Emanuel Pratomo
Emanuel Pratomo Meneropong

twitter: @prattemm88 mail: prattemm@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Finansial Artikel Utama

Inisiatif Listrik Kerakyatan yang Ramah Lingkungan

31 Januari 2018   19:07 Diperbarui: 7 Agustus 2018   20:10 1281 2 1
Inisiatif Listrik Kerakyatan yang Ramah Lingkungan
Ketua STT PLN Supriadi Legino mengoperasikan reaktor 'Listrik Kerakyatan' di Jakarta, Kamis (18/5/2017). Sekolah Tinggi Teknik PLN (STT PLN) menginisiasi Listrik Kerakyatan (LK) yang ramah lingkungan | Sumber: Tribunnews

Solusi mengenai masalah sampah perkotaan dan solusi pasokan listrik daerah terpencil adalah dua solusi yang kini tengah terus diimplementasikan. Melalui teknologi sederhana, solusi kedua masalah tersebut kiranya dapat mengubah pola pikir pengelolaan ketenagalistrikan dalam menjawab berbagai permasalahan energi dan lingkungan.

Dominasi energi fosil seperti migas dan batu bara dalam tersedianya tenaga listrik, yang justru semakin menaikkan harga listrik akibat cadangannya yang semakin menipis. Di sisi lain ada alternatif energi terbarukan yang telah disediakan oleh alam seperti air, angin, matahari. Bahkan sampah yang menjadi limbah pemukiman, telah dapat dijadikan alternatif energi terbarukan. 

Pemanfaatan energi terbarukan dapat dimaksimalkan dengan konsep pembangkitan skala kecil tersebar (distributed generation). Dapat dibangun di lingkungan perkotaan menggunakan bahan bakar sampah dan daerah terpencil menggunakan bahan bakar biomassa tanaman. Dapat juga dibangun di dekat jaringan distribusi Perusahaan Listrik Negara (PLN). Jaringan transmisi tegangan tinggi yang dimiliki PLN, tentunya sudah tak dibutuhkan lagi. Ini tentu sangat menguntungkan dengan melihat permasalahan kompleks dan mahalnya jaringan transmisi tegangan tinggi.

Sempat ada polemik mengenai proyek kelistrikan 35.000 MW. Terlepas siapa yang paling benar, kepemilikan bisnis kelistrikan (IPP~ Independent Power Producer) masih didominasi oleh investor/pebisnis raksasa dalam dan luar negeri. 

Pengelolaan listrik oleh pemerintah melalui BUMN maupun pihak swasta melalui skema IPP, telah menjadikan rakyat hanya seorang konsumen yang sepenuhnya tergantung pada perusahaan listrik. Padahal pelayanan listrik masih jauh dari memuaskan. Sering terjadi pemadaman listrik, bahkan masih banyak jutaan masyarakat yang belum dapat menikmati fasilitas aliran listrik hingga kini.

Maka telah tercetuslah oleh beberapa pelopor untuk membuat sebuah model yang disebut dengan nama Listrik Kerakyatan (LK). Ini merupakan suatu model penyediaan dan pengembangan energi listrik dari bauran pembangkit  sederhana skala kecil menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan serta dapat dikelola oleh penduduk setempat. Kini masyarakat menengah ke bawah telah memiliki kesempatan untuk menjadi bagian sebagai pelaku IPP.

Koleksi pribadi
Koleksi pribadi
Oh ternyata, ada tiga orang inisiator Listrik Kerakyatan yang merupakan insan PLN. Djoko Paryoto berhasil mewujudkan gagasan mengelola sampah organik di lingkungannya sendiri yaitu RW-10 Kelurahan Pondok Kopi Jakarta Timur. Sejak tahun 2006, program pemisahan sampah organik telah berkembang menjadi budaya masyarakat di sekitar perumahan. 

Manfaat yang telah dirasakan langsung dari pengelolaan sampah organik adalah menghasilkan pupuk cair organik dan gas untuk kebutuhan memasak rumah tangga. Keberhasilan gagasan pria yang menjabat Wakil Ketua Sekolah Tinggi Teknik - PLN (STT-PLN) Jakarta inilah, yang menimbulkan sebuah inisiatif listrik kerakyatan. 

Telah lebih dari dua belas tahun Sonny Djatnika Sundadjaya yang seorang praktisi metalurgi, melakukan uji coba atas gagasan mengubah sampah menjadi briket Refused Derived Fuel (RFD) dan bahan bangunan dengan memanfaatkan fenomena kimiawi alamiah yang murah dan ramah lingkungan. STT-PLN dalam bimbingan Sonny, telah melakukan uji coba cara pengolahan sampah campuran dengan model yang disebut refinari massa hayati yang tidak memerlukan pemisahan sampah organik yang cukup merepotkan.

Sementara itu ketika Santoso Janu Warsono selama menjabat general manager di PT PLN (Persero) dan juga dosen STT-PLN, telah berhasil melakukan uji coba pembuatan bahan bakar pembangkit dari bonggol jagung dan pellet kayu. Menariknya pellet ini dapat diubah lebih lanjut menjadi gas sintetis untuk menjalankan pembangkit listrik skala kecil. Untuk menghasilkan pellet biomassa yang berkualitas baik, telah ditemukan penggunaan tanaman yang sangat cocok yaitu kayu pohon kaliandra merah.

Keunikan kaliandra merah adalah daunnya sangat cocok untuk pakan kambing, bunganya disukai oleh kumbang yang menghasilkan jenis madu bermutu tinggi, serta dapat tumbuh di daerah kering bahkan dapat menyuburkan lahan kritis. 

Akhirnya STT-PLN dibawah asuhan Santoso, telah dapat membangun pembangkit biomassa yang menghasilkan listrik berkapasitas 50 kW di Sulawesi Utara.

Foto: Prattemm
Foto: Prattemm
Inisiatif Listrik Kerakyatan yang digagas oleh para insan STT-PLN dan PLN, telah dituangkan dalam sebuah buku berjudul Inisiatif Listrik Kerakyatan yang Ramah Lingkungan. Buku setebal 78 halaman ini diterbitkan oleh Jurusan Teknik Mesin STT-PLN pada Agustus 2016, serta ditulis oleh Supriadi Legino yang merupakan Ketua STT-PLN Jakarta.  

Supriadi Legino yang sempat mencapai karir tertinggi di PLN sebagai direktur SDM, memberikan bukti nyata bahwa gagasan model listrik kerakyatan STT-PLN dapat dioperasikan melalui suatu model percontohan. Seluruh proyek ujicoba menggunakan berbagai peralatan yang sudah ada di pasaran maupun yang sudah diproduksi oleh produsen dalam negeri. Inilah prinsip Knowledge Management yang diadopsi STT-PLN dalam mengimplementasikan gagasan LK secara mudah dan cepat, yaitu Not reinventing the wheel

Pimpinan negara maupun masyarakat, baru memiliki budaya untuk percaya apabila sudah ada contoh nyata yang terbukti bermanfaat bagi mereka. Inilah mengapa banyak gagasan terhambat terlaksana dan hanya berputar dari seminar ke seminar tanpa menjadi kenyataan. 

Tentu masih diperlukan upaya sosialisasi ke berbagai pihak, agar ketika dalam tahap komersialisasi dapat memberikan manfaat ganda. Akan ada pemerataan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setiap lokasi LK di berbagai pelosok tanah air dengan serapan tenaga kerja, juga produksi peralatan buatan dalam negeri. 

Sosialisasi ke pemerintah sangat perlu dilakukan dalam upaya untuk meyakinkan bahwa banyak manfaat besar seandainya dilaksanakan program nasional Listrik Kerakyatan. Manfaanya antara lain, akan teratasinya daerah krisis listrik di luar Jawa, tercapainya target pembangkit energi terbarukan sebesar 25% pada tahun 2025, tercapainya rasio elektrifikasi mendekati 100% termasuk pelistrikan seluruh desa secara mandiri sebelum tahun 2020, serta memgurangi ketergantungan pelistrikan daerah terisolir kepada pinjaman luar negeri, APBN dan APBD. 

Listrik Kerakyatan akan menjadi simbol keberpihakan pemerintah kepada pengusaha lokal dan produk dalam negeri, meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan terbukanya peluang ratusan ribu tenaga kerja lokal menjadi tenaga ahli bidang ketenagalistrikan. 

Setiap desa yang memiliki sentra pembangkitan mini, tak hanya mandiri dalam pemenuhan kebutuhan listrik desa. Namun juga dapat menyumbangkan energi ke sistem jaringan nasional, sehingga tak perlu menghabiskan anggaran negara dan anggaran PLN yang sangat besar untuk menarik jaringan listrik ke desa yang sangat terbatas konsumennya.