Mohon tunggu...
Suprihati
Suprihati Mohon Tunggu... Administrasi - Pembelajar alam

Penikmat coretan ringan dari dan tentang kebun keseharian. Blog personal: https://rynari.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

"Tatag, Teteg (Bakal) Tutug" BerKompasiana

23 Februari 2020   23:06 Diperbarui: 9 April 2021   17:55 28143 17 11
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Tatag Teteg Bakal Tutug (Foto: dok pri)

Tatag, teteg (bakal) tutug adalah bagian dari pitutur (nasihat) dalam budaya Jawa. Nasihat yang bersifat umum, membekali diri melalui peningkatan karakter hingga tercapainya tujuan. Pitutur ini juga berlaku dalam bergiat di Kompasiana, loh.

Sebagai prolog saya akan mencoba menyajikan dalam bahasa daerah, Jawa, krama madya. Sekalian mendukung upaya banyak sahabat di Kompasiana yang bergiat melestarikan budaya lokal. Tenang, akan disambung dengan bahasa Indonesia agar pembaca tidak langsung meninggalkan artikel ini.

Tatag teteg bakal tutug, pitutur luhur

Tembung tatag mekaten, miturut Bausastra Jawa, "tanpa duwe uwas sumelang", boten nggadhahi raos was kuwatos ing samukawis. Nedahaken sikep ngadhepi rupi-rupi panggodha saking njawining pribadi.

Wondene teteg dipun paringi teges:, kukuh, ora obah-obah, panggah. Mujudaken karakter pribadi ingkang kabangun saking telenging manah. Badhe tetep madeg kadosdene ardi karang ingkang boten kentir ing samukawis.

Tembung tatag teteg ugi asring kadhapuk dados tembung saroja ingkang nggadhahi teges meh sami. Dhapukan tembung saroja kagem ngiyataken ancas. Tatag teteg, njlentrehaken piyantun kang kagungan daya tatag wah teteg. Ugi kagem nelakaken endahing rakitan basa wonten swanten kang kaambali.

Menggah tutug mekaten: dumugi, ngantos ing pungkasan, ngantos katog lan marem. Ancas tuwin sedya kang kasembadan. Nuwuhaken raos marem, mongkok ugi syukur dena sadaya kalampahan kanthi prayogi.

Tatag, teteg (bakal) tutug nedahaken bilih tutug hanamung saged kagayuh jer linambaran solah lan patrap tatag ugi teteg. Tanpa tatag miwah teteg inggih mokal tutug badhe pinanggya.

Tatag, teteg,  tangguh, tanggon, tanggap (bakal) tutug

Menurut Kamus Bahasa Jawa (Tim Penyusun Balai Bahasa Yogyakarta), tatag: tidak mempunyai rasa khawatir; tabah. Merujuk kekuatan respon pribadi terhadap tekanan dari luar dirinya.

Sifat internal keteguhan hati diwakili oleh kata teteg: kukuh; tidak bergerak-gerak; kuat hati. Tatag yang didukung oleh rasa teteg. Atau tatag dan teteg saling memperlengkapi sebagai kata majemuk. Kekuatan hati yang memampukan diri menata rasa kawatir.

Baca JugaBerkaca pada Keluhan Kompasianer Sejak 11 Maret

Tutug bermakna sampai akhir; kesampaian apa yang diinginkan. Tutug adalah sebuah proses yang bersendikan pada tatag ketangguhan menghadapi tantangan dan kemantapan pribadi yang teteg.

Petuah ini berlaku secara universal. Berlaku untuk bidang apapun juga tanpa batasan zaman. Juga melintasi sekat kesukuan bahkan bangsa.

Semisal, saat menemukan slogan ini dipasang di dinding suatu sekolah. Lembaga sekolah berikrar bahwa pendidikan bukan hanya sebatas proses transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, namun memasuki ranah pembentukan dan pengembangan kepribadian.

Biasanya, masih diikuti oleh T yang lain yaitu Tangguh, Tanggon, Tanggap. Hingga didapat 6T. Masing-masing karakter T, saling melengkapi. Tangguh berkenaan dengan daya juang. Tanggon, dapat dipercaya atau diandalkan.

Nah, kosa kata tanggap ini dapat dilihat dalam KBBI, (1) segera mengetahui (keadaan) dan memperhatikan sungguh-sungguh, (2) cepat dapat mengetahui dan menyadari gejala yang timbul. Menunjuk pada kesigapan respon.

Sifat dan sikap responsif yang melahirkan daya adaptasi, kreasi dan inovasi. Tidak hanya berpegangan pada pendapat sendiri. Mudah move on menurut bahasa kekinian dan berpikiran terbuka.

Tatag, teteg (bakal) tutug BerKompasiana

Senyatanya prinsip 3T atau malah 6T juga berlaku dalam banyak hal termasuk ngeblog lho. Bukankah kalau kita kurang tatag juga teteg, draft artikel tidak tutug. Artikel sudah rampung namun tidak tatag dan teteg tekan tombol terbitkan. Menumpuk dalam folder draf.

Setiap kompasianer yang bermain di ladang Kompasiana berbekal rasa teteg. Memiliki keteguhan dan kekuatan hati untuk menulis ataupun merespon tulisan sahabat lain. Kepercayaan diri yang bukan bersifat instan, dibangun dan ditempa oleh olah kemampuan diri.

Tatag, karakter yang dimiliki oleh warga Kompasiana. Tatag saat tekan tombol publikasikan. Tatag pula saat mendapat respon dari sahabat pembaca. Tidak jarang terjadi perbedaan pendapat. Diperlukan rasa tatag untuk memberikan dan menerima tanggapan.

Apakah rasa tatag meniadakan gamang? Tentunya tidak serta merta. Bersyukur begitu banyak sharing para sahabat pun sesepuh Kompasiana mengelola rasa gamang. Meminimalkan tidak berarti meniadakan.

Daya juang yang diwakili oleh kata tangguh. Sungguh saya belajar menyerap karakter tangguh dari berKompasiana. Membaca bagaimana perjuangan para sahabat saat membuat akun baru. Begitupun saat kesulitan login. Bahkan saat akun mendapat tepukan blokir.

Membungkus ketakutan menulis dan menyajikannya di K hanya dengan semangat tangguh, daya juang. Tangguh yang diawali oleh bibit tatag dan teteg. Tangguh adalah buah proses yang panjang.

Tanggon, pastilah karakter ini dibangun dalam iklim berKompasiana. Menyajikan tulisan yang dapat dipercaya. Memberikan topangan data yang dapat diandalkan. Begitupun menuliskan sumber gambar.

Pengelola Kompasiana juga berupaya selalu tanggon. Berupaya menjadi rumah bersama yang menyajikan artikel yang dapat dipercaya dan diandalkan. Teguran saat penulis lupa mencantumkan sumber gambar, bagian dari memelihara tanggon.

Begitupun dengan tanggap. Tanpa bekal karakter tanggap, kompasianer warga Kompasiana akan tergagap. Menikmati sajian artikel aktual bagian dari buah tanggap. Racikan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif, juga hasil dari sekolah tanggap di Kompasiana.

Rasa tutug, ungkapan puas karena kesampaian apa yang diinginkan. Setiap pemain yang terlibat dalam berKompasiana, umumnya mencanangkan rasa tutug. Tutug yang bukan lagi dimensi titik atau fase sempit.

Tutug yang menjadi capaian sementara dan bagian dari tutug yang sesungguhnya. Seandainya penulis Kompasiana sudah mencapai rasa tutug yang purna, harak tidak merakit karya berikutnya. Setiap karya adalah titik demi titik mencapai rasa tutug.

Artikel ini juga sebagai refleksi diri. Peracik artikel ini masih jauh dari pembelajar karakter majemuk tatag, teteg, tangguh, tanggon, tanggap menuju tutug. Menulis secara berkala untuk menumbuhkan keberanian. Mengulik kiat sahabat merawat dan nguri-uri tatag, teteg, tangguh, tanggon, tanggap menuju tutug.

Salam Kompasiana

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobi Selengkapnya
Lihat Hobi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan