Mohon tunggu...
Fauji Yamin
Fauji Yamin Mohon Tunggu... Foto/Videografer - Tak Hobi Nulis Berat-Berat

Institut Tinta Manuru (faujiyamin16@gmail.com)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Pinang, Sirih, dan Kapur Tidak Sekadar Cemilan

2 September 2021   02:05 Diperbarui: 2 September 2021   15:57 324 38 7
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Pinang, Sirih, dan Kapur Tidak Sekadar Cemilan
Pinang, Sirih, dan Kapur| Sumber: Dokumentasi pribadi

Pinang, sirih dan kapur tidak sekadar cemilan tetapi lebih dari itu. Ketiga unsur ini seakan menyatu dalam kultur kebudayaan. Perayaan besar, adat, hingga persaudaraan.

"Bisa minta bantu dibelah". Pinta salah satu nenek dihadapan saya sembari menyodorkan sebuah pinang tua.

Setelah dibelah, beliau kemudian menawarkan kepada kami para penumpang yang saat itu menumpang kapal yang sama menuju Kota Ternate. 

"Ne felemei yo?' (Tidak makan pinang).  

Istilah felemei dalam bahasa suku saya ialah mengunyah atau makan pinang, sirih dicampur kapur sekaligus.

"Felemei," jawabku sembari mengambil sepotong pinang, sirih dan sedikit batu kapur. Beberapa ibu dan bapak-bapak juga tak mau ketinggalan.

Mulut kami merah sepanjang perjalanan. Bibir kami apalagi, selayaknya memakai lipstik. 

Nenek-nenek begitu menikmatinya. Mengunyah sambil bercerita. Tentang apa saja. Paling sering tentang hubungan keluarga antar kampung satu dengan kampung lain.

Dua tamu dari Kota Makassar yang selama tiga hari ini saya temani melalang buana di Maluku Utara nampak keheranan melihat mereka mengunyah dengan begitu nikmatnya.

"Bang. Itu mereka ngak merasa pusing apa memakan pinang," tanya salah satu dari mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan