Mohon tunggu...
Ozy V. Alandika
Ozy V. Alandika Mohon Tunggu... Guru - Guru, Blogger

Seorang Guru. Ingin menebar kebaikan kepada seluruh alam. Singgah ke: Gurupenyemangat.com

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Artikel Utama

Hardiknas 2020, Membalut Kembali Luka Wajah Pendidikan yang Sudah "Ditampar" oleh Covid-19

2 Mei 2020   08:00 Diperbarui: 3 Mei 2020   09:17 941
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi dari Kemendikbud

Dari sini, agaknya karakter anak muda negeri ini butuh perbaikan karakter secara mendesak. Kasihan dengan wajah pendidikan, jika harus terus mendapat tamparan telak.

Tamparan 2: Stigma Kurikulum Pendidikan

Kalau sudah berpijak ke kurikulum dan menteri, biasanya ada-ada saja stigma yang tertinggal di benak para pendidik dan masyarat di berbagai sudut bumi Indonesia. Stigma yang populer adalah "Ganti Menteri, Ganti Kurikulum."

Jangankan pendidik, para pelajar pun bisa jadi ikut berstigma terhadap kurikulum. Terang saja, sebagian dari mereka pernah menjalani sistem uji coba Kurikulum 2013. Dari sana, mereka pasti berbicara banyak tentang bagaimana repotnya mencari materi dan keruwetan Tematik.

Tambah lagi jika kita sandingkan kurikulum dengan bencana Covid-19, maka semakin sakitlah kening ini karena harus ditepuk dengan tangan sendiri.

Bagaimana tidak sakit, sejak wabah coronavirus melanda kurikulum kita tampak banyak cacatnya. Buktinya? Beberapa kali KPAI menegaskan permintaannya kepada Mas Nadiem untuk ganti kurikulum. Padahal, ganti kurikulum itu susah, tidak semudah ganti baju.

Jika sudah seperti ini, bagaimana stigma tadi bisa berubah, apalagi menghilang. Tapi, semoga saja kebijakan Merdeka Belajar Mas Nadiem mampu berbicara banyak dan menghapus stigma pendidikan.

Tamparan 3: Senjangnya Sarana dan Prasarana Pendidikan

Sebenarnya di awal-awal terpilihnya Mas Nadiem sebagai Mendikbud, praduga senjang pendidikan dari sisi sarana dan prasarana cukup sering digaungkan. Penyebabnya adalah kehebatan Mas Nadiem dalam meramu Gojek.

Dari sana, digencarkanlah isu-isu digitalisasi yang yang membuat pendidikan di negeri ini serasa terkejut.

Bagaimana tidak terkejut, entah karena negeri ini terlalu luas atau malah belum mampu memberikan fasilitas pendidikan yang mumpuni, akhirnya sekolah-sekolah pelosok berasa seperti gerbong kereta yang tertinggal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun