Mohon tunggu...
Nurul Al Huda
Nurul Al Huda Mohon Tunggu... Mahasiswa UIN Walisongo Semarang

Saya Nurul Huda mahasiswa di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang semester 4

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Runtuhnya Kepercayaan Masyarakat dalam Hidup Bertetangga

15 Juni 2019   15:00 Diperbarui: 15 Juni 2019   15:00 0 0 0 Mohon Tunggu...

Gated community adalah komunitas masyarakat berpagar yang semakin hari semakin banyak ditemukan eksistensinya. Masyarakat berpagar ini mulanya tumbuh dan berkembang dari Amerika yang kemudian menyebar luas sampai di Indonesia. Di Amerika sendiri komunitas berpagar ini tidak memiliki kesenjangan sosial yang begitu mencolok, karena masyarakat Amerika memiliki strata sosial yang tidak berbeda jauh. Gated community atau komunitas berpagar ini mengakibatkan kesenjangan di Indonesia sangat terlihat keberadaannya, karena masyarakat Indonesia masih dalam keadaan belum setara secara ekonominya.

Ketidak setaraan ekonomi di Indonesia tersebut mengakibatkan suatu kesenjangan dalam bermasyarakat. Hal tersebut di cerminkan dari kecemburuan-kecemburuan masyarakat kecil terhadap kaum elit terutama yang berada di perumahan berpagar. Perumahan berpagar mengakibatkan timbulnya rasa cemburu yang timbul di masyarakat kecil yang berada di sekitar perumahan tersebut, bahkan masyarakat yang merasa tidak senang dengan keberadaan perumahan tersebut menganggap bahwa dirinya dan kaum elit tersebut memiliki dunia yang berbeda sehingga kedua lapisan masyarakat-masyarakat tersebut seakan-akan tidak mau berkomunikasi secara baik. Akibatnya hal tersebut memicu timbulnya tindak kriminalitas dan bahkan dapat menimbulkan konflik sosial.

masyarakat berpagar tersebut biasanya dapat ditemukan di perkotaan, tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa gated community juga dapat ditemukan disamping atau disekitar pedesaan. Dan akan berbeda lagi ceritanya apabila salah satu kaum elit tersebut membawa budaya komunitas berpagar itu ke dalam tengah-tengah masyarakat pedesaan, walaupun hal tersebut belum bisa disebut sebagai gated community tetapi etika atau budaya yang dibawa tersebut akan sangat berpengaruh terhadap tetangga atau warga sekitar yang berada di sekitar rumahnya.

Yang paling mencolok adalah perbedaan kelas yang sangat jauh seperti halnya sebuah rumah yang sangat mewah berdiri di tengah-tengah pedesaan dan dikelilingi oleh rumah-rumah kecil yang berada di sekitarnya. Efek positifnya masyarakat yang berpemikiran positif akan bekerja lebih keras lagi untuk dapat mencapai suatu kesuksesan seperti kaum elit tersebut tetapi berbeda dengan masyarakat yang berfikiran negatif, masyarakat yang berpemikiran negatif akan melancarkan suatu serangan terhadap kaum elit tersebut dengan menyebarkan fitnah yang di timbulkan akibat kecemburuan terhadap suatu pencapaian tetangganya, biasanya di pedesaan fitnah ini berupa tuduhan-tuduhan tidak baik seperti halalnya pekerjaan yang dijalani oleh kaum elit tersebut, seperti yang biasa disebut oleh warga di desa Ringinarum dengan istilah "memek" atau memelihara tuyul, babi ngepet dan lain sebagainya. 

Hal tersebut mengakibatkan suatu rasa ketidak percayaan terhadap satu sama lain di dalam hidup bermasyarakat yang akibatnya masyarakat akan enggan membuka diri antar tetangga tersebut dan masyarakat desa akan cenderung mengikuti kaum elit tersebut dengan berlomba-lomba membangun rumah berpagar. Padahal dalam hidup bermasyarakat rumah berpagar akan menyulitkan pengawasan terhadap penghuni rumah oleh pemerintah atau perangkat desa setempat dan lagi-lagi akibatnya akan menambah kecurigaan dan kriminalitas terjadi.

Setelah masyarakat desa dibuat dalam situasi seperti hal tersebut maka pemerintah harus bertindak cepat seperti halnya dengan dilakukannya peninjauan kembali mengenai pembangunan rumah berpagar. Karena selain berefek seperti hal diatas munculnya salah satu masyarakat yang berperilaku seperti gated community akan mempengaruhi masyarakat sekitar yang dimana sebenarnya kebersamaan dan gotong-royong merupakan suatu ciri budaya desa akan hilang dan masyarakat desa akan lebih cenderung materialistik. Hal tersebut mengakibatkan kearifan lokal terkikis dan akan segera punah apabila tidak dilakukan suatu tindakan pencegahan akan hilangnya budaya ini. Karena di akhir-akhir ini masyarakat sudah jarang ditemukan yang mau bergotong royong melainkan mereka lebih mengandalkan tenaga kuli atau bahkan mereka mau berpartisipasi dalam kegiatan desa apabila ada suatu imbalannya. 

Sebagai contoh lain perilaku gated community yang sudah tercermin di dalam masyarakat adalah dengan tidak mempercayai tetangganya. Yang dimana sekarang rumah-rumah di pedesaan sudah di pagar atau bahkan jendela rumah yang tadinya bisa dilewati untuk keluar sekarang sudah dikasih jeruji besi untuk difungsikan sebagai pengaman.

Hal itu dilakukan oleh masyarakat desa dengan berbagai alasan seperti halnya sekarang sudah tidak zamannya gotong royong melainkan segala sesuatu harus ada imbalannya, kemudian dengan dipagarinya rumah agar anak dari pemilik rumah tidak keluar ke jalan atau menangkal dari segala tindak kejahatan. Yang padahal dengan dibangunnya rumah-rumah berpagar terutama yang memiliki pagar tinggi akan menyebabkan tindak kriminalitas lebih tinggi. Bukan hanya pemilik rumah saja yang menganggap bahwa dibangunnya pagar agar terhindar dari kriminalitas dari luar justru kriminalitas dapat dilakukan oleh pemilik rumah karena terhindar dari pengawasan luar seperti halnya penyebaran narkoba, jual beli manusia, bahkan pemilik atau penghuni rumah dapat merakit bom dalam rumah tersebut.