Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

AHY dan Politikus Muda, Belajarlah dari Prabowo!

22 Mei 2019   10:59 Diperbarui: 22 Mei 2019   11:14 0 31 9 Mohon Tunggu...
AHY dan Politikus Muda, Belajarlah dari Prabowo!
Kompas.com

AHY dan Politikus Muda, Belajarlah dari Prabowo

Pengumuman KPU sudah dirilis, pemenang siapa, masih ada waktu untuk gugat ke MK. Semua jalur tersedia. Malah ada aksi yang entah siapa yang mau mengaku bertanggung jawab. Yang jelas negara tobok karena pengamanan dan juga mengganti kerusakan di dalam banyak tempat. Miris. Di balik itu perlu banyak belajar dari Prabowo, terutama politkus muda seperti AHY dan sebenarnya Sandi.

Mengapa belajar dari Prabowo? Berbagai hal ditampilkan Prabowo apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, dan itu pembelajaran jitu dan bagus bagi banyak pihak. Spontanitasnya, tidak kenal lelah dan kenal menyerah, tapi  jangan lupa juga kondisi di mana ia ugal-ugalan dan grusa-grusu pun termasuk pembelajaran mahal.

Pembelajaran belum tentu  harus diikuti, belum tentu harus dijalani, bisa juga ditinggalkan untuk kenangan buruk yang tidak perlu dilakukan demi kesia-siaan. Beberapa hal itu adalah:

Megawati, usai kalah dua kali mengatakan mosok mau maju lagi, biar Pak Jokowi saja. Bandingkan Prabowo berani sampai tiga kali dan akan kalah lagi. Perlu belajar mencoba dan mencoba, dan itu tidak mudah dibayangi kegagalan terus. Sangat berat, dan Prabowo bisa melakukan itu. Dari sana  bisa banyak belajar ada kesempatan dan berani mengambil itu.

Level capres dan cawapres, Prabowo memegang rekor lho, Amien Rais, Wiranto, Megawati, pun belum sekuat perjuangannya dibandingkan Prabowo. Ini pembelajaran penting. Lepas dari kontroversi, bisa dibahas pada poin lain.

Kecerdikan melihat peluang dan membangun brand. Konteks ini tentu ketika konvensi Golkar dan kemudian membangun Gerindra. Gambaran Prabowo beringas jauh hilang ditelan bumi, bisa menjadi pribadi baru, dan nasionalisme menjadi demikian kuat. Tidak salah jika saranya darii pemilu ke pemilu membaik.

Pembanding Wiranto kalah moncer padahal memiliki nama cukup jernih malahan. Sangat mungkin kekuatan finalsial kalah. Yang jelas suara Gerindra cukup bagus dan kinerja oposisi tidak terlalu jeblok masa itu. Ini jelas prestasi yang patut menjadi pembelajaran. Demokrat pun usai SBY belum memperlihatkan tajinya. Point lain soal ugal-ugalan beroposisi masih akan dibahas.

Kesanggupannya membangun partai dengan kader-kader militan dan baik. Lepas kontroversi seperti Puyuono, Zon, dan lainnya. Toh mereka punya Muzani, ada Desmond J Mahesa yang baik dan politikus tulen. Tidak banyak menebar kerusuhan dan permusuhan. Ini prestasi juga di mana ia bisa menghimpun orang-orang yang potensial.

Berkali ulang menampakan jiwa ksatria, jauh lebih bagus lagi ketika mau menghadiri pelantikan Jokowi selaku rival. Berkali-kali ketemu sebagai anak bangsa yang berperan dalam politik nasional pada posisi berbeda, bertemu presiden yang pernah berkompetisi, hal sangat baru dan itu bagus. Rivalitas berhenti pada pemilu semata, usai itu berkolaborasi membangun negeri. Dan itu benar terjadi dalam banyak kesempatan.

Sayang bahwa di balik kesuksesan itu terjadi pula nila yang sangat kuat, terutama di dalam memilih rekan kerja politik. Benar demi pemilih semua potensi perlu dirangkul. Namun menjadi lucu ketika membela para pelanggar hukum demi pemilih dan menggunakan atas nama demokrasi. Ini kesalahan fatal yang parah. Perlu menjadi perhatian politikus muda untuk tidak bersikap demikian.  membela itu baik namun membela yang benar bukan yang bayar atau mau memilih.

Ada pengamat yang mengatakan kesalahan sejak  memilih sistem kampanye. Jauh dari sana, sejak memilih peran oposisi ugal-ugalan dan hanya mengulik kursi kepresidenan abai akan kenyataan. Membangun citra diri sebagaimana point di atas jauh lebih bagus dan menjanjikan.

Memilih politik kebodohan, berakting seolah bodoh malah menjadi bodoh beneran. Ini sebuah rangkaian besar yang dibangun cukup lama, dengan hoax, kekerasan media sosial, dan segala jenis fitnah ke mana-mana. Ini sebuah cara saja sebenarnya dan mereka malah memilih jalan pintas ini dan kalah hancur yang konsekuensi pilihan atas itu.

Kegigihan point pertama itu juga berimbas pada tidak mau kalah. Ngotot ke mana-mana, menuding semua curang, KPU, MK, Bawaslu tidak adil dan seterusnya. Ini karena ketidakmatangan dalam berpolitik saja. Awalnya adalah keunggulan justru jatuh pada ranah kelemahan yang akut. Jelas patut disayangkan.

Nahh politikus muda, seperti AHY, Sandi juga sebenarnya hati-hati di dalam bersikap dan mengambil pelajaran. Sikap gigih itu penting, namun jangan lupa banyak mendengarkan suara hati dan juga membuka kuping untuk mendengarkan. Jangan hanya mendengar, namun mendengarkan.

Membangun jaringan itu penting, menjalin relasi dan komunikasi untuk pemilih itu utama bagi seorang politikus, namun memilah dan memilih juga tidak kalah penting. Bagaimana bisa semua saja mau baik mau buruk, mau benar mau salah pokoknya jadi pemilih yang dijadikan rekan sejalan. Apa iya bisa demikian? Kan tidak, yang menjadi beban apalagi pelaku kejahatan ya lepaskan.

Sikap tanggung jawab dan membela rekan perlu juga dan penting. Lihat bagaimana mereka selama ini melepaskan begitu saja rekannya yang sudah terkena kasus hukum. Padahal awalnya sangat membela, malah menuding pemerintah sebagai pelaku. Ini juga karakter karena berulang.

Politikus muda, belajarlah dari kesalahan dan juga kebaikan Prabowo itu, jangan jatuh pada lubang yang sama, apalagi berulang. Pelajaran penting demi karir politik dan juga hidup bersama sebagai anak bangsa.

Terima kasih dan salam