Mohon tunggu...
Muslihudin El Hasanudin
Muslihudin El Hasanudin Mohon Tunggu... jurnalis -

journalist and more

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Menikmati Keramahan Wamena: The Real of Papua

22 Agustus 2017   15:51 Diperbarui: 26 Agustus 2017   08:09 9869
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Saya bersama anak-anak Wamena di Desa Kurulu Distrik Jiwika tempat Mumi Jiwika disimpan (foto dindin)

Selaras dengan konsep nawacita Jokowi-JK, pemerintah telah membangun dan memperbaiki kualitas bandara-bandara di daerah. Bandara-bandara yang tadinya tidak tersentuh, kini mulai digalakkan pembangunan infrastrukturnya-termasuk di Papua.

Bersama anak-anak muda Wamena (foto dindin)
Bersama anak-anak muda Wamena (foto dindin)
Seperti diceritakan Haryadi seorang pengusaha rental yang saya temui di Wamena, harga BBM di Wamena dulu bisa mencapai Rp 70 ribu sampai Rp 100 ribu per liter. Kini kalau pakai kupon beli di SPBU ya sama seperti di Jawa Rp 6 ribuan perliter, kalau beli eceran ya sekira Rp 13 ribuan. "Kalau dulu di sini bisa Rp 70.000 -Rp.100.000 per liter, sekarang tidak lagi ada cerita itu," kata Haryadi.

"Ya memang belum semua harga berubah. Air mineral kemasan misalnya untuk ukuran 1,5 di toko-toko masih dijual Rp 25 ribu per botol. Karena kan bawanya masih pakai kargo pesawat. Jadi harga jualnya mahal. Makan di warung ya sekira Rp 30-40 ribu. Kalau rokok malah tidak beda jauh harganya dengan di Jawa," imbuh Haryadi

Yang paling menggembirakan, kini Wamena sudah bisa diakses lewat jalan darat via Mamugu, Habema. Tadinya akses jalan ini tertutup hutan, namun TNI bersama Kementrian PUPR berhasil membukanya. Saya dan tim berkesempatan menyusurinya.

Jalan sepanjang 284,3 km tersebut merupakan bagian dari megaproyek pembangunan jalan transpapua sepanjang 3.800 km yang dikebut penyelesainnya oleh pemerintah. Walaupun belum beraspal semua, namun akses jalan sudah padat dan bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.

Jalan Transpapua Wamena-Nduga (foto dindin)
Jalan Transpapua Wamena-Nduga (foto dindin)
Sungguh  pengalaman yang tidak terlupakan bisa menyusuri pegunungan Wamena yang masih perawan Udaranya sejuk, alamnya asri, dan penduduknya menurut saya tidak seperti anggapan banyak orang-cukup ramah.

"Asalkan kita baik dengan mereka, tentu mereka tidak akan mengganggu kita. Yang penting dalam perjalanan selalu sedia rokok, coklat, dan uang kecil sebagai tanda persahabatan jika bertemu mereka," kata Ryan pemandu kami.

Seperti dalam perjalanan menuju Habema saat beristirahat untuk mengambil foto, kami dihampiri seorang seorang pria paruh baya yang hanya mengenakan koteka. Namanya Matius. Usianya sekira lima puluh tahun, Ia ditemani istrinya, Maria.

Kami kemudian banyak berbicang dan menjadi akrab. Seperti kebanyakan orang Papua, ia sangat fasih berbahasa Indonesia. Matius bercerita bahwa dirinya sedang menuju daerah atas dekat Habema untuk memeriksa kayu-kayu yang ia kumpulkan. Besok ada pembeli yang akan membawa kayunya ke kota. Ia harus memastikan kayu-kayunya aman dari jamahan orang-orang tidak bertanggung jawab.

Menikmati Danau Habema, dari air tawar di pucak gunung (foto dindin)
Menikmati Danau Habema, dari air tawar di pucak gunung (foto dindin)
Setelah berbagi rokok dan sedikit rupiah dengannya, kami melanjutan perjalanan. Ia dan istrinya mengucapkan terima kasih dan menyalam erat tangan kami. Dari kejauhan kami lihat Matius dan istrinya melanjutkan perjalanan dengan berjalan beriring, membelah pagi Pegunungan Wamena yang masih berkabut. Tidak tahu berapa puluh kilometer lagi jalan yang akan ia susuri.

Matius dan istrinya, bisa jadi merupakan gambaran hidup dan kehidupan orang-orang Pegunungan Wamena. Sangat bersahaja, sederhana, seadanya, tetapi bisa jadi ia jauh merasa lebih bahagia dari kita yang tinggal dalam hiruk pikuknya kota.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun