Mohon tunggu...
Pical Gadi
Pical Gadi Mohon Tunggu... Karyawan Swasta

Lebih sering mengisi kanal fiksi | People Empowerment Activist | Phlegmatis-Damai| twitter: @picalg | picalg.blogspot.com | planet-fiksi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Demit] Teka-teki Belum Terpecahkan

17 Maret 2019   21:28 Diperbarui: 17 Maret 2019   22:40 0 20 4 Mohon Tunggu...
[Demit] Teka-teki Belum Terpecahkan
gambar dari istockphoto.com/

Sekujur badanku terasa berat dan ... sakit. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan kelopak mataku untuk memastikan aku masih hidup. Tapi sepertinya aku belum mati. Dari sepi bisu, perlahan-lahan gendang telingaku mulai menangkap getaran-getaran suara. Awalnya hanya suara kecil, tidak lebih dari dengungan tanpa makna lalu semakin lama gendang telingaku semakin berfungsi.

Dengungan tanpa makna berubah menjadi suara-suara yang lebih jelas. Sepertinya banyak orang di sekitarku. Aku menangkap kepanikan dan kesedihan. Aku seperti mengenal beberapa suara mereka.

Bukan hanya telinga, kelopak mataku juga mulai berdenyut. Aku pun berusaha sekuat tenaga membuatnya terbuka. Ah berat sekali.

Aku pun bisa merasakan tangan kananku digenggam dengan erat. Permukaan kulitku yang lain juga mulai bisa mengindra suhu dingin dari air conditioner. Hidungku juga mulai ... ah, ini seperti aroma ruangan rumah sakit.

Setelah berusaha sekuat tenaga, kelopak mataku bisa digerakkan. Samar-samar aku mulai melihat wajah-wajah. Aku bisa menangkap kecemasan dari pandangan mereka.

"Dia sudah sadar..."

Aku menoleh ke asal suara itu. Seorang lelaki berwajah tampan yang bersuara. Dia-lah rupanya yang sejak tadi menggenggam tanganku.

"Kamu tidak apa-apa, Sayang?" tanyanya lagi.

 Aku merasa seperti sangat mengenalnya. Dia itu ... arh! Kepalaku berdenyut keras dan sakit tiba-tiba.

"Sudah, sudah! Kamu jangan banyak gerak dulu, kata dokter."

"Aku panggil suster dulu, ya," suara lainnya terdengar. Wanita pemilik suara memandangku sesaat dengan tatapan aneh, lalu pergi meninggalkan kami setelah lelaki itu mengangguk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3