Mohon tunggu...
Pringadi Abdi Surya
Pringadi Abdi Surya Mohon Tunggu... Pejalan kreatif

Lahir di Palembang. Menulis puisi, cerpen, dan novel. Instagram @pringadisurya. Catatan pribadi http://catatanpringadi.com Instagramnya @pringadisurya dan Twitter @pringadi_as

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Bijak Merawat Mata Air

5 November 2018   15:17 Diperbarui: 10 November 2018   01:10 0 39 26 Mohon Tunggu...
Bijak Merawat Mata Air
Air yang selalu mengering akan sisakan sepi di kemudian hari. (dokpri)

Kami akan bersorak bilamana di langit burung-burung berkaki panjang terbang rendah. Misman, yang rumahnya di dekat hutan, mulai bercerita, ia melihat rusa sambil menakut-nakuti kami untuk tidak mencari biji kelatak di hutan karet di dekat lapangan tembak.

Katanya, kalau rusa sudah terlihat mencari air, harimau akan tak jauh di dekatnya. Ia pun mulai mendeskripsikan betapa menakutkannya raja rimba satu itu. Taringnya. Aumannya. Tak akan ada yang selamat bila bertemu dengan pemuncak rantai makanan itu.

Masa kecilku dihiasi kenangan semacam itu. Daerahku, Sukamoro, adalah tempat air berlimpah. Bila kemarau datang, kami tak akan kekeringan. Meski kemarau panjang, beberapa mata air seperti Kali Ambon yang paling dekat dengan rumahku, tetap tak akan kering.

Waktu penggunaan dan maksimal pengambilannya saja yang diatur. Aku kerap menemani orang tuaku mengambil air di sana. Pemandangan orang-orang memikul air dengan sebilah bambu di pundak sudah menjadi keseharian.

Sekarang, semua kenangan itu murni tinggal kenangan. Bahkan Kali Ambon, yang tak pernah kering, telah tak ada. Pemandangan di sekitarnya yang semula hutan belantara telah tergantikan perumahan-perumahan baru. Nasib Sukamoro, yang jaraknya tak jauh dari Kota Palembang, menjadi semata industri hunian.

Cermin Kecil Sukamoro

Hilangnya Kali Ambon di Sukamoro adalah cerminan kondisi mata air di Indonesia. Pada Lokakarya Nasional Konservasi Air Tanah (2018), Direktur Perencanaan dan Evaluasi Pengendalian Daerah Aliran Sungai Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan inventarisasi terakhir jumlah mata air di Indonesia tercatat 10.321. Jumlah ini telah mengalami penurunan hingga 40% dalam 10 tahun terakhir[1].

Berbagai laporan matinya mata air ini merata di berbagai wilayah. Di Solo, Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Air Sungai (2016) melaporkan dari total 421 mata air pada 2006, kini tinggal tersisa 233 mata air saja[2]. Ridwan Kamil (2014) juga turut mengatakan dulu Bandung memiliki lebih dari 400 seke (mata air) dan tinggal 70 yang tersisa[3]. Jumlah tersebut terus menurun seiring pembangunan di Bandung Utara sehingga menyisakan 43 seke pada 2016 (Hardjakusumah, 2017).

Senada dengan itu, di Klaten, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Klaten mencatat setidaknya 53 dari total 174 sumber mata air kering alias tak mengeluarkan air lagi[4].

Kali yang tersisa di kampung halaman. (dokpri)
Kali yang tersisa di kampung halaman. (dokpri)
Hilangnya mata air itu memberikan ancaman serius. Bukan hanya soal kebutuhan air yang terus meningkat, melainkan juga ancaman terjadinya gurun pasir (desertification) dan turunnya pertumbuhan ekonomi.

Irianto (2004) mengungkapkan bahwa jumlah mata air yang terus merosot dan kemampuan pasokan airnya menunjukkan bahwa ada ketimpangan antara pemasukan dan pengambilan[5]. Lebih lanjut, pengambilan air bumi yang dieksploitasi secara berlebihan akan menyebabkan cadangan air merosot, sehingga debit mata air menurun tajam. Dalam jangka panjang kondisi ini akan menurunkan kualitas, kuantitas dan kontinuitas keanekaragaman hayati.

Menjaga Hilangnya Mata Air

Kali Ambon berada di dekat lapangan tembak yang dikelilingi hutan belantara. Rasa takut warga setempat terhadap kawasan itu sangat kuat karena adanya cerita-cerita seram yang menyelimutinya. Ketakutan itu langsung atau tidak, membuat kealamian kawasan itu terjaga. Kali Ambon memiliki daerah yang menjadi tempat tangkapan air dengan pohon-pohon besar yang membentenginya.

Daerah-daerah lain juga memiliki ketakutan terhadap kesakralan wilayah mata air. Di Banyuwangi, terdapat dua mata air yang berdampingan. Mata air Pengantin. Dipercaya, bila ada yang berpacaran apalagi melakukan perzinahan, mata air itu akan mengering. 

Dibanyak wilayah di pulau Jawa, dikenal yang namanya nyadran. Warga setempat melakukan pemujaan ke mata air, ke pohon-pohon besar. Pengeramatan mata air dilakukan, bahkan tidak boleh membunuh hewan-hewan yang berada di sekitarnya. Jika itu dilakukan, sang pelaku akan mendapatkan kesialan. Sang penunggu mata air akan marah dan memberikan hukuman.

Modernisme memangkas rasa takut itu. Manusia jadi sedemikian berani meraup keuntungan sebesar-besarnya bahkan bila harus mengorbankan alam. Memudarnya nilai kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya air terjadi. Fungsi sosial-ekologi yang selama ini diemban masyarakat berubah menjadi fungsi ekonomi.

Kerusakan lingkungan menjadi penyebab utama hilangnya mata air tersebut. Ketua Yayasan Buruh dan Lingkungan Hidup (2010) mengungkapkan 1500 mata air di Cirebon menyusut hingga 52 mata air saja dikarenakan adanya kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Ciremai akibat penggundulan hutan dan aktivitas galian[6].

Pada intinya, pengelolaan dan pembagian lahan yang kurang bijaksana berdampak pula pada alih fungsi lahan yang tersedia untuk kebutuhan masyarakat seperti adanya pembangunan perumahan di wilayah Dago Pakar dan Sukamoro yang tidak memperhatikan aspek lingkungan tersebut.

Alih fungsi lahan dari lahan hijau terbuka menjadi daerah terbangun akan mengakibatkan terjadinya perubahan siklus hidrologi (Yuswadi, 2003)[7].

Peningkatan aliran permukaan serta menurunnya volume resapan air ke dalam tanah akan menyebabkan terjadinya erosi dan menurunnya permukaan tanah di daerah hulu serta menyebabkan banjir dan genangan wilayah di hilir (Sudarto et al., 2011)[8].

Dulunya kali. Kini jadi pemukiman. (dokpri)
Dulunya kali. Kini jadi pemukiman. (dokpri)
Menyadari semakin terbatasnya mata air tersebut tidak membuat sebagian masyarakat sadar dan justru malah mengomersialkannya. Sebagian mata air yang tersisa dimiliki pribadi warga atau swasta. Justru, mata air ini kemudian dikomersialisasi, dan bahkan dieksploitasi secara berlebihan.

Sukamoro menjadi salah satu tempat eksploitasi tersebut. Pernah ada perusahaan air minum dalam kemasan yang memiliki sumber mata air yang berlimpah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3