Mohon tunggu...
Yudha Adi Putra
Yudha Adi Putra Mohon Tunggu... Penulis - Penulis Tidak Pernah Mati

Penulis

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Esais dan Esai yang Terakhir

24 November 2022   19:20 Diperbarui: 24 November 2022   19:36 92
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Esais dan Esai yang Terakhir

Cerpen Yudha Adi Putra

Seharusnya aku tidak menyindirnya kala itu. Mungkin ada benarnya, Yudha mengatakan kalau dirinya seorang penulis, tapi buku sebagai bentuk karyanya tidak ada. Wajar saja bukan, kalau orang awam seperti diriku bertanya-tanya. Bagaimana dia bisa meyakinkan orang lain dan mengatakan dirinya sebagai penulis yang tidak punya karya. Dasar aneh.

Namun, setiap kali aku melihat kesombongannya, seketika hasrat ingin mengkritiknya menjadi muncul. Entah dalam cara halus atau dengan cara terang-terangan berkomentar. Apakah benar ia seorang penulis ? Bahkan esais ? Atau hanya aku sendiri yang meragukannya dan merasa penting untuk dia membuktikan keberadaan karyanya ? Ah, selalu saja pertanyaan itu muncul ketika mengetahui Yudha mengatakan kalau dirinya penulis di depan banyak orang.

 Tapi ada baiknya aku memastikan bahwa dia benar-benar penulis. Buka tanpa maksud, aku tidak ingin banyak orang kagum dengan bualannya yang tanpa bukti. Belum soal kata penyemangat bahwa penulis tidak pernah mati. Itu menyebalkan sekali. Sore nanti, aku akan bertemu dengan Yudha dan beberapa teman lain di angkringan. 

Mungkin, tempat itu akan menjadi ramai dengan bualannya. Bualan yang mengatakan kalau Yudha seorang penulis hebat, ada karya dimana-mana. Tapi, itu semua cuma dikatakan saja. Tidak pernah kami membaca atau melihat karya Yudha di koran atau media, bahkan dalam buku tidak ada. Rasa percaya dirinya memang patut diapresiasi, tapi kalau berlebihan itu menjadi menyebalkan sekali.

 "Aku ingin bertemu beberapa esais, dalam waktu singkat aku ingin membuat kado berupa kumpulan esai. Jadi, ada rencana untuk membuat buku kumpulan esai. Yudha, kau sering mengatakan bahwa dirimu penulis, bagaimana jika ada tulisanmu dalam kumpulan esai yang menjadi kado milikku itu. Kebetulan, aku belum pernah mengetahui dimana buku yang memuat karyamu. 

Karya esaimu sepertinya menarik jika ada dalam buku. Itu akan bermanfaat." Ujarku pada Yudha. Ketika itu, ia habis menceritakan soal tulisannya mengenai pertumbuhan penduduk dan minimnya minat membaca masyarakat. Tentu, banyak orang di angkringan menjadi heran. Apa sebenarnya yang diharapkan dari Yudha.

 "Kebetulan sekali itu, nanti kita bisa usul esais-esais hebat untuk menulis dan mungkin saja esai dari Yudha menjadi esai yang terbaik. Bisa juga, esai tulisan Yudha menjadi kumpulan esai dalam buku yang manis. Bagaimana Yudha, percakapanmu tentang tulisan bisa dijadikan buku, bukankah itu menarik ?" ujar Pak Tomi pemilik angkringan. 

Mungkin Pak Tomi juga merasakan kesal, setiap datang ke angkringannya. Yudha selalu saja berbicara soal tulisan dan dirinya yang menjadi penulis. Tetapi, semua itu seperti berbohong saja karena tidak ada buktinya. Kesempatan itu dijadikan sebuah tantangan pembuktian bagi mereka yang mendengarkan cerita Yudha, bahwa Yudha mengaku sebagai seorang penulis.

Aku tidak tahu yang ada dalam pikirannya Yudha. Dia hanya diam. Sorot mata yang menjadi jendela hati manusia paling jujur juga tidak nampak. Yudha memalingkan pandangannya, asyik merokok. Mungkinkah yang dipikirkan Yudha soal keuntungan ? Ingin populer karena cepat karena menulis atau ingin tulisannya dikenang banyak orang. Dia hanya terdiam, masing-masing yang ada di angkringan membawa pandangannya soal kenapa Yudha menjadi diam.

