Mohon tunggu...
Nuraeni
Nuraeni Mohon Tunggu... Guru - Nuraeni

Pengawas Sekolah di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Cintaku Semanis Gula Merah...

7 April 2017   11:13 Diperbarui: 8 April 2017   06:00 1055
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pagi itu mentari menyembul di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi dan tersenyum menyapa pagi, “Semangat Pagi Cianjur! Semangat Pagi Cijati JJJ”. Langit berwarna jingga dan semburat cerah memberi kehangatan kepada para ibu tani dan bapak tani yang baru berangkat ke sawah untuk menanam padi. Aku berjalan menyusuri jalanan terjal, tersembul asap dari gubuk yang masih memakai tungku kayu bakar. Harum wangi aren tercium khas dari balik dapur berbilik bambu. 

 Aroma air aren di atas tungku, mengingatkan akan ibu yang sering mengolah air aren menjadi gula merah. “Gula Merah ini lahir dari cinta kasih. Manis legit dalam setiap gigitannya hasil dari proses saling menyayangi.” Demikian kata ibu sambil mengaduk air aren yang berbuih putih. “Ambu..…” Lirih ibuku mengingat almarhum nenek sambil menangis dan akupun ikut terharu biru. Tiba-tiba terdengar suara laki-laki di belakangku mengagetkanku “Nur....dulu, kau selalu minum air lahang (aren) ini sebelum ibumu olah jadi gula merah.”. 

Aku pun yang sedang asik menatap kepulan asap tungku sambil duduk di batang pohon yang roboh berbalik arah.“Kenapa kau mengagetkanku?” Kataku ketus. “Datang jangan mengendap-endap, ucapkan salam, atau menyapa dulu,” Aku berapi-api. “Aku berjalan seperti biasa, tidak mengendap-endap. Bahkan aku sudah memanggilmu, tetapi kamu malah asyik melamun,” jawab seorang pemuda sambil duduk di sebelahku. “Aku tidak mendengarmu say...,” kataku “Iya, karena aku tidak berteriak. Dan kamu terlalu asyik melamun tanpa tahu aku memanggilmu.” “Oh…,” sahutku. “Maafkan aku,” katanya lirih. “Oke, sama-sama,” jawabku. “Kamu kok tahu aku suka minum Lahang yang disadap oleh ayahku?” Tanyaku. “Tentu saja aku tahu. Karena bapakku juga menyadap pohon aren miliknya. Dia selalu bercerita tentangmu. Ingat, aku lebih tua dua tahun darimu lho.” “Iyaaa…” 

Jawabku.  “Aku ingat ibuku, nenekku juga kakekku,” kataku pelan. “Mencium wangi gula merah, maka seperti mencium wangi Ibu dan ayahku,” kataku berbisik. “Kenangan memang terasa indah saat merindu. Dan itu butuh jeda waktu untuk mengetahui akan rasa rindu,” kata temanku itu" Ibuku selalu mendongeng sebelum tidur. Dongeng tentang alam semesta dan gula merah dari olahan air Aren. 

Dulu, alam semesta tidak seperti sekarang ini. Tuhan kemudian berkehendak menciptakan awan, kemudian mencair. Suhu panas yang mendidih menjadikan cairan itu menggumpal dan membentuk lingkaran-lingkaran galaksi dan planet,” kataku. “Bapakku pun bercerita yang sama,” sahut temanku itu. “Ya, dan cerita itu aku dengar setiap hari menjelang tidur,” kataku sambil tersenyum. “Cerita filosofi akan diri dan alam semesta yang tersimbolkan dalam proses pembuatan gula merah. Kita, manusia adalah bagian dari alam semesta, bukan menghuni alam semesta sehingga merasa harus menguasainya. Kita dengan alam sama. Sama-sama makhluk Tuhan.

