Petrus Kanisius
Petrus Kanisius karyawan swasta

Belajar menulis

Selanjutnya

Tutup

Muda

Merdeka Dimanakah Kita, Anak Muda?

14 Agustus 2015   15:47 Diperbarui: 14 Agustus 2015   16:03 324 1 2

Foto dok. mobavatar.com, dlm berdikari.com

Tahun 2015, tepatnya tanggal 17 Agustus, Indonesia sudah memasuki usia yang ke-70 tahun sejak 1945 untuk memperingati hari kemerdekaannya. Beragam persiapan seperti upacara bendera bersama, perlombaan-perlombaan, refleksi dari makna kemerdekaan dan lain sebagainnya. Hal itu sepertinya menjadi ragam untuk menjadi rutinitas yang selalu dipersiapkan dan memaknai kemerdekaan negara tercinta Indonesia. Sebuah tanya, medeka dimanakah kita, anak muda?.

Tentu para pejuang bangsa ini tidak habis akal dan cara bagaimana mereka dulu berjuang dengan tetes darah penghabisan tetapi tidak pamrih. Sejatinya mereka hanya memikirkan bagaimana cara agar bangsa ini terbebas dari segala penjajahan. Keberhasilan menumpas penjajahan di medan perang mungkin telah usai, dan kita bisa sebut merdeka. Demikian juga setiap 17 Agustus selalu diperingati untuk mengenang jasa dan hasil para jerih payah pejuang dalam memperjuangkan bangsa ini hingga terbebas dari para penjajahan. Namun kini, kemerdekaan bangsa cenderung berbalik arah menjadi tanya merdeka dimanakah?. Jawabnya mungkin salah atau juga benar, secara kasat mata atau terselubung bisa dikatakan bangsa ini sejujurnya belumlah sepenuhnya merdeka.

Dimanakah kita belum merdekanya ?
- Belum merdeka sepenuhnya dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN), tengok saja semakin banyak yang terjerat kasus korupsi bahkan hingga singgasana jabatan ada yang mencoba membuat dinasti. Ini sungguh-sungguh terjadi dan sedikit banyak mencederai bangsa ini.

- Tingkat kemiskinan masih saja tersebar dibeberapa provinsi di Indonesia. Tidak untuk mengoreksi pemerintah dari dulu hingga sekarang, namun sepertinya tingkat kemiskinan dan orang miskin semakin bertambah.
- Harga kebutuhan pokok semakin meroket, rakyat kecil semakin menjerit.

- Sumber Daya Alam semakin kritis dan terkikis. Kekayaan alam Indonesia hanya segelintir orang yang menikmati dan negara-negara luar. Kerusakan lingkungan semakin menghawatirkan. Banyak yang menyalahkan alam, tetapi sesungguhnya bukan alam semesta yang disalahkan.

- Ekonomi dan mata uang masih belum stabil. Banyak negara yang takut untuk investasi.

- Orang-orang pintar (SDM) lebih memilih kerja dan berkarya di luar negeri karena jarang dihargai. Demikian juga sebaliknya di daerah, putra daerah jarang diberi kesempatan untuk membangun daerahnya.

- Tidak sedikit para pejabat yang hanya memikirkan harta, tahta dan kepentingan duniawi demi diri ketimbang berderma untuk sesama yang lebih membutuhkan.

- UUD seperti semudah membalikan telapak tangan sehingga dipermainkan dan hanya untuk kepuasan semata untuk pemerataan serta pembangunan.

- Kekerasan fisik, terhadap anak, kurangnya penghargaan terhadap kaum difabel dan duafa kian menjamur diberbagai penjuru.

- Pemerataan pembangunan dan infrasuktur disegala bidang menjadi kendala utama karena wilayah Indonesia yang luas. Gedung pencakar langit vs gubuk-gubuk di tepi hutan dan tepian sawah.

- Masih ada masyarakat yang gelap gulita belum bisa menikmati penerangan, belum bisa sekolah karena tidak ada biaya dan tidak bisa berobat karena tidak ada medis. Ini benar-benar terjadi di pedalaman-pedalaman (mungkin dari Sabang sampai Merauke).

- Adat dan budaya terkadang jarang ditonjolkan akibat kalah bersaing di era modern saat ini. Anak muda lebih suka meniru hal-hal baru yang cenderung menghilangkan adat dan budayanya.

Satu kata tentang sebuah tanda tanya ini mungkin bisa dikata adalah pekerjaan rumah bangsa ini dan termasuk kita semua. Para pejuang menitipkan capaian kemerdekaan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk saling bahu membahu dan membangun berkeinginan mejaga nama negara tercinta.

Semoga saja... Merdeka....!!!!.. bukan Mereka.

By : Petrus Kanisius-Yayasan Palung