Mohon tunggu...
Novi Saptina
Novi Saptina Mohon Tunggu... Guru berprestasi di bidang bahasa dan menaruh perhatian pada kajian sosial dan budaya

Penulis adalah guru. Dalam bidang seni, dia juga menulis skenario drama musikal dan anggota paduan suara. Penulis juga sebagai pengurus lingkungan sekolah. Pada jurnalistik, penulis adalah alumni Akademi Pers dan Wartawan dan turut berpartisipasi sebagai kolumnis koran hingga saat ini

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Sekaten, Kisah Kearifan Lokal Seorang Wali

25 Maret 2014   13:17 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:31 229 3 0 Mohon Tunggu...

Wali Sanga penyebar, agama Islam mempunyai berbagai macam cara untuk memimpin ummatnya. Sekaten adalah salah satu kearifan lokal yang memuat kebijaksanaan wali dalam penyebaran agama Islam.

Maulud Nabi

Bila bulan sudah memasuki Maulud, Bulan Hijriah, itu berarti bulan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Para wali ingin mengajak masyarakat untuk merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad tersebut. Namun apa daya para masyarakat banyak yang belum masuk Islam, masih memeluk agama sebelumnya. Maka para wali pun akan memanfaatkan momen ini untuk pengislaman masyarakat kisah dahulu kala. Namanya Sekaten, dari kata Syahadatain yang artinya kesaksian, namun entah karena lafal pengucapan yang sulit maka jadilah Sekaten.

Formula komunikasi.

Dari beberapa pemikiran ternyata para wali pun sudah menemukan cara yang sangat komunikatif. Para wali memakai media dengan membunyikan seperangkat gamelan. Padahal kita tahu sendiri, gamelan itu adalah seperangkat alat musik adiluhung yang waktu itu hanya keraton saja yang mempunyai. Namun, Wali Sanga itu juga mempunyai hubungan baik dengan keraton karena salah satu Wali Sanga itu adalah dari kalangan keraton. Sungguh merupakan tarikan perhatian yang luar biasa. Maka berbondong-bondonglah masyarakat untuk datang mendengarkan dan menyaksikan gamelan yang merdu itu.

Namun ketika akan masuk, maka para wali mengharuskan tiap pengunjung mengucapkan syahadatain yaitu kalimah syahadat yang artinya kesaksian dalam Islam. Pengunjung dipersilakan masuk dan berkumpullah sesama muslim disitu. Raja, wali, pemuka agama, tamu undungan, semua berkumpul dalam masjid besar depan keraton untuk memperingati hari lahir Nabi Muhammad, Nabi segala jaman.

Yang Terpetik

Ketika memasuki masjid para pengunjung diberikan suruh kinang jambe, ini aturannya adalah dikunyah seperti permen. Ini memang mempunyai tujuan agar para pengunjung diam tidak berbicara. Para pengunjung akan mendengarkan pengajian yang disampaikan atau pesan-pesan lain yang disampaikan dengan kondisi yang tenang.

Maka disini meskipun waktu itu tidak ada jaman sound system, namun sudah membentuk ceremonial yang sangat bagus. Pesan-pesan dari raja, pemuka agama dan para wali bisa terserap oleh masyarakat dengan baik.

Inilah suatu tehnik komunikasi dimana jaman tidak ada teori komunikasi namun para wali telah menemukan teknik komunikasi yang ampuh dalam pemasukan agama Islam yang canggih.

Suruh Temu Rose

Apa itu suruh temu rose? Yaitu daun sirih yang digunakan untuk suguhan itu adalah daun sirih yang tulang daunnya membentukseperti tulang iga, saling bertemu. Kenapa demikian sebetulnya ini adalah pendidikan lingkungan. Daun sirih itu memang dalam kondisi yang sudah matang tidak terlalu muda juga tidak tua, dan ketika daun sirih seperti ini dilepas dari batangnya maka disitu akan membantu tunasbaru akan tumbuh sebagai cabang batang dan daun lagi.

Maka daun sirih akan tumbuh subur dan rimbun Dan dalam tata cara memetiknya, bila dengan memilih-milih seperti itu akan memperlakukan tanaman sirih itu dengan lembut tanpa diperlakukan kasar. Juga dengan seperti itu, daun-daun yang sudah menguningbisa jatuh dengan sendirinya bisa menjadi pupuk hijau dari daun, atau bisa diambil dimasak sebagai minyak sirih, dan lain-lain.

Prosesi

Puncak acara sekaten itu adalah Gunungan, yaitu semacam rangkaian bungan namun berbahan sayuran makanan, dibentuk tinggi menjulang seperti sesaji di Bali namun lebih besar lagi, dan ini bukan untuk sesaji namun memang untuk dibagikan kepada pengunjung. Sebetulnya maksud hati seluruh pengunjung bisa memamakan sajian itu, namun banyaknya pengunjung maka tidak akan mencukupi hidangan yang telah dihias-hias sangat bagus itu.

Maka semua itu dihidangkan dan diambil pengunjung sebagai kenang-kenangan yang diperoleh dari keraton tempat pusat budaya adiluhung itu. Gunungan itu berjumlah dua layaknya pasangan didunia ini ada terang ada gelap,suka duka, sedih gembira, maka gunungan itu dibuat sepasang agar mengingatkan pada keseimbangan dunia itu.

Sebelum itu prosesinya adalah gunungan dibawa secara arak-arak an dari keraton menuju Masjid Agung yang letaknya tidak jauh dari keraton. Sudah bisa ditebak, arak-arakan itu pasti menarik karena semua yang dari keraton keluar dengan dandanan dan hiasan yang sangat indah. Tontonan yang memanjakan mata yang memandang, karena serba indah. Hati menjadi gembira pada perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tata Letak Keraton

Suyatno Kartodirdjo, menyebutkan Raja mempunyai kemampuan mendesain tata bangungan keraton dengan benteng yaitu pengamanan yang berlapis. Sedangkan keraton yang dekat dengan alun-alun kota, memudahkan Raja dalam mengumpulkan masyarakat di alun-alun. Didekat alun-alun itu terdapat masjid dan pasar, ternyata dapat dilihat kepiawaian raja dalam memantau perekonomian dan agama pada masyarakatnya.



Di Keraton itu ada Pangggung Sangga Buwana, bentuknya adalah menara tingggi, disinilah raja memantau masyarakatnya dengan sangat real. Demikianlah, Kebanggaan kita bangsa Indonesia, yang mempunyai keturunan orang-orang yang sangat cerdas mengelola bangsa negaranya dengan sangat arif. Hendaknya kita sekalian mempelajari kearifan lokal seperti ini agar menjadi arif di kemudian hari.

( Novi Saptina )

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x