Mohon tunggu...
Mustafa Afif Abd
Mustafa Afif Abd Mohon Tunggu... Berimajinasi. Bernarasi. Berbagi.

| kuli besi tua | penyuka MU & Real Madrid | twitter : @mustafa_afif | niatkan ibadah, seluruhnya |

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Sebelum Pesona Jokowi Pudar, Gibran Perlu Setitik Sinar

8 Oktober 2019   19:59 Diperbarui: 8 Oktober 2019   20:06 0 6 3 Mohon Tunggu...
Sebelum Pesona Jokowi Pudar, Gibran Perlu Setitik Sinar
news.detik.com

Saat ini, Jokowi adalah seorang Presiden dan hingga lima tahun ke depan, jika tak ada aral melintang, ia akan tetap menjadi Presiden. Tapi, diakui atau tidak, percaya atau tidak; pesonanya akan terus memudar. 

Setidaknya, dua tahun menjelang Pemilu 2024 nanti, nama-nama yang potensial untuk menjadi penggantinya akan sering diperdengarkan, secara massif diperkenalkan, untuk memenuhi hingar-bingar nasional.

Jokowi, pelan tapi pasti, akan mulai ditinggalkan. Tak lagi menjadi fokus pembicaraan. Tak lagi menjadi pusat pemberitaan. Satu-satunya cara untuk membuatnya tetap bertahan adalah sejauh mana ia ingin dianggap sebagai Presiden yang meninggalkan banyak legacy: soal perbaikan infrastruktur, meningkatnya perekonomian, membaiknya sistem kesehatan dan pendidikan, terselesaikannya masalah-masalah sosial terutama yang berkaitan dengan kasus-kasus HAM, dan lain sebagainya.

Sebagaimana pernyataannya, bahwa ia memimpin tanpa beban seharusnya seperti itu pula ia menyelesaikan tugas dan amanahnya sebagai Presiden. Berakhir tanpa beban dan pantas dikenang! Mampukah? Kita tunggu saja beberapa tahun ke depan.

Setelah tidak lagi menjadi Presiden, Jokowi akan menjadi warga biasa yang tetap istimewa pada titik tertentu karena "kemewahan" yang diberikan oleh negara. Namun seperti kita tahu, sejarah Jokowi adalah sejarah tentang sosok yang "bukan siapa-siapa". 

Ia tak memiliki kerabat dengan tokoh, menteri, jenderal, apalagi Presiden sebelum-sebelumnya. Ia besar dengan caranya sendiri sebagai pengusaha kayu sukses, lalu ditakdirkan untuk menjadi pemimpin.

Setelahnya, Jokowi akan menjadi Tokoh Bangsa, Tokoh Nasional, dan pada perkembangannya barangkali akan menjadi Bapak Bangsa dengan gelar Presiden Ke-7 Republik Indonesia.

Jokowi tidak memiliki partai, maka tak mungkin ia akan menjadi Ketua Umum Partai. Jokowi hanyalah petugas partai di PDI-P, dimana selama Megawati masih sehat, tak ada yang akan menggantikannya. Bahkan ketika Megawati sudah pensiun dari partai sekalipun, misalnya, telah ada yang diproyeksikan untuk menggantikannya: penerus dari trah Soekarno, Puan Maharani atau mungkin Prananda. Mustahil juga ketika seorang mantan Presiden akan menjadi Ketua DPP PDI-P. Gak keren banget, kata anak-anak milenial zaman now.

Jokowi, berbeda dengan Megawati dan SBY, yang meskipun tidak lagi menjabat Presiden, bisa secara otomatis menjadi Ketua Umum partai. Minimal, meski tak lagi menjadi fokus pemberitaan, keduanya tetap menjadi "dewa" di partainya masing-masing dan statement keduanya tetap menarik karena bisa mempengaruhi konstelasi dan eskalasi politik nasional. Apalagi sama-sama partai besar.

Jokowi juga berbeda dengan Almarhum Gus Dur yang pergaulannya sangat luas, tanpa batas dan sekat. Dengan itu, selepas tak menjadi Presiden ia tetap melanjutkan kerja-kerja kemanusiaan. 

Gus Dur bahkan mendapatkan banyak sekali penghargaan dari organisasi-organisasi internasional yang, rasanya, tak akan didapatkan oleh manusia lainnya di Indonesia ini. Kehebatan itu semakin lengkap ketika dikaitkan dengan kebesaran sejarah para pendahulunya: Kiai dan NU.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x