Mohon tunggu...
Oktaviani NS
Oktaviani NS Mohon Tunggu... Free human being

Still learning and will never stop. Kindly check https://gwp.id/story/121331/tentang-luka for more.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Feminazi: Melawan Patriarki atau Malas Berbakti?

20 Juli 2020   11:37 Diperbarui: 22 Juli 2020   23:19 85 0 0 Mohon Tunggu...

Feminazi adalah 'permainan kata' yang ditujukan kepada mereka yang mengaku sebagai golongan feminisme. Feminazi digunakan untuk menyebut para kaum feminis yang kehilangan tujuan awal mereka; menuntut kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Feminazi cenderung ingin menunjukkan bahwa perempuan berada segala-galanya di atas laki-laki.

Kesadaran tentang kesetaraan gender di tengah masyarakat memiliki dampak positif dan juga negatif. Dampak positifnya tentu semakin banyak orang yang sadar tentang hak dan kewajiban masing-masing, baik sebagai perempuan maupun laki-laki. Namun, dampak negatif yang dibawa adalah semakin banyaknya orang yang tidak mengerti dasar dari pergerakan ini dan hanya menganggap bahwa feminisme adalah sebuah gerakan yang 'keren' dan 'edgy', lalu melabeli diri sebagai feminis.

Sebutan feminis ditujukan untuk mereka yang ikut serta menyuarakan kesetaraan gender dan keadilan hak-hak perempuan. Feminis tidak hanya ditujukan untuk perempuan, tapi laki-laki yang juga menyuarakan hal yang sama. Pada dasarnya, para feminis menuntut hak-hak yang sama di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya di tengah kungkungan budaya patriarki. Namun, Feminazi sedikit berbeda. Mereka lebih subjektif dalam menentukan apa yang dianggap sebagai hak dan kewajiban, utamanya dalam melawan laki-laki, bukan lagi patriarki.

Feminisme tumbuh sebagai perlawanan terhadap budaya patriarki yang cukup mengekang perempuan. Patriarki didasarkan pada ideologi di mana laki-laki merupakan seorang pemimpin yang memegang kekuasaan utama, sedangkan perempuan hanyalah seorang pengikut yang harus manut.

Istilah 'feminazi' diambil dari kata 'feminisme' dan kata 'Nazi'. Feminisme sendiri adalah sebuah pergerakan yang berawal dari kesadaran para perempuan tentang tidak adanya hak-hak suara yang bisa mereka nikmati di dalam demokrasi. Di dalam bukunya, Bill Yenne (1993) menuliskan bahwa pada abad ke-18, teori konvensional menganggap posisi perempuan seharusnya berada di rumah, mereka memiliki peranan yang tidak penting, dan mereka hanya barang pribadi milik laki-laki. Hal ini menunjukkan ketidakadilan yang diterima oleh perempuan.

Lebih jauh, Nazi adalah sebuah partai politik asal Jerman yang dipimpin oleh Adolf Hitler. Hitler, dengan kekejamannya, membawa Nazi menjadi dikenal sebagai pelaku genosida besar-besaran terhadap kaum minoritas, utamanya bangsa Yahudi. 

Pengambilan kata Nazi dihubungkan dengan Feminisme di dalam istilah 'Feminazi' untuk kemudian membentuk sebuah sindiran keras kepada para ekstrem feminis. Lewat istilah 'Feminazi', dapat diinterpretasikan bahwa kaum feminazi terlalu ektrem menghakimi laki-laki, bahkan tak jarang juga menghakimi perempuan yang memiliki pandangan berbeda dengan mereka. Hal ini seakan-akan 'membunuh' tujuan dasar feminisme.

Feminazi bukan lagi menyuarakan tentang kesetaraan gender, tapi melampaui itu. Feminazi cenderung terlihat membenci laki-laki dan ingin berada di atas laki-laki, bukannya setara. Hal yang paling menyedihkan adalah saat mereka yang mengaku membela perempuan, tapi justru menghakimi perempuan yang ingin 'berbakti' kepada keluarganya. Padahal, berbakti bukan berarti tunduk pada patriarki.

Berbakti menunjukkan consent atau persetujuan bahwa seseorang ingin melakukan sesuatu tanpa paksaan, beda dengan patriarki. Contoh bakti yang seringkali ditemukan di dalam keluarga adalah kegiatan seperti istri yang ingin menyediakan seragam kerja untuk suaminya, atau anak perempuan yang ingin menyediakan makanan ayah maupun saudara laki-lakinya. Namun, di mata para feminazi, tindakan ini bukanlah suatu hal yang positif. Mereka menganggap bahwa ini adalah perbudakan dan tipu daya kaum laki-laki yang ingin membuat tunduk kaum perempuan.

Lebih mirisnya, saat ada ibu yang ingin memberikan ASI kepada bayinya yang baru lahir. Bakti sebagai seorang ibu kepada anaknya dapat dianggap sebagai hal yang tabu dan lagi-lagi merupakan bagian dari tipu daya patriarki. Seorang perempuan yang ingin menjalankan perannya sebagai seorang ibu disebut sebagai 'sapi perah' oleh Feminazi.

Poin penting yang harus digarisbawahi bila membicarakan tentang patriarki dan berbakti adalah consent. Ini juga yang seringkali ditekankan oleh para feminis. Apabila ada kesediaan dari pihak perempuan, selama tidak melanggar hukum, seharusnya itu menjadi hak pribadi untuk berbakti, bukan berarti melanggengkan patriarki.

Saat perempuan menghakimi perempuan lain, di mana letak tujuan utama gerakan feminisme yang ingin memperjuangkan hak-hak perempuan?

VIDEO PILIHAN