Mohon tunggu...
Saprudin Padlil Syah
Saprudin Padlil Syah Mohon Tunggu...

Visit me on padlilsyah.wordpress.com I www.facebook.com/Padlil I\r\n@PadlilSyah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Sukun dan "Devide et Impera" (4)

10 April 2018   07:47 Diperbarui: 10 April 2018   08:25 442 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Sukun dan "Devide et Impera" (4)
Foto diambil dari mediahouse.rs

"Coba kamu jelaskan makna-makna tersebut!" Abah malah menyuruh Sukun menjelaskannya sendiri.

Walaupun kuliah di jurusan HI di kota pendidikan, Yogyakarta. Sukun mempunyai bekal yang cukup untuk sekedar mengutak-ngatik dengan radikal kata arab. Abah memilihkan pesantren modern Gontor untuk menjadi kawah candradimuka bagi Sukun dalam pencarian jati dirinya. Abah tahu persis Gontor adalah lembaga pendidikan yang tepat untuk Sukun.

Sejarah berbicara, negara tidak pernah melirik Gontor saat berdirinya. Namun justeru ia tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang merdeka dari kepentingan politik pendidikan negaranya. Ia lahir bukan dari embrio pendidikan Belanda. Ia menjadi lembaga pendidikan indigenous Indonesia.

Berbeda dengan negaranya yang baru mengakui pendidikan Gontor tahun 1998 melalui Depag dan tahun 2000 melalui Dinas. Sudah sejak lama Mesir, Arab Saudi, Malaysia dan Pakistan sudah mengakuinya.

Tidak ada dikotomi ilmu dunia dan ilmu akhirat. Semua ilmu yang dipelajari demi mengisi akal dan hati. Tujuan utamanya adalah dengan ilmu yang dipelajari, semua siswa mampu menjalankan dua tugas penting diutus ke bumi; Kholifah Allah dan Hamba Allah.

Bahasa arab dan bahasa inggris tidak pernah diadu dombakan dengan istilah bahasa Islam dan bahasa Kafir atau bahkan provikasi lainnya. Keduanya difungsikan saling membantu untuk menjalankan dua peran yang telah dimandatkan kepada manusia.

Sukun menikmati buahnya.

"Sakana artinya menetap. Sakan atau Maskan digunakan untuk menyebut rumah atau tempat tinggal. Sikkin artinya pisau. Sakinah artinya ketenangan," jawab Sukun sambil merinci kata-kata arab beserta padanannya dalam bahasa Indonesia.

Angin sore di kaki gunung Gede mengusap wajah Abah dengan lembut. Menghilangkan kerutan yang dibuat di keningnya. Sepertinya abah mulai serius mendengar apa yang disampaikan Anak tunggalnya.

"Lalu?" Ujar Abah.

"Semua kata-kata itu bermuara pada ketentraman. Setiap orang membutuhkan tempat tinggal. Mereka akan berusaha dengan segenap kemampuannya untuk memiliki rumah. Demi apa? Demi ketentraman. Demikian dengan sikkin. Pisau digunakan untuk memotong. Saat digunakan untuk menyembelih ayam, maka ayam yang asalnya bergerak kesana kemari menjadi tenang. Sakinah adalah makna inti dari semua akar kata yang berasal dari Sin-Kaf-Nun. Ia-lah ketentraman."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x