islamisasi dilakukan dengan seni budaya. Misalnya, Sunan Kalijaga menyebarkan Islam dengan media seni. Tidak hanya itu Islam juga disebarluaskan dengan cara perkawinan. Buktinya Sunan Giri anak dari Maulana Iskak (Islam) dengan Dewi Sekardadu (Hindu). Dalam perkembangan Sunan Giri dikenal penyebar Islam di Gresik

Simpulan dan Saran

Berdasarkan kajian pustaka dan pembahasan yang telah dijabarkan di depan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, mengemas isi pembelajaran, meramu strategi yang tepat dan efektif merupakan sebuah keniscayaan untuk mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Kedua, standar proses pembelajaran pada kurikulum 2013 memberikan ruang kepada guru-guru sejarah untuk berkreasi dan berinovasi mengelola proses pembelajarannya. Pengembangan RPP yang mengacu pada silabus menghasilkan langkah-langkah pembelajara mulai dari kegiatan mengamati, menanya, eksperiman, mengolah informasi dan mengkomunikasikan memungkin metode puzzle dapat diterapkan secara efektif dalam pembelajaran sejarah.

Ketiga, standar proses pembelajaran kurikulum 2013 menuntun peserta didik menghasilkan sebuah historiografi sebagai hasil belajar. Kegiatan inti yang disajikan sejalan dengan metode penulisan sejarah. Langkah-langkah pembelajaran menanya, mengamati, eksperimen, mengolah informasi, serta mengkomunikasikan selaras dengan metode penulisan sejarah. Kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi setara dengan heuristik dalam metode penulisan sejarah. Kritik dan interpretasi sejalan dengan kegiatan mengasosiasikan atau mengolah informasi. Dan mengkomunikasikan secara tertulis hasil mengamati, menanya, eksperimen, mengolah informasi itu sejalan dengan historiografi. (Perhatikan matrik di bawah ini)

Metode penulisan sejarah

Standar proses pembelajaran Kurikulum 2013

Heuristik,

mengumpulkan sumber sejarah

Kegiatannya mengamati, menanya, dan mengumpulkan informasi

Kritik

Kegiatannya mengasosiasikan, mengolah informasi

Interpretasi

Kegiatannya mengasosiasikan, mengolah informasi

Historiografi

Kegiatannya mengkomunukasikan secara tertulis hasil mengamati, menanya yang telah diasosiasikan/diolah