 

sumber: bukalapak.com
sumber: bukalapak.com
ebagai masyarakat Cianjur, kita pasti sudah mengenal dengan apa yang namanya gula merah aren. Gula merah aren merupakan salah satu jenis gula alami yang diproduksi dan dibuat dengan menggunakan bahan alami dari buah aren (di Cianjur pohon ini dinamakan pohon Kawung). Berbeda dengan gula putih biasa yang dibuat dari batang tebu, gula aren memiliki warna merah dan memiliki tekstur yang lebih kasar serta tidak berbentuk kristal seperti gula tebu. 

Maka dari itu, gula aren lebih sering kita kenal dengan nama gula merah. Itu yang selalu ayah kisahkan.” Lanjutku. “Bila kamu rindu ayahmu, kenapa selama bertahun-tahun kamu tidak pernah berziarah ke kuburannya? ”“Iya, itu salahku. Ketika aku pulang ke Cijati ini sudah hampir sepuluh tahun dan kemudian mendapatkan tugas baru, aku belum pernah datang ke sini lagi.”“Apakah kamu betah tinggal di Bandung? ”“Tidak juga,” jawabku. “Meski terdengar klasik, pribahasa hujan batu di negeri sendiri lebih baik, itu yang aku rasakan, makanya aku kembali ke Cianjur ini.”“Bukankah sudah dua tahun kamu tinggal di Kota Cianjur? Kenapa baru sekarang kembali?” “ah....Kamu mah banyak nanya ” kataku sambil tersenyum simpul. 

“Ada banyak hal yang harus aku lakukan sehingga belum sempat datang ke kampung ini, jarak ke Cijati ini kan sangat jauh dari pusat kota, hampir 100 kilometer, belum jalannya yang nanjak mudun dan berliku-liku.” “Lalu kenapa atuh kamu kembali?” “emailmu yang membuat aku kembali.” kerudungku bergerak-gerak mengikuti irama semilir angin. Hamparan padi yang membentang turut diam seperti mendengarkan kisah sang putri yang pulang.“Aku mencarimu kemana-mana. Aku mengetahui alamat rumahmu dari media sosial. Ternyata kamu sudah menjadi pengusaha muda yang sukses.” 

“Tidak. Itu hanya bagian dari perjalananku.” Langit terang, awan putih berarak riang di balik rimbunnya dedaunan. Diriku masih menatap barisan awan dan biru terang langit siang. “Ingatku, dalam sebuah hasil, ada proses dan tahapan yang harus kamu pahami dan sadari,” demikian pesan ibuku ketika mengajak diriku mengolah gula merah. Pesan ibuku telah terpatri dalam sanubari diriku. Dalam jejak perjalanannya, aku berusaha untuk memahami proses dan tahapannya. Tidak heran bila sekarang aku sudah menjadi seorang pegawai yang sukses dan juga menjadi seorang pengusaha. Namun sukses yang aku raih, tak membuatku bergeming ketika berhadapan dengan seorang pemuda yang menjadi kepala desa di kampung halamannya. 

“Maafkan aku,” Kamu manatap tajam ke arah mataku. “Aku tidak bermaksud mengintai atau mengintimidasimu. Tawaran dalam email yang aku kirimkan hasil dari penelitian dan pemikiran, serta perasaan selama aku menelitimu.” “Kau mengintaiku?” Tanyaku “Tidak,” jawabnya. “Aku hanya mengamatimu. Awal aku melihatmu ketika di Cafe kopi Hypermart Panembong, dan kau memaksa minta gula merah sebagai tambahan pemanis kopi. Bukan gula merah kelapa yang tanpa membuka bungkusnya, kau sudah tahu juga bahwa gula aren punya cita rasa khas sendiri yang khas dan alami sehingga gula aren punya tempat tersendiri di hari para peminatnya. Aku kagum padamu yang bisa membedakan gula merah kelapa dengan gula merah aren. Kamu sangat pintar, sehingga kamupun bisa menjelaskan apa saja manfaat dari gula aren? Aku masih ingat beberapa manfaat ini:

1. Sebagai bahan dasar pembuatan masakan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Fiksiana Selengkapnya
Lihat Fiksiana Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun