Pringadi Abdi Surya
Pringadi Abdi Surya pegawai negeri

Lahir di Palembang. Treasury Analyst. Pernah menulis buku kumpulan puisi, cerpen, dan novel. Kumpulan puisinya memenangkan Anugerah Pembaca Indonesia 2015. Catatan pribadi http://catatanpringadi.com Instagramnya @pringadisurya dan Twitter @pringadi_as

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Es Krim, Puisi, dan Keluarga

31 Agustus 2018   23:25 Diperbarui: 31 Agustus 2018   23:26 877 7 3
Es Krim, Puisi, dan Keluarga
Dokumentasi pribadi

Negara tidak selamanya jadi pemersatu.

Begitulah hal yang muncul di benakku beberapa tahun lalu. Pilihan hidup membuatku bertugas di Sumbawa, sedangkan istri dan anakku yang masih balita berada di Bandung. Hampir selama 1,5 tahun kami menjalani "kekeluargaan jarak jauh" dan paling cepat kami bertemu satu bulan sekali. Normalnya dua bulan sekali.

Biasanya, Jumat siang aku berangkat dari Sumbawa ke Lombok, disambung dengan pesawat dari Lombok ke Bandung (transit di Bali). Sampai pasti tengah malam sekali. Sampai di rumah, anakku barang tentu sudah tertidur. Ketika terbangun, melihat abi-nya, ia akan segera memelukku, lalu berkata, "Abi, kapan kita beli es krim?"

Ya, anakku suka sekali makan es krim. Bahkan ketika aku pindah dari Sumbawa untuk menempuh tugas belajar di Bintaro, setiap kepulangan pada akhir pekan, ia akan menuntutku untuk membelikan es krim. Biasanya, kami makan Roti Oppa---sebuah warung es krim kekinian di Bandung beberapa tahun lalu. Tapi, lebih sering lagi, beli es krim di warung dekat rumah. Favoritku dan anakku, Campina, dalam bentuk cup.

Momen membelikan dan makan es krim bersama adalah momen puitik bagiku, sehingga aku pernah membuatkannya sebuah puisi tentang itu:

Membelikan Es Krim

aku akan membelikannya es krim setiap aku pulang ke rumah

aku tak ingin ia menyadari ada leleh yang lain

setiap kulihat dirinya, kerinduan mengamuk bagai banteng

ingin menyeruduk setiap benda yang berwarna merah

ia suka rasa vanila, dengan begitu, hatiku seperti bendera

kuperhatikan dengan seksama, detik demi detik yang ada

aku telah menjadi seorang ayah, dan suatu hari ia akan dewasa

menjadi seorang gadis yang memakai rok, memegang buku

dan menatapku dengan kenangan pertemuan di akhir pekan

aku selamanya menjadi pacarnya, cinta pertamanya

dengan segala kelemahan dan luputnya perhatian

sampai kubayangkan lelaki lain akan merampasnya dari pelukanku

ia akan duduk di pelaminan, memakai gaun, bunga-bunga

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2