 Bualan yang ramai ketika menulis dan menghasilkan karya tiba-tiba diam seolah tidak terjadi apa-apa. Yudha hanya diam. Aku tahu, kalau diriku bukan orang yang paham soal tulisan dan bagaimana tulisan biar enak untuk dibaca. Bisa juga, aku tidak mengetahui apa yang diinginkan banyak orang dari tulisan.

Tapi, pembuktian dari Yudha setidaknya menjadi pembelajaran bahwa untuk bisa menjadi penulis harus menulis, bukannya diam. Atau diamnya Yudha menjadi persiapan pembuktian ? Entahlah. Aku tidak tahu.

***

"Aku tidak terbiasa membuka HP untuk membaca tulisan yang panjang. Nanti saja bagaimana, kalau tulisan esaimu dalam buku yang rapi dan sampul menggemaskan. Aku pasti akan baca dan membeli dengan senang," jawabku ketika Yudha memberi tahu bahwa tulisannya sudah dikumpulkan dalam laman, tentu hanya bisa dibaca melalui HP ketika terhubung ke internet. Tentu aku malas, mata yang kian minus ini kujaga supaya tidak lama dalam menatap layar.

"Baiklah, tapi aku ini esais. Esaiku sudah ada di banyak media lokal, bahkan ada yang di majalah internasional," jawab Yudha membela dirinya, bahwa ia seorang penulis.

Tentu aku semakin geram mendengarnya. Baru saja menulis di laman, bisa juga itu cuma dari tulisan orang lain. Kenapa ia begitu bangga, aku tidak meremehkan. Tapi bualannya kali ini soal laman sungguh menyebalkan. Hingga, waktu berganti bulan. Kami bertemu lagi di angkringan. Kebetulan Yudha datang duluan, ia mempersiapkan selembar koran dan minuman.

"Ini ada cerpenku dan esai sastra tulisanku dimuat di koran lokal. Kalau yang ini, ada puisiku dimuat Koran Ibu Kota," sapa Yudha dengan menunjukkan koran yang dibawanya. Entah benar atau tidak, aku malas menanggapinya.

"Itu baru sekali dimuat bukan. Memangnya apa kelebihan koran, kita membayar saja nanti bisa dituliskan. Belum tentu seperti itu bisa membuat dirimu pantas disebut sebagai penulis, apalagi esais. Ayolah, coba menulis buku. Aku akan membaca dengan seksama kalau dari buku, kalau cuma koran saja, itu membaca sambil lalu," jawabku sambil memunguti gorengan dan sendok untuk makan nasi kucing. Aku lapar sekali selepas mengajar siang itu.

***

Hari terus berlalu, Yudha masih berkoar-koar kalau dia seorang penulis, bahkan ketika mengenal laman media sosial, semuanya dipenuhi tulisan bahwa dia seorang esais. Kadang ini menyebalkan, tapi aku semakin tertantang untuk meminta pembuktian darinya. 

Buku, sebuah buku akan menjadi pembuktian yang cukup meyakinkan dibandingan banyak ungkapan tanpa bukti. Yudha sepertinya merasakan sindiranku, ketidaksenanganku karena mengkritiknya. Maklum, penulis memang idealis bukan, ada hal yang tidak bisa diganggu. Aku menyebutnya penulis karena menulis cerita soal dirinya sendiri, bahkan dengan tidak menghasilkan karya.

"Minggu depan aku ada bedah buku, itu kumpulan esaiku mengenai menulis di angkringan. Terima kasih sudah meragukan," sapa Yudha ketika bertemu di tempat pembuangan sampah di pagi hari.

Aku tidak tahu harus berkomentar saja. Aku tunggu hari yang dikatakannya itu. Jangan-jangan dia tidak benar bedah buku, kapan dia menulis, bukannya dia hanya berbicara saja, lebih tepatnya membual. Aku semakin keheranan. Hingga ada informasi di Hpku, sebuah berita tentang bedah buku yang akan diulas oleh 5 profesor sekaligus. 

Buku macam apa ini, aku keheranan. Siapa yang menulisnya ? Apa yang ditulisnya ? Kenapa bisa langsung bersama dengan 5 profesor ? dan berbagai pertanyaan meragukan lainnya. Sial aku tersentak membaca siapa yang menulisnya. Setengah tidak percaya. Ada nama Yudha Adi Putra sebagai penulisnya. Terlihat dengan jelas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun