Mohon tunggu...
Nana
Nana Mohon Tunggu... Indonesia Negaraku

mengekspresikan hati dan pikiran melalui tulisan | berbateeq.com

Selanjutnya

Tutup

Travel Artikel Utama

Menjelajahi Makam Raja Mataram Imogiri dengan Sedikit Kemistisannya

3 Desember 2019   22:57 Diperbarui: 4 Desember 2019   23:33 0 24 12 Mohon Tunggu...
Menjelajahi Makam Raja Mataram Imogiri dengan Sedikit Kemistisannya
Gapura pertama saat memasuki kompleks-kompleks pemakaman para Raja | Dokpri

1 Desember kemarin, saya baru tahu ada pariwisata Pemakaman Raja Mataram yang dibagi dua lokasi, yakni Pemakaman Imogiri dan Pemakaman Kota Gede. 

Tadinya saya ingin mengajak ibu saya berwisata ke tempat yang sarat akan budaya saja. Apa daya link di Google selalu menunjukkan Pemakaman Raja Mataram sebagai salah satu objek wisata yang patut dikunjungi. Masalahnya bukan apa, saya dan Ibu sama-sama takut urusan gituan. Hehe.

Tapi karena saya pikir mungkin Pemakaman Raja tersebut sedang hits, maka saya memutuskan untuk mengunjungi Pemakaman di Imogiri saja, karena saya pikir sama saja. Beberapa link yang saya baca tidak disebutkan perbedaan dari kedua pemakaman tersebut.

Cuaca sangat panas sekali, belum lagi hawa pun sangat menyengat. 

Tiba disana, kami dihampiri oleh petugas parkir, dan ditanya dengan sopan mau pemandu wisata atau tidak. Tentu kami memilih untuk ada pemandu supaya paham makna dan sejarah dari Pemakaman Para Raja Mataram.

Sang pemandu wisata yang sudah berusia agak senja menanyakan kami ingin naik tangga sejumlah 409 anak tangga atau naik ojek seharga Rp 10.000,00. Mengingat kesehatan Ibu saya dan begitu teriknya matahari, kami memilih naik ojek. 

Harga pemandu wisata pun minimal Rp 50.000, kalau mau dilebihkan tidak apa-apa.

Bercerita sedikit tentang anak tangga tersebut, ternyata ada filosofi dari sang anak tangga yang sangat Islami, dimana angka 400 artinya menghadap kiblat dengan kemiringan 45 derajat, dan 9 artinya sembilan Wali Songo.

Konon, kalau kita menaiki anak tangga dan bisa menghitungnya dengan tepat, maka permohonan kita akan dikabulkan. Dan saya baru tahu ini setelah pulang dari makam. Jadi alhasil kunjungan saya tiada permohonan. Hehe.

Nah, disana juga ada cerita bahwa ada jenazah yang dipotong menjadi 3, yakni tangga menuju Gapura Supit Urang, kemudian pada Gapura itu sendiri dan sisi kanan kolam.

Jenazah tersebut adalah Tumenggung Endranata, yang dikenal sebagai pengkhianat Mataram, dimana dia membocorkan informasi kepada VOC kala Sultan Agung sedang gencar menaklukan Jayakarta. 

Sebagai hukuman, Tumenggung Endranata pun dihukum mati dan jenazahnya dipotong menjadi 3 bagian yang akan dilalu lalang oleh orang yang lewat.

Sultan Agung ingin memberikan pelajaran sekaligus peringatan pada semua abdi kerajaan beserta masyarakat, mati secara tidak terhormat akan diberikan bagi pengkhianat kerajaan. 

Beruntung ya koruptor zaman sekarang hanya kena sanksi beberapa tahun. Hehe. 

Sesampainya depan Gapura paling depan, sang pemandu wisata mengatakan kalau kami termasuk pengunjung yang beruntung karena Kompleks Pemakaman Sultan Agung sedang dibuka. 

Akan tetapi, kompleks pemakaman Sultan Paku Buwono I - XII, dan Hamengkubuwono I-VI sedang ditutup. Yang dibuka hanya Kompleks Pemakaman Sultan Hamengkubuwono VII-IX dan Kompleks Pemakaman Sultan Agung.

Makam Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo, Arsitek Komplek Pemakaman Raja Mataram | Dokpri
Makam Kyai Tumenggung Tjitrokoesoemo, Arsitek Komplek Pemakaman Raja Mataram | Dokpri

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN