Mohon tunggu...
Najwah Ap
Najwah Ap Mohon Tunggu... Penulis - Mengungkapkan perasaan dengan kata-kata. Pelajar penyuka sastra dan bahasa asing.

Penyuka musik barat, kpopers dan sastra

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Pembalasan | Bagian 2

15 Maret 2020   14:31 Diperbarui: 15 Maret 2020   14:29 76
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Kau coret penuh derita lama berkabut tebal

Menabur benih tumpul pada wajah palsunya

Kau tahu apa?

Seribu kali kutahan layangan itu.

Guru perempuan itu tersenyum melihat puisi karya salah satu anak muridnya. Jika dibanding puisi teman-temannya yang lain, si guru bisa tahu bahwa hanya anak itulah yang tak menyalin dari google. Hm, bakat yang terpendam. Si guru jadi berpikir untuk mengikutsertakan muridnya itu pada perlombaan menulis minggu depan. 

      "Rifda?"

    Si gadis yang tengah menulis cerpen itu menoleh, lalu berjalan menuju meja guru. Menatap si pemanggil bingung. 

    "Ini kamu tulis sendiri?" Tanya guru itu yang dibalas anggukkan. 

     Si guru tersenyum, lalu memberikan buku bersampul biru itu kepada si anak, menyuruhnya duduk kembali. 

    "Puisimu bagus, kembangkan terus, ya!" Ujar si guru sebelum anak itu kembali duduk. 

     si anak hanya menangguk pelan. Ia menatap kembali puisinya, tersenyum ketika nilai 96 tercetak dengan tinta hitam. Menandakan betapa bagus hasil tulisannya yang hanya membutuhkan waktu satu menit itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun