Mohon tunggu...
Noer Ima Kaltsum
Noer Ima Kaltsum Mohon Tunggu... Guru - Guru Privat

Ibu dari dua anak dan suka menulis

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Candi Sukuh Desa Berjo Kec. Ngargoyoso Kab. Karanganyar Jateng dan Kain Kampuh

24 April 2016   16:02 Diperbarui: 24 April 2016   16:20 328
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Dari depan candi, sumber dok.pri"][/caption]Hari Minggu, 17 April 2016 yang lalu, saya mengunjungi tempat wisata Grojogan Sewu, Kec. Tawangmangu, Kab. Karanganyar. Hari ini, Minggu, 24 April 2016 saya menikmati keindahan alam di desa Ngargoyoso. Tujuan utama saya adalah Candi Sukuh. Saya penasaran dengan cerita orang-orang yang telah mengunjungi candi orang Hindu.

Namanya juga berwisata dengan tak banyak merogoh kantong, maka obyek wisata di Kab. Karanganyar perlu saya kunjungi. Saya diantar suami dan ditemani si kecil si Thole. Rasanya senang, pagi hari diawali dengan menyantap sarapan bubur tumpang lauk telur dan minum teh panas.

[caption caption="Karanganyar punya Patung Semar, sumber dok.pri"]

[/caption]Rute yang dipilih adalah dari terminal Karangpandan melalui Patung Semar, lalu dilanjutkan ke arah pondok Isy Karima. Dari sini kemudian berkeliling desa-desa terlebih dahulu. Jalan yang kami tempuh tidak mudah. Meskipun jalannya sudah bagus tapi medannya sungguh berat. Naik turun, dan tanjakannya super ekstrim. Bagi yang akan mencoba gowes dari Karanganyar menuju Candi Sukuh, mohon survey ke lapangan dulu.

Akhirnya sampai di kawasan Candi Sukuh. Lokasi Candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1186 meter di atas permukaan laut. Candi ini terletak di Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 km dari kota Karanganyar dan 36 km dari Surakarta.

[caption caption="Yang masuk wajib membeli tiket, sumber dok.pri"]

[/caption]Ketika saya berkunjung di kawasan Candi Sukuh, saya lihat candi sedang dilakukan pemeliharaan/perbaikan. Batang-batang kayu berada di sekeliling dan di atas candi.  Saya hanya berada di luar pagar candi dan sekitarnya. Konon, candi ini termasuk bentuknya tidak lazim sebagaimana candi-candi yang berada di Jawa Tengah.

Kebetulan ketika saya datang, pengunjung belum begitu banyak karena masih pagi. Menurut petugas yang berada di loket pembelian tiket, biasanya kalau hari libur pengunjungnya lebih banyak daripada hari biasa. Lebih-lebih, pas ada peringatan hari Besar Agama Hindu, misalnya Nyepi, pengunjungnya banyak, terutama umat Hindu yang akan melaksanakan ibadah.

Sampai di loket, saya melihat kertas yang ditempel pada kaca, harga tiket masuk untuk pengunjung lokal/nusantara sebesar Rp. 7.000,00/orang dan Rp. 25.000,00/orang untuk wisatawan manca Negara (wisatawan asing).

Setiap pengunjung wajib memakai kain kampuh. Kain kampuh bermotif kotak-kotak hitam putih. Mengapa pengunjung wajib memakai kain kampuh? Sebab, dengan kain kampuh ini petugas bisa membedakan antara pengunjung yang membeli tiket dan masuk lewat pintu masuk dengan pengunjung selundupan (eh, pengunjung tidak resmi karena tidak membeli tiket).

[caption caption="Pengunjung wajib mengenakan kain kampuh, sumber dok.pri"]

[/caption]Kain kampuh ini bisa dipinjam dengan memberikan dana sekedarnya saja. Jadi, tiket tujuh ribu rupiah tadi belum termasuk mendapatkan pinjaman kain kampuh. Karena saya tidak masuk (tidak membeli tiket) dan melihat dari dekat candi, maka saya tidak memakai kain kampuh. Tapi saya bisa mengambil gambar dari pengunjung yang baik hati, keluarga kecil terdiri dari ayah, ibu dan dua anaknya. Wah, bagus banget ternyata. (Terima kasih pak, nanti bisa dilihat di google ya).

[caption caption="Pengunjung resmi, berkain kampuh, sumber dok.pri"]

[/caption]Ketika saya bertanya-tanya pada petugas, saya tidak tahan dengan bau dupa yang menyengat. Saya tidak biasa menghirup bau dupa atau kemenyan. Di mana pun saya berada, bila mencium/menghirup bau kembang, dupa atau kemenyan kepala saya agak pusing. Tapi saya tetap bertahan, karena hanya sebentar saja.

Setelah itu saya, suami dan Thole meninggalkan kawasan Candi Sukuh. Selamat Tinggal Candi Sukuh, kapan-kapan saya akan mengunjungi candi yang terletak tidak jauh darimu, yaitu Candi Cetho.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun