Mohon tunggu...
Susy Haryawan
Susy Haryawan Mohon Tunggu... biasa saja

bukan siapa-siapa

Selanjutnya

Tutup

Politik

Narasi Kemenangan Prabowo yang Dimentahkan Sendiri

23 April 2019   20:31 Diperbarui: 23 April 2019   20:32 0 25 10 Mohon Tunggu...

Narasi Kemenangan ala Prabowo yang Dimentahkan Sendiri

Sejak hasil hitung cepat yang direstui MK rilis, kisaran pukul 15.00, seminggu lalu, Prabowo menyatakan kemenangannya. Menolah hasil hitung cepat versi apapun. Deklamasi, eh deklarasi kemenangan berkali ulang dilakukan. Mulai yang tidak ada si cawapres hingga ada, angka kemenangan yang mungkin seturut prosentase masuk, dari 52% menjadi 62%.

Deklarasi dengan sujud syukur itu jelas ia adalah pemenang. Nah menjadi lucu dan aneh adalah deklarasi itu tidak sinkron dengan apa yang ditampilkan, baik bahasa tubuh, reaksi, aksi, dan juga narasi lain yang malah menjadi sumbang dan lucu. Begitu banyak kelucuan dan maaf meminjam bahasa Prof. Gerung, malah dungu.

Beberapa indikasi sumbang itu adalah,

Partai pengusung malah beramai-ramai mengakui hasil  hitung cepat. Lepas dari kepentingan partai politik yang merasa nyaman dan aman. Toh itu juga menjadi pertimbangan dari pada misalnya pemilu ulang malah bisa hangus karena kemarahan dan kejengkelan rakyat pemilih, jadi sangat mungkin itu menjadi pertimbangan parpol. Soal presiden dan wapres tidak lagi menjadi kepedulian mereka, toh bukan kader mereka juga.

Bahasa tubuh pemenang itu adalah suka cita, kegembiraan, riang gembira. Apa yang ditampilkan dalam banyak aksi dan deklarasi itu kuyu, tidak bergairah, apalagi Sandiaga Uno, pemain sepak bola dan tinju itu meskipun habis-habisan, berdarahdarah masih bisa berselebrasi, victory lap segala, ada energi yang kembali meluap.

Hal yang sama tidak ada, dan itu sampai deklarasi selanjutnya masih sama demikian tidak bergairah.  Mengangkat tangan untuk yel saja beratnya minta ampun. Pemenang tidak kehabisan energi hanya untuk meneriakan kemenangan sendiri.

Deklarasi berkali-kali, atas dasar hitung intern. Aneh dan lucu, ketika klaim kemenangan dasarnya adalah intern, pihak lain tidak ada yang memberikan fakta, data, dan sebuah saja pendukung yang meyakinkan publik. Mengandalkan permainan menurut kami, dan yang lain curang.

Narasi kecurangan, sudah menang mengapa menuduh yang diklaim kalah berbuat curang. Coba nalar yang dibolak-balik sendiri. Pemenang akan tetap berkata menang apapun yang terjadi mau hitung cepat atau hitung lambat, atau mau hitung manual, atau digital tetap menang. Lucu dan aneh dengan narasi yang dibangun.

Jika yang dijadikan rujukan sah dan resmi adalah hitung manual, ada isu KPU curang, server dibobol dan diretas. Lha untuk apa meretas alat yang hanya membantu itu? Yang menjadi patokan kan kertas-kertas yang bertumpuk itu, dan itu bisa diakses oleh siapa saja, terbuka, dan begitu banyak saksi.

Narasi dan klaim menang namun ada juga narasi pemilu ulang. Lha dalah, kalau diulang dan kalah, mau menuding lagi curang, kan sampai lebaran kuda juga tidak akan selesai. Lha sudah menang kog malah mau mengadakan pemilu ulang. Karepmu ki apa? Menang tetapi meminta pemilu ulang? Nalarnya di mana?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2