Susy Haryawan
Susy Haryawan Wiraswasta

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Potensi Menang 70% Jokowi Menguap, Mengapa?

24 April 2019   08:07 Diperbarui: 24 April 2019   09:58 2911 35 27

Hasil hitung cepat pilpres masih menempatkan Jokowi memimpin. Selisih kisaran 9% yang cukup untuk mengantar Jokowi pada periode dua bersama KH Ma'ruf Amin. Prabowo yang masih ngotot dengan kemenangannya toh akan usai pada 22 Mei nanti. Memang ini masih hitung cepat.

Ada pengamat yang mengatakan harusnya Jokowi menang di angka 70%. Sangat besar dan prestisius mungkin. Sebagian pihak dalam pembicaraan informal mengatakan, fitnah, hoaxkampanye hitam, isu PKI dan antiulama efektif. Mungkin benar, namun saya melihat jauh lebih parah itu pada tiga hal berikut. Elit yang enggan kebiasaan pesta pora lama dipangkas. Birokrasi dari lembaga negara atas sampai paling bawah yang enggan kerja keras, dan masyarakat yang kehilangan kemanjaannya.

Tiga jenis kelompok itu dipanas-panasi dengan isu fitnah dan kawan-kawan. Penyiptanya kalangan elit yang biasa bergelimang uang dengan tanpa kerja keras, hanya mengalihkan kekayaan negara menjadi milik sendiri. Mereka rela memang dipimpin pemerintahan bersih? Malas lah.

Elit dan meminjam istilah Prabowo 1% penguasa kekayaan negeri ini tentu meradang jika terus-terusan negara membaik dalam penegakan hukum, pemberantasan korupsi, dan pengelolaan tambang dan SDA  yang makin tertata. Selama ini pensiunan ini dan itu  bisa mengelola lahan, hutan, dan tambang ini dan itu.

Kebiasaan mendapatkan jatah murah meriah, tanpa modal jutaan lembar saham masuk rekening sendiri, kekayaan negara untuk hidup orang banyak yang mau dikembalikan pada aturannya. Puluhan tahun tabiat demikian sudah mendarah daging. Eh kini mau dihapus oleh orang biasa.

Mereka bisa saja mengatakan mendukung secara publik, tetapi  jalur bawah tanah mereka mengumpulkan ide, gagasan, dan jaringan untuk menebarkan kampanye buruk, dan mereka tetap baik-baik saja. Khas aristokrat kuno yang parlente, namun tangan dan badan anak buahnya  berlumuran darah dan daging pihak lain.

Mereka memiliki modal dan uang hasil dari menggerogoti uang negara, jadi mereka menggelontorkan juga dengan ringan saja. Tetapi jangan salah, mereka juga akan mencarikembalian berkali-kali lipat jika ada kesempatan lagi. Ini yang mengerikan. Munafik akut.

Kelompok menengah dan birokrasi malas. Ini tidak kurang banyaknya. Biasa naik pangkat dengan uang dan bukan prestasi. Menerima uang suap dan menyuap menjadi gaya hidup, eh tiba-tiba masih  mengumpulkan uang kena birokrasi baru. Uang sudah telanjur keluar, namun pemasukan seret.

Semua lini modelnya sama, mau militer, polisi, ASN, pun swasta berimbas demikian. Apalagi  BUMN. Penataan demi penataan mulai terlihat nyata. Pelayanan publik yang amburadul mulai jelas dan efisien, padahal dulu adalah lumbung dan atm para level atas.

Mereka ini kasak-kusuk, pemerintahan tidak jelas, pemerintahan otoriter, pemerintah antikritik, pemimpin seperti itu tidak pecus menjadi pemimpin. Tidak kurang banyaknya yang biasa main ping pong, main games, atau catur di kantor, kelayapan di mall atau ke bini muda gaji tetap, kini harus bekerja keras, mengikuti kinerja yang semestinya.

Biasa naik pangkkat dengan uang bukan prestasi, memang banyak yang mau, ketika model itu puluhan tahun telah menjadi gaya berbirokrasi? Jelas saja tidak. Enggan dan mudahnya adalah menggantikan Jokowi yang menjadi momok bagi mereka.

Pengusaha pun yang biasa main sogok mulai menemukan tembok. Pajak diketati, upeti mulai mati, dan buatlah kasak-kusuk ekonomi susah selama dipegang Jokowi. Jokowi tidak becus memerintah, dan narasi semodel itu.

Level akar rumput jelas jengkel, karena terbiasa subsidi, dan kini harus berusaha keras untuk tetap bisa  memenuhi kebutuhannya. Mereka sebenarnya tidak terimbas banyak, namun menjadi alat bagi elit dan kelas menengah untuk menjadi penekan pemerintah, Jokowi yang dicap dan dilabel kejam karena raja tega memangkas subsidi.

Mereka sejatinya tidak terkena banyak dampak. Elit yang biasa menikmati itu kini dialihkan memprovokasi akar rumput untuk panas dan menolak. Sederhana kog indikatornya. Kartu-kartu yang ada itu sebenarnya kan baik, namun ada "perusak" di sana-sini.

Tiga kelas itu semua terkena dampaknya, dan mereka menyiptakan aneka "huru-hara" untuk mendapatkan keuntungan dan memperoleh kemewahan mereka sendiri. Kreatifitas yang memalukan sebenarnya.

Mereka ini abai dan menjadi lupa daratan berkolaborasi dengan ormas-ormas yang dalam beberapa tahun telah mendapatkan panggung, kemudian panggung itu dibubarkan untuk dikembalikan pada panggung NKRI dan mereka meradang. Keberadaan mereka di semua lini sekian tahun diselundupkan dengan rapi, langsung dibubarkan.

Perilaku mereka yang meradang tampak jelas kog. Elit memang akan dengan cepat berkamuflase karena memang memiliki banyak kemampuan, namun yang menengah ke bawah jelas terbaca dan gamblang terlihat.

Jadi wajar jika hanya menang cenderung tipis dengan pembangunan yang luar biasa masif itu. Ini bukan prestasi Prabowo-Sandi, tetapi para pelaku yang terkena dampak pemerintahan Jokowi yang merusak pesta mereka.  Apakah ini tidak akan terjadi untuk lima tahun ke depan?

Tentu masih, namun penegakan hukum yang sudah dilakukan, pendekatan yang sudah terjadi, serta kepentingan politis yang lebih kecil memberikan semangat dan harapan baru untuk Indonesia yang lebih baik.

Terima kasih dan salam