Mohon tunggu...
Mas Idi
Mas Idi Mohon Tunggu... Lainnya - Pengelantur

Pencinta Mitologi, Mistisme, hingga demonology, menulis hanya sekedar hiburan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

The Lost Essence of Fantasy

7 Maret 2024   16:39 Diperbarui: 20 Maret 2024   00:03 174
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Lloyd Alexander (speculativefiction.fandom.com)

The Lost Essence of Fantasy 

Once committed to his imaginary kingdom, the writer is not a monarch but a subject. Characters must appear plausible in their own setting, and the writer must go along with their inner logic, Happenings should have logical implications. Details should be tested for consistency. Shall animals speak? If so, do all animals speak? If not, then which --- and how? Above all, why? Is it essential to the story, or lamely cute? Are there enchantments? How powerful? If an enchanter can perform such-and-such, can he not also do so-and-so?

- The Flat-Heeled Muse (1965) by Lloyd Alexander 

"The kids love reading fantasy because of the story's adventure, and the adults love reading fantasy because of the story's symbolism."

Hal ini ternyata betul, mungkin ini menurut saya juga. Fantasy merupakan genre terkuno dari beragam genre, genre ini telah mengeksplorasi perilaku dan pola hidup manusia, dengan beragam cerita hingga makhluk. Oleh karena itu, salah satu aspek fantasi yang terus melekat di dalam sebuah cerita ialah, "Fantasy provides metaphors through which we can examine aspects of life from different perspective."

Iblis di dunia fantasi, kenapa kok bijak dan baik? Apakah ini eksploitasi kejahatan? Sedangkan malaikat atau deity di dunia tersebut bertentangan dengan sifat iblis di dunia tersebut. Hal ini bisa menjadi sebuah metafora di dunia asli, manusia seringkali menyalahkan iblis atas kesalahannya sendiri, "Bisikan setan itu!" Padahal dirinya yang melakukan perbuatan tersebut, membuat fantasi sebagai jalan kabur dari realitas.

Contoh lain anime atau kartun Jepang yang sedang naik daun, Frieren, banyak sekali orang yang menyukai cerita ini. Cerita setelah raja iblis dikalahkan, yang berfokus pada sesosok Elf berumur panjang bernama Freiren.

Apa yang istimewa dari cerita ini? Cerita ini berfokuskan ke dinamika hidup atau metafora hidup. Hidup panjang yang dialami Elf Freiren merupakan sebuah anugrah dan sebuah kutukan.

Kita bisa melihat metafora perjalanan Frieren, ia kehilangan temannya karena ia hidup lebih lama. Ia kesulitan mencari buku yang ia belum baca, karena ia sudah membaca banyak sekali buku. Hal ini merupakan sebuah simbol ketika seseorang hidup terlalu lama. 10 tahun dari hidupnya akan berasa 1 tahun, 100 tahun dari hidupnya akan berasa 10 tahun. "Immortality can be a curse and a gift." Lalu kita akan berpikir lebih dalam, Frieren akan kehilangan muridnya suatu saat nanti, jadi ia akan kehilangan beberapa temannya lagi, bukan teman lamanya, melainkan teman barunya.

Sedangkan cerita fantasi lainnya, mereka tidak mengeksplor dinamika ini, yang mereka eksplor adalah kekuatan, dan aksi, jadi semakin hidup lama maka semakin kuat, sehingga metafora ini tidak dapat, dan mungkin bakal disukai anak-anak, seperti yang di atas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun