Mohon tunggu...
Nurmin Marzuki
Nurmin Marzuki Mohon Tunggu... Guru - Write With Heart

MERANGKAI KATA DENGAN HATI

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Dawai Rindu

6 September 2022   19:16 Diperbarui: 6 September 2022   19:20 236
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Fiksiana. Sumber ilustrasi: PEXELS/Dzenina Lukac


"Siapa yang kau maksud, Rino, tidak ada orang di sini hanya aku, apa aku tidak salah dengar?" Hatiku mulai berdebar-debar. Rasa  itu tak pernah ada sebelumnya.


"Nur, sejak awal bertemu dirimu datang dan indekos di sini, sejak saat itu rasa itu mulai ada. Apakah  kau tak tahu usai salat Maghrib di masjid kupetik gitar dan kunyanyikan lagu-lagu sendu di samping kamar indekosmu agar kau keluar dari kamar untuk meresponsku. Namun, dirimu hanya lewat begitu saja tanpa berbasa-basi."  Aku hanya diam membisu tanpa berkata satu kata pun.

"Nur, sekarang saya tanya dirimu, apakah kau terima diriku sebagai pacarmu?"
Aku diam sejenak.


"Rino, aku belum mau pacaran sekarang, aku mau fokus dengan kuliah, apalagi aku baru masuk kuliah, maafkan aku Rino."


"Nur, apa salah kalau aku ingin dekat dirimu, apakah orang kuliah tidak boleh pacaran?" Rino menatapku, hatiku tambah bergetar.


"Rino, bukan begitu, aku hanya tidak mau pacaran."


"Nur, berarti kau tidak suka aku sehingga kau menolak diriku."


Aku hanya menunduk dan aku sebenarnya telah jatuh cinta pada pandangan pertama ketika memainkan gitar dan menyanyikan lagu melankolis dari Malaysia. Akan tetapi, aku malu mengungkapkan isi hatiku bahwa aku juga suka.
Kubiarkan hatiku mencari cinta di keheningan malam dan aku diam sejenak. Kami sama-sama diam tak ada yang berkata-kata. Rino melemah memainkan dawai gitarnya.


"Begini, Rino, selesai salat Isya baru aku katakan, pergilah salat sudah pengantar azan sekarang," Rino tidak bergeming masih di tempat duduknya.


"Aku tidak mau pergi salat Isya di masjid, nanti aku salat di rumah, aku akan pergi di masjid bila kau katakan bahwa kau terima aku, Nur!" Rino membuat diriku terdiam. Hatiku goyah.


"Baiklah, Rino, pergilah salat Isya di masjid, aku terima dirimu."
Aku mengucapkan secara perlahan dan malu-malu. Lalu Rino minta izin pergi salat di masjid.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun