Mohon tunggu...
Predi Sinaga
Predi Sinaga Mohon Tunggu... Perencana Keuangan - Menyuarakan suara dengan coretan

Pemikir dan Akademisi yang terus menggali/ Apresiasi coretan saya dengan cara terbaikmu

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Stabilisasi Sistem Keuangan di Tengah Ancaman Pandemi: Masyarakat Bisa Apa?

10 Juni 2020   22:00 Diperbarui: 10 Juni 2020   21:51 204
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tahun 2020 adalah tahun yang penuh dengan ketidakpastian, pandemi covid 19 memberikan effect yang sangat besar terhadap perilaku masyarakat diseluruh negara. Di Indonesia, pandemi ini setidaknya menyumbang dampak negatif hampir 90 % pada seluruh sisi kehidupan, mulai dari ekonomi, keuangan, pendidikan, kesehatan,dan sosiobudaya di masyarakat. 

Dari sisi ekonomi, setidaknya ada  beberapa sektor  yang mendapatkan pukulan keras dari pandemi ini diantaranya: sektor rill (properti, perusahaan ekspor impor, jasa transportasi, dan UMKM). Begitu pula di sektor keuangan, hal yang sama juga terjadi, hal ini karena memang sektor ekonomi dan keuangan secara statistik  memiliki korelasi yang positif.

Super attack pandemi ini memang suatu hal yang tidak bisa diprediksi oleh siapapun sebelumnya, oleh karena itu segala bentuk pengendalian baik dari pihak konsumen, produsen dan pemerintah pun sama sama tidak memadai.

Kurangnya persiapan dari setiap pihak ditambah lagi kebijakan pembatasan sosial pemerintah menyebabkan munculnya momentum  shock demand dan under supply di masyarakat. Hal ini bisa kita lihat dengan kejadian kejadian seperti:

  1. Melakukan pembelian besar besaran terhadap bahan baku dan proteksi medis seperti (masker, handsanitizer, dll).
  2. Melakukan penarikan uang secara besar besaran dari lembaga keuangan seperti bank.
  3. Menarik dana investasi dari berbagai instrumen investasi seperti saham, reksadana, obligasi, dan deposito,
  4. dll.

Perilaku masyarakat seperti ini menjadi ancaman serius terhadap sistem keuangan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Bank Indonesia sebagai pengambil kebijakan moneter juga telah berusaha untuk menjaga stabilitas keuangan ditengah gejolak perekonomian yang ada. 

Kebijakan moneter yang bisa dilakukan BI diantaranya adalah : mengatur tingkat suku bunga pinjam dan simpanan, mengatur jumlah uang yang beredar, dan juga melakukan fungsi lainnya seperti intermediasi.

Sebagai negara yang luas, tentunya diperlukan kesesuaian antara pengambil kebijakan dengan masyarakat agar kebijakan yang diambil dapat memberikan dampak yang positif bagi perekonomian nasional. 

Oleh karena itu peran masyarakat dalam menjaga stabilitas sistem keuangan juga menjadi kunci keberhasilan dalam mempertahankan perekonomian yang stabil. Setidaknya ada beberapa tindakan real yang bisa dilakukan masyarakat dalam rangka sumbangsih stabilitas sistem keuangan yang konsisten diantaranya:

1. Tidak melakukan pembelian secara besar besaran (panic buying)

Apa salahnya sih dengan panic buying?, bukankah saya membelanjakan uang saya sendiri?, kalau barangnya habis bukannya bisa diproduksi lagi?. Pertanyaan sejenis ini adalah sesuatu yang sering menjadi alasan masyarakat merasa bahwa panic buying itu tidak menjadi masalah. 

Hal lain yang lebih parah adalah masyarakat hanya mengerti bahwa masalah panic buying hanya sebatas kurangnya stock barang untuk orang lain. Hal ini juga sebagai indikator yang menunjukkan bahwa masyarakat perlu mendapatkan edukasi yang lebih mengenai Transition effect dari panic buying itu sendiri. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun