Mohon tunggu...
Widi Utami
Widi Utami Mohon Tunggu... Freelancer - Blogger. Home Based Education dan Bahasa Ekspresi Enthusiast.

Deaf Blogger | Sahabat Tuli Salatiga | CEO & Founder Rumah Pelangi | Full Time Mother at Home |

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Makan Sehat Tanpa Bikin Kantong Jebol dengan Pangan Lokal

29 Februari 2020   10:57 Diperbarui: 29 Februari 2020   11:08 244
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Usai subuh di akhir tahun 2018 keluarga kami panik karena jantung suami tiba-tiba berdetak sangat kencang. Kami segera ke dokter dan disimpulkan bahwa jantung yang berdetak sangat kencang sampai 150 kali per menit diakibatkan karena asam lambung yang naik. Drama tidak berhenti disini. Jantung yang berdetak sangat kencang itu sering datang tanpa permisi. Disertai dengan anxiety, rasa cemas berlebihan, seolah-olah kematian sudah dekat. 

Beberapa kali kami mengunjungi dokter spesialis penyakit dalam sub spesialis Gastroenterologi. Menemui beberapa teman yang pernah mengalami gejala yang sama. Membaca berbagai jurnal dan cerita di laman internet. 

Demi mencari tahu ada apa gerangan dengan tubuh suami yang biasanya tahan banting. Hingga akhirnya jantung yang berdetak kencang, anxiety, ulu hati yang nyeri, perut yang begah, rasa mual yang terus-menerus menerjang bermuara pada satu jenis penyakit, GERD.

GERD, gastroesophageal reflux disease, penyakit yang dikenal dengan asam lambung, ditandai dengan naiknya asam lambung ke tenggorokan disertai rasa begah pada perut, nyeri di ulu hati, pada gejala yang parah, penderita GERD juga merasakan detak jantung yang sangat kencang. GERD adalah sebuah tanda bahwa ada yang tidak beres dengan saluran pencernaan. Ada yang menemukan lukanya di lambung, ada juga yang mengalami rusaknya vili-vili usus.

Ikhtiar keluarga kami untuk menyembuhkan GERD tanpa ketergantungan pada obat mengantarkan kami pada pola makan sehat Food Combining. Pola makan yang memperbanyak asupan buah dan sayur. 

GERD telah mengantarkan kami untuk lebih memperhatikan asupan nutrisi keluarga. Jika dulunya cuek dengan kecukupan asupan nutrisi keluarga, kini benar-benar memperhatikan apakah asupan buah, sayur, karbo hingga kacang-kacangannya cukup.

Benarkah Pola Makan Sehat Membuat Kantong Jebol?

Iya, perubahan pola makan sehat membuat kantong jebol. Keuangan keluarga kami kocar-kacir. Biasanya belanja cukup beli sayur, tempe dan cabe. Sekarang musti lengkap dengan aneka buah, sayur, protein nabati, protein hewani. Yang terasa paling menguras kantong adalah buah. Apalagi saat awal-awal kami masih pilah-pilih buah.  

Seiring waktu, kami semakin memahami bahwa kunci pola makan sehat ada di kandungan nutrisinya, bukan jenis pangannya. 

Ibu Anung Nurrachmi, praktisi Food Combining yang menjadi mentor kami dalam melakoni salah satu pola makan sehat ini berulang kali mengingatkan untuk mengkonsumi bahan pangan lokal yang sedang musim. Enggak perlu mencari-cari bahan pangan yang bukan musimnya hanya karena tergoda dengan resep orang lain. 

Kami tidak neko-neko mencari garam himalaya, toh kita punya garam krosok ataupun garam halus yang kandungannya mirip dengan harga yang jauh lebih murah. Minyak zaitun kami ganti dengan VCO yang bisa dibuat sendiri dengan kelapa yang melimpah ruah di negeri ini. Kami tidak tergoda dengan safron yang harganya ratusan ribu, toh, negeri kita tercinta mempunyai kayu secang yang sama-sama membuat warna air berubah menjadi merah. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun