Mohon tunggu...
N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Mohon Tunggu...

Gelandangan virtual | Pecandu kata-kata | Perempuan hening dengan pikiran yang mengembara | nspertiwi19@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Rehal Gelandangan Virtual

16 Oktober 2018   21:30 Diperbarui: 17 Oktober 2018   18:07 0 8 5 Mohon Tunggu...
Puisi | Rehal Gelandangan Virtual
Sumber: Pixabay

Aku tersengal di belantara linimasa. Mencari omong-omong yang tidak kosong, mencari kabar-kabar yang bukan bohong.

Seperti ketenangan dalam kepompong, meski rembulan membiarkan serigala melolong-lolong.

Terenyak aku di bawah pohon. Ketika burung hantu yang renta dan bijaksana menghitung sisa umur umat manusia.

Aku bersila di antara luminans jamur-jamur yang takzim mendengarkan khotbah berisi keluh kesah. Melawan serapah yang megah dalam balutan sastra komedi gelap kegemaran kucing hutan dan rakun-rakun yang suka sekali bercanda.

Mereka yang bernasib paling ngenas, akan tertawa paling keras. Aturan main tidak mengenal cemas pada rahang yang nyaris lepas.

Sini, aku sampaikan rahasia-rahasia yang tinggal sia-sia.

Orang-orang ingin kembali jadi gumpalan, daging dan tulang. 

Pada masa ketika ucapan memiliki kesempatan untuk ampunan. Pada zaman tanda-tanda Tuhan masih hidup di jalan-jalan, pasar-pasar, bahkan ruang-ruang perkantoran.

Dan, menjelang tengah malam, kita akan mendengar kunang-kunang yang terbang sambil berdendang. 

Kode-kode biner bukanlah dosa, selama belum bermukim dalam persepsi dan paradigma.

***

N. Setia Pertiwi
Cimahi, 16 Oktober 2018

KONTEN MENARIK LAINNYA
x