Mohon tunggu...
Nugraha Wasistha
Nugraha Wasistha Mohon Tunggu... Penulis - Penulis lepas

Penggemar bacaan dan tontonan

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Gundam, Robot yang Dewasa dan Melek Politik

7 Juni 2021   15:28 Diperbarui: 14 Juni 2021   03:12 1461
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagi sebagian orang, Gundam barangkali identik dengan model-kit yang lumayan mahal dan luar-biasa detil. Ya, ini memang benar sih. Untuk yang kelas perfect-grade benar-benar seperti merakit mesin mobil. Dan harganya bisa jutaan. Padahal cuma untuk pajangan.

Tapi buat sebagian lainnya, mungkin menganggapnya tak beda dengan sekian banyak serial kartun lain, entah dari Jepang atau Amerika, tentang robot raksasa yang berperang demi kebenaran dan keadilan. Seperti Voltus V atau Transformer. Nah, anggapan seperti inilah yang salah kaprah.

Plot cerita Gundam, apalagi di serial-serial awal, tidak berbicara tentang perang demi kebenaran dan keadilan. Bahkan serial ini berusaha meyakinkan kita bahwa perang seperti itu cuma omong kosong - meminjam kata favorit Pak Katedra, salah satu kompasioner favorit saya.

Gundam lahir dari kegelisahan animator Jepang Yoshiyuki Tomino. Dia jenuh dengan serial animasi robot yang ceritanya itu-itu saja. Sederhana, hitam-putih, dan kekanak-kanakan. Maklum, anime seperti tujuan utamanya memang untuk pemasaran action-figure. Padahal Tomino-San yakin genre ini berpotensi dijadikan sesuatu yang lebih serius dan dewasa.

Karena itulah, dia meluncurkan Kidou Senshi Gundam atau Mobile Suit Gundam 0079 pada tahun 1979. Dalam serial ini, robot raksasa tak lagi jadi sentral cerita. Hanya menjadi latar belaka. Istilahnya bukan lagi robot, melainkan mobile suit. Kira-kira bisa disamakan dengan kendaraan tempur. Nah, drama yang dialami pilot mobile suit inilah yang menjadi sajian utamanya.

Awalnya, serial ini memang tersendat sampai sempat di-cancel. Tak dinyana, ketika ditayangkan sebagai film, justru meledak dengan dahsyat. Dan penggemarnya justru lebih banyak dari kalangan dewasa.

Gundam akhirnya menjadi ikon multi produk yang terus dibuat dan dibuat lagi sampai sekarang. Dari mulai film, serial, manga, novel, sampai - tentu saja - action figure dan model-kit. Sebuah fenomena yang mungkin cuma bisa disaingi oleh film Star Wars.

Dan sama seperti Star Wars, serial maupun film-nya yang lama pun masih diedarkan sampai sekarang. Kenyataan yang saya syukuri. Terus terang, saya baru jadi otaku sekitar tahun 2000-an. Saat gelombang kedua pandemi anime melanda Indonesia, ditandai dengan menjamurnya rental dan seller VCD anime.

Pada intinya, Gundam memang anime yang bercerita tentang konflik peperangan. Mobile Suit Gundam 0079 - yang menggunakan timeline Universal Century - menceritakan konflik antara Federasi bumi melawan gerakan separatis radikal Zeon yang ingin mendirikan pemerintahan sendiri di antariksa. Ceritanya dipenuhi tragedi, intrik para elit politik, dan karakter yang serba abu-abu.

Tidak jelas siapa yang jahat dan siapa yang baik dalam cerita ini. Kita bisa menemukan tokoh yang terpuji maupun tercela di kedua belah pihak. Bahkan definisi terpuji dan tercela pun tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Jadi benar-benar terasa realistis. Seperti kenyataan politik kita yang kita lihat sehari-hari.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun