Mohon tunggu...
Parlin Pakpahan
Parlin Pakpahan Mohon Tunggu... Lainnya - Saya seorang pensiunan pemerintah yang masih aktif membaca dan menulis.

Keluarga saya tidak besar. Saya dan isteri dengan 4 orang anak yi 3 perempuan dan 1 lelaki. Kami terpencar di 2 kota yi Malang, Jawa timur dan Jakarta.

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Aek Naoto dan Traveling ke Obyek Wisata yang Masih Polos di Tano Batak

21 Juni 2022   19:43 Diperbarui: 21 Juni 2022   20:45 1223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Aek Naoto, Rahut Bosi, dari sisi jembatan sebelah kanan menuju Huta Pakpahan ibukota Pangaribuan dari Pansurnatolu. Foto : Parlin Pakpahan.

Kelanjutan dimaksud jelas sangat penting dalam rangka mengembangkan kepariwisataan tano Batak lebih jauh. Kalau hanya berhenti sampai di nucleusnya saja, maka itu tak ada artinya, karena Danau Toba ini dilingkari oleh 7 Kabupaten se-tano Batak, except Tapteng dan Tapsel yang hanya berpantai di sisi barat Sumut. Ke-7 kabupaten ini al Taput, Tobasa, Samosir, Humbahas, Dairi, Karo dan Simalungun.

Akhirnya saya bagaimanapun harus menjelaskan apa itu Obyek Wisata Alam dan Budaya Yang Masih Polos? Ya obyek yang selama ini hanya dikonsumsi warga lokal saja karena keterpencilan lantaran aksesibilitas yang buruk sepanjang masa. 

Kalau di nucleus yi Danau Toba sudah rapi seperti yang kita lihat sekarang ini, mengapa para Bupati masih bengong nggak tahu mau kemana. Meski APBD secuil karena rendahnya PAD dan sebagian besar pemda di tano Batak ini masih berAPBD dari perimbangan anggaran secara nasional. Itu tak masalah. Alokasi dana sejumput saja pun, asalkan tepat sasaran, paling tidak itu sudah akan mendapat pemberitaan yang baik dari media sosial yang ada di tano Batak. Inilah persoalan yang harus betul-betul diperhatikan oleh Pemda se-tano Batak plus stake holder lainnya.

Kita ambil contoh obyek wisata alam yang masih polos ini misalnya Aek Naoto (Sungai Bodoh) di Rahut Bosi, Pangaribuan, Taput. Asal tau Pangaribuan hanya berjarak kl 30 Km saja dari kota Tarutung selaku ibukota Taput. Dan dari Pangaribuan ke Aek Naoto Rahut Bosi hanya berjarak 9,7 Km saja. Sedangkan dari Ajibata (Simalungun) -- dermaga penyeberangan Ferry ke pulau Samosir -- ke Aek Naoto berjarak kl 127 Km. Ajibata ke Tarutung 102 Km.

Aek Naoto duplikat di Desa Rura Julu Dolok, Sipoholon. Foto : ninna.id
Aek Naoto duplikat di Desa Rura Julu Dolok, Sipoholon. Foto : ninna.id

Tak berapa jauh, tapi karena berlika-liku naik-turun. Tur ke Aek Naoto memang melelahkan. Tapi syukurlah, kita cukup terhibur melihat pemandangan alam di kiri dan kanan kita sepanjang perjalanan ke Tarutung sebagai stop over. Dan dari Tarutung langsung ke Aek Naoto atau singgah dulu di Huta Pakpahan selaku ibukota Kecamatan Pangaribuan untuk melihat situs Datu Ronggur Diaji Pakpahan yi penakluk Pangaribuan kl 280-300 tahun lalu.

Aek Naoto, Rahut Bosi, Pangaribuan, adalah sebuah sungai alami yang bening dari sumber Dolok Saut. Dinamai Aek Naoto sudah sejak zaman sang penakluk Pangaribuan kl 300 tahun lalu yi Datu Ronggur Diaji Pakpahan. Sungai ini di musim kemarau sangat jernih airnya, tapi frequently meluap justeru di musim kemarau. 

Sedangkan di musim penghujan air sungainya normal atau biasa-biasa saja nggak ada kecenderungan bakal meluap kalaupun hujannya deras. Tak heran warga Pangaribuan sudah luama sekali menamai sungai medium ini sebagai Aek Naoto atau sungai bodoh,

Kalaupun ada sungai serupa dinamakan Aek Naoto di Sipoholon, Tarutung. Itu tiruan. Perbedaannya, pertama kalau Aek Naoto Pangaribuan itu sudah lama ada dalam folklore atau turi-turian warga Pangaribuan, sedangkan yang di Desa Rura Julu Dolok, Sipoholon, tak ada turi-turiannya, maka dipastikan ada warga Sipoholon yang berdagang di onan atau Pasar Pangaribuan yang buka sekali seminggu itu, pernah menyegarkan diri ke Aek Naoto Pangaribuan dan di antaranya ada yang mengutip nama itu begitu saja karena merasa fenomena alamnya yang tak terjelaskan serupa yi sungai itu sewaktu-waktu meluap di musim kemarau dan normal di musim penghujan. 

Kedua, sungai yang di Sipoholon itu tidak deras airnya seperti yang di Rahut Bosi. Ketiga, sungai di Sipoholon itu telah dikelola oleh salah seorang warga menjadi salah satu obyek wisata berenang dan memancing kepiting sungai.

Penamaan duplikatif obyek wisata seperti ini juga harus ditertibkan, agar panduan wisata tano Batak tidak tercemari penamaan plagiat seperti ini. Juga sudah saatnya pemda setempat membenahi obyek wisata semacam itu seperti tangga batu turun-naik ke sungai; tempat bersih-bersih diri dan ganti baju saat mau mandi atau berenang dan saat setelah mandi, lalu diberi penanda Aek Naoto selaku salah satu obyek wisata alam di Taput.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun