M U Ginting
M U Ginting

penggemar dan pembaca Kompasiana

Selanjutnya

Tutup

Media

Soal Porno Kominfo

6 Maret 2018   22:43 Diperbarui: 6 Maret 2018   23:23 314 0 0

Zaman dulu ketika kita semua masih telanjang bulat, he he . . tidak ada juga yang ngerti porno, apalagi larangan, larangan bagi anak-anak dsb. Kemudian orang bikin pakaian dan telanjang jadi 'malu' dan kemaluanpun ditutupi sepanjang hari. 

Kominfo pun memberangus situs porno atau yang dianggap porno. Muncul perdebatan atau kritikan terhadap Kominfo soal  pemberangusan situs yang dianggap porno oleh Kominfo, apakah sikap Kominfo bisa bermanfaat menjaga keracunan porno bagi anak-anak generasi muda bangsa ini. Rasanya memang terlalu gampanglah kalau dengan penutupan situs itu soalnya sudah selesai.

Dari satu seginya baguslah kalau banyak yang menguraikan dan mengkedepankan sikap dan pandangannya terhadap kebijakan Kominfo dalam pekerjaan sehari-harinya menghadapi persoalan yang sangat komplikasi ini. 

Siapa tahu diantara sekian juta pendapat, mungkin ada, atau pasti ada menurut pemikiran saya, yang akan bermanfaat bagi Kominfo dalam mengatasi persoalan masyarakat yang rumit ini. Itulah pula hebatnya era keterbukaan dan internet, bisa mengaktifkan banyak orang dan adanya aliran informasi yang bebas. Soalnya memang tidak gampang dalam menghadapi kekuatan 'alamiah' sexuality dizaman sekarang.

Peninjauan lainnya ialah adanya kekuatan alamiah yang luar biasa kuatnya itu dalam sexuality, dan yang dizaman modern ini orang pada  berlomba untuk memanfaatkannya, untuk cari duit dan cari kekuasaan (Greed and Power). 

Soal inilah saya pikir yang paling rumit untuk menjelaskannya apalagi cari solusinya. Siapapun bekerja di Kominfo pastilah sudah menyedari bahwa kerjaan ini tidak boleh leha-leha saja sambil bikin regulasi dan penutupan situs-situs tertentu yang dalam kenyataan cepat bisa diganti lagi dengan yang baru. Kekuatan alamiah yang inheren tadi jauh lebih kuat dan kuasa dari kekuatan yang ada di Kominfo. 

Yang positif ialah bahwa kekuatan pemikiran ratusan juta manusia akan tetap lebih kuat dari kekuatan segelintir kelompok yang memanfaatkan porno. Tetapi bagaimana memanfaatkan kekuatan itu? Itulah problem dan solusi era keterbukaan, memanfaatkan pendapat/opini jutaan manusia demi perkembangan dan kemajuan bersama.

Kembali ke kekuatan inherent sexuality tadi, kadang-kadang terjadi, kalau jalan-jalan ke kota bersama istri, dan tiba-tiba didepan mata terpajang papan reklam wanita muda cantik setengah telanjang, wow . . . bermacam-macam kelakuan saya. Yang paling tidak enak kalau jalan bersama anak-anak yang wanita, antara dilirik atau tidak gambar wanita cantik itu . . . selalu saja dilematis . . . terutama bagi saya ini, orang Timur kita bilang. Lebih celaka rasanya kalau jalan bersama mertua.

Saya memang sangat jauh dari pemikiran, atau tidak pernah memikirkan  sebab-sebanya mengapa saya begitu gundah dan gelisah tiap kali menghadapi problem itu. Apakah hanya saya yang begitu? Atau biarkan sajalah itu berlalu begitu saja. Cuekin saja deh.

Tak abis pikir kadang-kadang mengapa begitu kuat gangguan perasaan hanya karena papan reklam dengan wanita cantik setengah telanjang. Dan bagaimana kalau bukan setengah telanjang tetapi telanjang sepenuhnya? 

Wa ha ha . . . Dan ini baru kekuatan perasaan dalam diri satu orang, saya sendiri. Bagaimana kalau perasaan ribuan orang atau ratusan ribu orang? Tentu jadi kekuatan luar biasa! Kekuatan luar biasa yang inherent dalam sexuality, yang sekarang ini sudah begitu aktual dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu. Bakal diarahkan kemana kekuatan luar biasa itu?

Salah satu jelas terlihat jualan pakaian mini itu he he he . .

Apakah ada tujuan lain dalam mengarahkan kekuatan sexuality itu?

"As long as half-naked girls fill our billboards and our minds, we can be controlled." kata seorang Doktor bernama Henry Makow. Lihat di sini.