Mohon tunggu...
Predi Sinaga
Predi Sinaga Mohon Tunggu... Perencana Keuangan - Menyuarakan suara dengan coretan

Pemikir dan Akademisi yang terus menggali/ Apresiasi coretan saya dengan cara terbaikmu

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Stabilisasi Sistem Keuangan di Tengah Ancaman Pandemi: Masyarakat Bisa Apa?

10 Juni 2020   22:00 Diperbarui: 10 Juni 2020   21:51 204
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Pada dasarnya, melakukan pembelian atau kegiatan konsumsi adalah suatu hal yang bagus dalam ilmu ekonomi, konsumsi yang tinggi menandakan bahwa masyarakat memiliki daya beli yang bagus. Namun, ketika pembelian itu dilakukan secara besar besaran akan menimbulkan efek yang saling ketergantungan diantara salah satu satu proses seperti berikut.

pembelian besar besaran >jumlah penawaran akan lebih besar dari permintaan>supply berkurang>harga naik>inflasi.

pembelian besar besaran>permintaan akan uang besar>jumlah uang beredar meningkat>liquiditas menurun>suku bunga naik>lembaga keuangan takedown>investasi menurun>resesi ekonomi.

Hal ini akan membuat kemampuan masyarakat lebih rendah untuk barang yang sama, dan ini tentunya akan mempengaruhi perekonomian dan khususnya berdampak negatif pada sistem keuangan kita. Jadi stop untuk panic buying!

2. Tidak melakukan penarikan dana di lembaga keuangan bank dan non bank secara besar besaran

Poin kedua ini masih memiliki keterkaitan dengan poin pertama tadi dimana kecenderungan masyarakat akan konsumsi akan meningkatkan permintaan akan uang baik dari lembaga keuangan non bank seperti (asuransi,pasar modal koperasi) dan juga pada instrumen keuangan bank seperti deposito dan lainnya. 

Kembali lagi dengan anggapan yang sama bahwa masyarakat merasa mengapa kita harus dibatasi untuk menikmati hak kita sendiri?. Kondisi seperti ini perlu saya jelaskan ulang mengapa anjuran untuk tidak melakukan penarikan dana secara besar besaran adalah untuk kepentingan masyarakat sendiri. Sejenak kita mundur mengingat krisis ekonomi 1998 yang menimpa Indonesia dimana inflasi hampir ke angka 80%.  

Inflasi setinggi ini tidak lepas dari tindakan masyarakat yang melakukan penarikan dana secara besar besaran dan menjual instrumen keuangan seperti deposito dan obligasi secara mendadak. 

Apa yang terjadi?, pasar keuangan dan lembaga keuangan berakhir jeblok, DPK (Dana Pihak Ketiga) berkurang drastis, dan krisis moneter pun terjadi. Tentunya efek ini bertransisi ke sektor riil dimana salah satu sektor yang dipukul oleh krisis ini adalah sektor properti, banyak investor yang tidak bisa membayar pinjaman, disisi lain permintaan akan properti mendekati nilai 0. Peristiwa double attack ini juga sebagai penyumbang terbesar dalam krisis ekonomi 1998. 

Apa yang mau saya jelaskan dari peristiwa ini?, salah satu tujuannya adalah mengajak masyarakat untuk belajar dari pengalaman bahwa kepuasan dalam jangan pendek dapat menimbulkan masalah secara luas dalam jangka panjang, contohnya adalah krisis moneter tersebut. 

Tujuan lainnya adalah untuk memberi pemahaman terhadap masyarakat agar lebih bijak untuk bertindak ditengah ketidakpastian seperti ini. Bertindak bijak seperti mengontrol dan me-manage keuangan secara baik, melakukan investasi dengan tetap memperhitungkan risiko yang terjadi, dan tidak melakukan spekulasi yang berlebihan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun