Mohon tunggu...
Octafred Yosi
Octafred Yosi Mohon Tunggu... Discover Dream Design Destiny

Discover Dream Design Destiny

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Berbahagialah Orang yang Membawa Damai

28 Mei 2019   08:00 Diperbarui: 29 Mei 2019   11:40 0 2 0 Mohon Tunggu...
Berbahagialah Orang yang Membawa Damai
www.eleanorpalmer.camden.sch.uk

Kita akan merasa bahagia jika kebutuhan hidup kita terpenuhi. Itu mungkin definisi dasar dari "kebahagiaan". Ketika kita lapar dan haus, lalu seseorang memberi kita makanan dan minum, pastilah kita bahagia; Ketika kita kedinginan, kemudian kita menemukan pakaian hangat untuk kita pakai, maka kita tentulah bahagia; Ketika kita dalam situasi perang, lalu muncul kesepakatan untuk berdamai, maka kita pun bahagia; Ketika kita masuk dalam suatu komunitas, dan kita diterima dengan baik, kita pasti bahagia.

Abraham Maslow menyebut soal lima hirarki kebutuhan: Pertama, physiological (fisiologis), yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan fisik kita, seperti makanan, minuman, pakaian, rumah, istirahat, bahkan termasuk oksigen untuk bernafas. Tidak terpenuhnya kebutuhan fisiologis ini dapat membuat seseorang tidak bahagia, dan bahkan bisa melakukan tindakan-tindakan berbahaya, seperti mencuri, membunuh, atau bahkan bunuh diri karena frustasi.

Kedua, safety/security (rasa aman). Seseorang yang punya ketersediaan makanan, minuman, tempat tinggal, dan kebutuhan-kebutuhan fisiologis lainnya, tentulah tidak akan bahagia jika ia hidup dalam keadaan tidak aman. Hidupnya akan dibayang-bayangi oleh kekuatiran, kecemasan, dan ketakutan jika kelak ia kehilangan dengan semua yang ia miliki.

Ketiga, social (rasa memiliki dan kasih sayang). Bagaimanapun, manusia adalah mahluk sosial, yang memang diciptakan untuk membutuhkan kehadiran orang lain. Karenanya, kita sering merasa menderita ketika kita merasa sendirian, tidak ada yang mengasihi, merangkul atau menerima kita. 

Pada saat yang sama, kita pun butuh mengekspresikan cinta/kasih sayang kita kepada orang lain, apakah itu keluarga kita atau pasangan kita. Ada kepuasan tersendiri yang manusia rasakan ketika ia mampu mengasihi orang lain.

Keempat, esteem (penghargaan). Maslow menyebut ada dua bentuk penghargaan, yaitu rendah dan tinggi. Kebutuhan yang rendah itu mencakup status, popularitas, pengakuan, reputasi, apresiasi, martabat bahkan dominasi, sedangkan kebutuhan yang tinggi yaitu prestise atau harga diri seseorang. Kita sulit untuk bahagia jika kita dianggap rendah oleh orang lain, apalagi jika harga diri kita diinjak-injak.

Kelima, self-actualization (aktualisasi diri), yaitu kebutuhan untuk membuktikan atau menunjukkan dirinya kepada orang lain. Pada level ini, seseorang akan merasa tidak bahagia jika ia tidak sanggup menunjukkan siapa dirinya dari segi potensi yang ia miliki. Dengan kata lain, apalah artinya punya segalanya, termasuk popularitas, dominasi bahkan harga diri, jika kita tidak bisa menunjukkan pada orang lain potensi yang ada dalam diri kita.

Dari semua hirarki kebutuhan ini, kita menangkap jelas bahwa kebutuhan utama manusia adalah fokus pada dirinya sendiri. Pada dasarnya, kita bahagia jika kita mampu memuaskan diri kita sendiri. Maka muncullah perintah "kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri". Dasarnya selalu pada diri kita. Kita memang digiring untuk memuaskan diri sendiri, disitulah kita menemukan kebahagiaan.

Tetapi pesan yang disampaikan dalam judul tulisan ini memiliki sudut pandang yang berbeda. Pesan ini saya kutip dari Injil Matius 5:9, yang selengkapnya tertulis "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah". Nats Injil ini dipilih oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) sebagai tema perayaan ulang tahunnya yang ke-69 sekaligus menjadi tema bulan Oikoumene bagi gereja-gereja di lingkungan PGI.

Dalam teks Yunaninya, ayat ini tertulis makarioi hoi eirēnopoioi, hoti autoi huioi Theou klēthēsontai, dimana ada dua kata yang menurut saya sangat penting untuk ditafsirkan, yaitu kata makarioi, yang diterjemahkan "diberkatilah" dan kata hoi eirēnopoioi, yang diterjemahkan "orang yang membawa damai".

Kata pertama, makarioi, bisa juga diterjemahkan "diberkatilah" atau "beruntunglah" (band. terjemahan bahasa Inggris: blessed). Dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani (Septuaginta) sering digunakan untuk menerjemahkan kata ashrē, yang juga dalam bahasa Ibrani bisa diartikan "diberkatilah". Saya pikir, menggali makna kata ini dalam terminologi Ibrani akan memperkaya pemahaman kita tentang makna kata makarioi di dalam Injil Matius ini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2