N. Setia Pertiwi
N. Setia Pertiwi Freelance writer

Gelandangan virtual | Pecandu kata-kata | Perempuan hening dengan pikiran yang mengembara | nspertiwi19@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Gigi Bungsu dan Kopi Tanpa Gula

11 September 2018   11:52 Diperbarui: 11 September 2018   16:07 2100 10 3
Cerpen | Gigi Bungsu dan Kopi Tanpa Gula
Sumber: Pixabay

Kamu, sabar dulu. Dewasa memang begitu.

***

Aku melihat bintang senja pada kerlingnya. Bertabur cinta, sedikit guratan luka. Menambah cantik, bulu matanya menjuntai lentik. Pesona yang mengundang iri seisi ruangan dengan dominasi perempuan. Termasuk aku.

Belum tiga bulan ia hinggap di antara kami. Menjadi hantu di tengah sekumpulan kupu-kupu dan kumbang yang hanya satu. Menghuni meja kerja, tepat di hadapanku. Wajahnya polos tanpa dekorasi. Kontras dengan perempuan-perempuan lain di kantor ini. Ya, termasuk aku.

Kami yang berasal dari luar kota dan masih menanti pangeran berkuda merah, tinggal di asrama. Ketika aku dan para gadis masih sibuk dengan catok rambut dan maskara, dia sudah duduk manis di sofa. Hanyut dalam berita pagi di televisi sembari makan seporsi nasi. Jauh berbeda dengan kami yang hanya minum susu diet atau selapis dua lapis roti. 

Tapi ... lihat! Tubuhnya ramping seperti makan dua hari sekali. Lagi-lagi itu membuat kaum hawa lain sulit menerima. Tentu saja, masih termasuk aku.

Namanya sederhana, Tiara. Dia memang berbeda, tapi bukan itu alasan kami menjadi berjarak. Sebagai penggemar hingar bingar, aku tidak punya cara mendekatinya. Tiara begitu lekat dengan hening. Tidak seperti aku yang mencintai bising.

Aku dan teman-teman yakin, Tiara memiliki pikiran super brilian. Membuat kami bingung memilih topik pembicaraan. Jelas saja, dia masuk ke perusahaan kosmetik terbesar negeri ini dengan tampilan remaja masjid. Kalau bukan otak, apalagi yang memikat hati jajaran direksi.

Berkali-kali, aku ingin menyapanya. Mengajak minum kopi atau sekadar ucapan selamat pagi. Tapi berkali-kali pula aku merasa segan, ketika ia menghindar untuk bertatapan lalu beralih ke layar telepon pintar. Aku merasa menjadi pengganggu.

Lagipula, terlepas dari sikap tanpa kehangatan, Tiara rekan kerja yang menyenangkan. Ia selalu mengerjakan tugas dengan cepat dan tidak enggan bekerja sama. Hanya saja, tak ada perbincangan di luar pagar pekerjaan. Ketika kami mulai berbagi gosip, Tiara bungkam. Paling bagus, ia tersenyum padaku karena kamar kami berhadapan dan seringkali berpapasan.

Meski satu bulan pertama seantero kantor mengumbar penasaran, bulan kedua semua menyerah dan memilih melupakan. Jika dia suka menjadi fana, silahkan saja. Asalkan semua orang tetap berbahagia.

Hingga suatu pagi yang lebih dingin dari kemarin, meja kerja Tiara kosong.

Aku yang hobi terlambat selalu berangkat pukul delapan. Kamar Tiara masih berpendar. Dia sakit. Menurut teman sekamarnya, Tiara demam karena tumbuh gigi bungsu. Bukan masalah berarti. Aku pernah mengalaminya. Semua orang juga.

Aku tidak perlu ambil pusing jika dia baik-baik saja. Tapi selepas senja, suara tangis memecah sunyi lorong asrama yang ditinggal pergi para penghuninya. 

Hari ini, seperti tengah tahun sebelumnya, gaji turun berlimpahan. Berbondong-bondong, derap sepatu hak tinggi memasuki taksi, bergegas menuju karaoke dan pusat perbelanjaan. Aku memutuskan tidak ikut. Aku punya prinsip, jika harus menyanyi, aku harus dibayar dan bukan malah membayar. Sombong? Iya, biar saja.

Sempat terpikir untuk mengetuk kamar Tiara. Menawarkan bantuan, atau sekadar bertanya kabar. Bisa jadi dia menyukai kesendirian, tapi tidak ada manusia yang menggemari kesepian. Jika ini berhasil, kami bisa menjadi teman.

Tiga puluh derajat putaran jam, aku masih merangkai kata. Geming, membisu, ragu. Tiara masih bertahan dalam kesenduan. Aku hanya diam, mataku terpejam. Malam itu, isak tangis Tiara justru menjadi pengantar tidurku.

Esoknya, aku termangu mendengar gosip beredar. Tiara akan menikah dua bulan mendatang. Tersebar bagai virus flu, tidak tahu asalnya dan akan berakhir jika sudah kena semua. Aku tidak punya hak untuk ikut penasaran, tapi aku punya alasan kuat untuk kebingungan.

Aku memandangi Tiara dari balik komputer. Menerka makna tangisan semalam. Dia sedikit bermake-up, kemungkinan menutupi matanya yang sembap. Sebagai sarjana psikologi, aku paham mana bahagia dan mana luka. Tiara tidak sedang berbunga-bunga.

"Kamu kenapa tadi malam?" Tanyaku pada akhirnya saat jam makan siang. Tiara sedikit terkejut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5